6 October 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

HIPMI Minta BUMN Karya Bukan Penguasa Proyek Konstruksi

52 / 100 SEO Score

gedung dpr

Jakarta – Badan Pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mendorong konsolidasi BUMN Karya tidak berhenti pada penggabungan perusahaan atau perbaikan neraca. HIPMI ingin penyehatan BUMN konstruksi juga membuka ruang kemitraan yang lebih besar bagi kontraktor swasta, pengusaha daerah, UMKM, hingga pemasok agar industri konstruksi nasional semakin sehat dan kompetitif.

Sekretaris Jenderal BPP HIPMI Anthony Leong mengatakan pihaknya mendukung langkah pemerintah bersama Danantara dalam melakukan penyehatan dan konsolidasi BUMN Karya.

“Langkah tersebut penting untuk membangun perusahaan konstruksi negara yang lebih sehat, efisien, profesional, dan memiliki kemampuan keuangan yang kuat,” kata Anthony di Jakarta, Senin (5/1).

Menurut Anthony, restrukturisasi BUMN Karya harus menjadi momentum untuk membenahi ekosistem industri konstruksi nasional secara menyeluruh, bukan sekadar menggabungkan sejumlah perusahaan.

“HIPMI mendukung penyehatan BUMN Karya. Indonesia membutuhkan BUMN konstruksi yang sehat dan kuat untuk mengerjakan proyek-proyek strategis,” ujarnya.

HIPMI Ingatkan Nasib Vendor dan Kontraktor Daerah
Anthony menegaskan proses penyehatan tidak boleh berhenti pada merger maupun perbaikan neraca. Restrukturisasi harus memberikan manfaat nyata bagi kontraktor swasta, pengusaha daerah, pemasok, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta seluruh rantai industri konstruksi.

Saat ini Danantara tengah menjalankan penataan terhadap tujuh BUMN Karya, yakni PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero).

Menurut Anthony, salah satu aspek penting selama proses penyehatan adalah memastikan keberlangsungan proyek sekaligus kepastian pembayaran kepada vendor dan subkontraktor.

Bagi perusahaan besar, keterlambatan pembayaran mungkin masih dapat dikelola. Namun, bagi kontraktor daerah dan pemasok kecil, keterlambatan pembayaran selama beberapa bulan dapat langsung menghantam modal kerja, pembayaran gaji, hingga kelangsungan usaha.

“Karena itu restrukturisasi harus sekaligus menjaga kesehatan seluruh rantai pasok,” katanya.

BUMN Jangan Sampai Makin Besar, Swasta Malah Terpinggirkan
HIPMI juga mendorong konsolidasi BUMN Karya menghasilkan pembagian peran yang lebih sehat antara perusahaan negara dan swasta nasional.

Anthony menilai BUMN dapat semakin fokus menggarap proyek strategis dan kompleks yang membutuhkan kemampuan pembiayaan maupun teknologi berskala besar. Di sisi lain, ruang bagi kontraktor swasta nasional dan pengusaha daerah perlu diperluas, baik sebagai kontraktor utama pada proyek tertentu maupun melalui kemitraan dan rantai pasok.

“Jangan sampai BUMN yang semakin besar justru membuat ruang pengusaha nasional semakin kecil. BUMN yang sehat seharusnya menjadi lokomotif yang menarik lebih banyak perusahaan swasta masuk ke dalam rantai proyek, bukan berjalan sendiri,” tegas Anthony.

Menurutnya, belanja infrastruktur memiliki efek berganda yang besar terhadap perekonomian karena menggerakkan industri semen, baja, alat berat, transportasi, jasa engineering, konstruksi, hingga tenaga kerja di daerah.

Semakin luas keterlibatan pengusaha nasional dan daerah, kata dia, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dihasilkan dari setiap proyek infrastruktur.

Keberhasilan Tak Cukup Diukur dari Utang
HIPMI menilai keberhasilan penyehatan BUMN Karya nantinya tidak cukup hanya dilihat dari berkurangnya utang atau membaiknya laporan keuangan.

“Ukuran keberhasilannya harus lebih luas: apakah perusahaan menjadi sehat, apakah proyek berjalan tepat waktu, apakah vendor dibayar dengan baik, apakah keterlibatan pengusaha nasional meningkat, dan apakah semakin banyak lapangan kerja yang tercipta,” kata Anthony.

Ia menambahkan, konsolidasi juga harus dibarengi penguatan tata kelola, disiplin dalam pemilihan proyek, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri konstruksi.

Menurut Anthony, BUMN Karya yang sehat akan meningkatkan kepercayaan perbankan, investor, mitra usaha, dan pasar.

“Kalau restrukturisasi ini dilakukan dengan baik, kita bukan hanya menyelesaikan persoalan masa lalu, tetapi membangun fondasi baru industri konstruksi Indonesia yang lebih kompetitif,” kata Anthony. info/red

52 / 100 SEO Score