18 April 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Desainer Muda PCU Segarkan Kain Tradisional Lewat Inovasi Fashion

55 / 100 SEO Score

desainer PCU

Surabaya – Warisan budaya Indonesia kembali bersinar lewat karya para desainer muda dalam Innofashion Show 7, ajang tahunan yang digelar Program Studi Textile and Fashion Design (DFT) Petra Christian University (PCU). Mengusung tema “Illumine”, pertunjukan ini menghadirkan sentuhan segar pada kain-kain tradisional lewat eksplorasi kreatif dan teknologi mutakhir.

Acara yang berlangsung pada Kamis (17/7/2025) di Atrium Sky Light Garden, Ciputra World Surabaya, menjadi panggung bagi 25 koleksi dengan total lebih dari 80 look, masing-masing mencerminkan keberanian dalam mendobrak batas tradisi, sembari tetap menghargai akar budaya.

Menurut Dibya Adipranata Hody, S.E., M.M., selaku dosen pembimbing, Innofashion memberi ruang eksplorasi bagi mahasiswa untuk mengembangkan personal branding dengan nilai dan integritas. “Kami ingin mahasiswa tumbuh dengan pola pikir berkembang (growth mindset), serta merayakan keunikan masing-masing dalam karya mereka,” terang Dibya.

Tidak hanya menampilkan peragaan busana, rangkaian acara Innofashion Show 7 juga meliputi exhibitionworkshopcompetition, dan talkshow. Pameran berlangsung lima hari mulai 16–20 Juli 2025, memamerkan hasil proyek kelas berbasis teknologi AI dari mahasiswa DFT PCU. Sejumlah karya unggulan menarik perhatian, dan inilah diantara karya-karya menarik para mahasiswa. Blossom of Heritage karya Prisca Miracle Cokro mengangkat motif tenun Bugis “pucuk”, koleksi ini hadir dengan gaya modern yang menyasar Gen Z. Perpaduan jacquard dan denim menciptakan nuansa elegan dan kasual. Detail seperti scalloped hems dan bordir bunga menjadikan warisan budaya tampil kontemporer.

Isabella Dea Rengelia dengan karya berjudul: Endless, didedikasikan untuk perempuan bertubuh mungil (petite), koleksi ini memadukan keanggunan batik bledak Solo dengan desain modern yang proporsional. Siluet feminin menghubungkan masa lalu dan masa kini secara elegan. Ada juga karya Vina Marcellina berjudul: Lurique, adalah sebuah revitalisasi kain lurik lewat blazer semi-formal perempuan, Vina memadukan motif kontemporer, teknik patchwork, dan detail 3D. Desain ini mengusung warisan lokal ke panggung mode modern dengan gaya tegas dan elegan.

Naomee Annetta dengan karya berjudul: Metanoia: Shedding, Evolving, Becoming berkisah dari isu deadstock, Naomee melakukan upcycling dengan menjadikan sisa busana tak terpakai sebagai karya bermakna. Terinspirasi metamorfosis kupu-kupu, koleksi ini menjadi simbol perubahan dan kelahiran kembali. Sedangkan Jessica Dorotht Limanta membuat Avant Garde Life Cycle yang menampilkan karya patung hidup dengan siluet avant-garde, Jessica menggabungkan busana dan aksesori logam hasil kolaborasi dengan UMKM “Nio El” dari Sidoarjo. Koleksi ini menggambarkan siklus kehidupan dalam rupa mode yang ekspresif dan bermakna.

Valen Hayley Handoko menggarap karya Tenun Goes Global yang terrinspirasi pengalaman magang di Thailand, Valen menciptakan koleksi avant-garde menggunakan tenun endek Bali. Lima tampilan koleksi ini menjembatani nilai budaya dengan estetika global yang modern dan elegan. Dan Erica Christian dengan karya yang diberi judul: Silhouette & Sonata berangkat dari isu overconsumption dijawab Erica lewat desain modular yang memberi opsi gaya dalam satu busana. Berangkat dari design thinking, karya ini ditujukan untuk Gen Z agar lebih bijak dalam konsumsi fashion dan menciptakan tren berkelanjutan.

Sebagai laboratorium kreatif bagi para desainer muda, Innofashion Show bukan sekadar peragaan busana, tapi juga panggung transformasi budaya. Dari kain-kain tradisional yang ditenun penuh filosofi, lahirlah karya-karya penuh semangat zaman sebuah jembatan antara warisan dan masa depan fashion Indonesia. info/red

55 / 100 SEO Score