
Surabaya – Inflasi Jawa Timur pada Agustus 2026 mencapai 3,32 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan harga konsumen tersebut terutama dipicu oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, makanan, minuman dan tembakau, serta transportasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat, inflasi tahunan tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,65 pada Agustus 2025 menjadi 112,26 pada Agustus 2026.
Plt Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati mengatakan, secara bulanan Jawa Timur juga mengalami inflasi sebesar 0,34 persen pada Agustus 2026. Sementara secara kumulatif sejak awal tahun, inflasi tercatat sebesar 1,82 persen.
“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi year on year sebesar 3,32 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 112,26,” kata Herum dalam rilis BPS Jawa Timur, Selasa (1/9/2026).
Angka inflasi tahunan tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan Agustus 2025 yang tercatat 2,17 persen dan Agustus 2024 sebesar 2,05 persen.
BPS mencatat seluruh 11 kelompok pengeluaran mengalami inflasi secara tahunan pada Agustus 2026.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi sebesar 9,09 persen dengan andil terhadap inflasi Jawa Timur sebesar 0,64 persen. Kenaikan terutama berasal dari emas perhiasan yang memberikan andil 0,52 persen.
Selain emas perhiasan, sejumlah komoditas lain seperti pasta gigi, pembalut wanita, dan bedak juga ikut memberikan tekanan terhadap inflasi.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau juga menjadi penyumbang utama inflasi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,36 persen dengan andil 1,20 persen terhadap inflasi tahunan Jawa Timur.
Daging ayam ras menjadi salah satu komoditas dengan kontribusi terbesar, yakni 0,29 persen. Selanjutnya, daging sapi, cabai rawit, dan minyak goreng masing-masing memberikan andil 0,13 persen, sedangkan beras menyumbang 0,11 persen.
Namun, sejumlah komoditas pangan masih mampu menahan laju inflasi. Bawang merah memberikan andil deflasi 0,18 persen, telur ayam ras 0,11 persen, kelapa 0,05 persen, dan tomat 0,02 persen.
Tekanan inflasi juga berasal dari kelompok transportasi yang mencatat inflasi tahunan sebesar 4,65 persen dengan andil 0,58 persen.
Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi harga bensin dengan andil 0,24 persen dan angkutan udara sebesar 0,20 persen. Sepeda motor memberikan andil 0,05 persen, sedangkan mobil sebesar 0,03 persen.
Meski mencatat inflasi secara tahunan, kelompok transportasi justru mengalami deflasi secara bulanan sebesar 0,18 persen pada Agustus 2026. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi tarif angkutan udara yang memberikan andil deflasi 0,17 persen dan bensin sebesar 0,02 persen.
Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi tahunan sebesar 2,67 persen dengan andil 0,29 persen. Nasi dengan lauk menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar, yakni 0,07 persen.
Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan juga mencatat inflasi 2,32 persen dengan andil 0,15 persen. Kenaikan terutama berasal dari komoditas laptop/notebook dan telepon seluler.
Dari 11 kabupaten/kota yang menjadi wilayah penghitungan IHK di Jawa Timur, seluruhnya mengalami inflasi secara tahunan pada Agustus 2026.
Sumenep menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi, yakni 3,99 persen dengan IHK 116,04. Berikutnya Kota Madiun sebesar 3,41 persen, Kota Malang 3,31 persen, Kota Kediri 3,28 persen, dan Kota Probolinggo 3,10 persen.
Kota Surabaya mencatat inflasi tahunan sebesar 3,62 persen dengan IHK 112,53.
Sementara itu, inflasi tahunan terendah terjadi di Banyuwangi sebesar 2,69 persen dengan IHK 112,60.
Daerah lainnya mencatat inflasi tahunan, yakni Kabupaten Bojonegoro 3,06 persen, Jember 3,04 persen, Kabupaten Gresik 3,01 persen, dan Kabupaten Tulungagung 3,00 persen.
Untuk inflasi bulanan, Banyuwangi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 0,86 persen, disusul Kabupaten Gresik 0,66 persen. Sedangkan inflasi bulanan terendah terjadi di Kota Surabaya sebesar 0,09 persen.
Perkembangan inflasi Jawa Timur menunjukkan tekanan harga yang semakin meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Pada Agustus 2024, inflasi tahunan Jawa Timur berada di level 2,05 persen dengan inflasi year to date (y-to-d) sebesar 0,78 persen. Angka tersebut naik menjadi 2,17 persen pada Agustus 2025 dengan inflasi y-to-d sebesar 1,44 persen.
Memasuki Agustus 2026, inflasi tahunan kembali meningkat menjadi 3,32 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun mencapai 1,82 persen.
Dari sisi bulanan, Jawa Timur pada Agustus 2026 mengalami inflasi 0,34 persen. Kondisi tersebut berbeda dengan Agustus 2024 dan Agustus 2025 yang masing-masing mencatat deflasi 0,07 persen dan 0,10 persen.
BPS menilai dinamika harga konsumen di Jawa Timur sepanjang 2026 masih dipengaruhi pergerakan harga sejumlah komoditas pangan, transportasi, serta kebutuhan perawatan pribadi, terutama emas perhiasan.
Perkembangan inflasi tersebut menjadi salah satu indikator yang terus dipantau untuk melihat kondisi perekonomian sekaligus daya beli masyarakat di Jawa Timur. info/red

Berita Lainnya
Pemkab Kediri Gelar Pasar Murah, Penuhi Kebutuhan Pokok Warga
Mulcindo Rilis Tiga Produk Baru Untuk Perkuat Industri Baja Tanah Air
Mulai 1 September Harga Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex Naik