
Sydney – Bisnis hospitality tak lagi sekadar menjual kamar, makanan, atau pengalaman menginap. Di Sydney, pengusaha Australia kelahiran Surabaya, Iwan Sunito, mencoba memperluas definisi tersebut melalui One Muse, sebuah kafe, bar, galeri seni, sekaligus platform social enterprise yang dirancang untuk mengubah potensi individu dengan kebutuhan belajar khusus menjadi karya, penghasilan, dan peluang yang nyata.
Berbasis di One Global Resorts Green Square, hotel bintang lima milik Sunito, One Muse menjadi salah satu implementasi utama visi Sunito Foundation: membangun lingkungan yang melihat seseorang bukan dari keterbatasannya, melainkan dari kemampuan dan kontribusi yang dapat diberikan.
“Visi utama Sunito Foundation sebenarnya sederhana: setiap orang berhak dilihat berdasarkan apa yang dapat mereka capai, bukan dari hal-hal yang menjadi tantangan bagi mereka,” ujar Iwan Sunito, Founder dan CEO One Global Resorts dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026) lalu.
Menurut Sunito, One Muse dirancang bukan sebagai proyek amal konvensional. Platform ini ingin membangun ekosistem yang memungkinkan individu dengan kebutuhan belajar khusus memperoleh ruang untuk berkarya sekaligus mengembangkan kepercayaan diri, identitas profesional, akses pekerjaan, dan penghasilan.
Nama One Muse diambil dari kata muse, yakni sosok atau kekuatan yang menjadi sumber inspirasi bagi kreativitas dan ekspresi seni. Bagi Sunito, sosok tersebut adalah putri keduanya, Hannah Sunito.
Hannah merupakan individu dengan kebutuhan belajar khusus yang menghadapi berbagai tantangan sejak tumbuh dewasa. Dukungan keluarga, ketekunan, serta kecintaannya terhadap seni kemudian membawanya menemukan karakter kreatifnya sendiri.
Perjalanan tersebut berkembang menjadi pencapaian profesional. Karya Hannah telah dipamerkan di sejumlah lokasi di Sydney, termasuk universitas, kegiatan amal, dan pameran kelompok. Ia juga pernah mengikuti Randwick Art Society Annual Art Show dan kemudian menggelar pameran tunggal pertamanya.
Pada 2021, Hannah memenangkan kategori lukisan minyak/akrilik dalam Randwick Art Society Annual Exhibition.
Kini, pengalaman tersebut dibawa ke tingkat yang lebih luas. Hannah menjabat sebagai CEO One Muse dan terlibat langsung dalam membentuk, mengembangkan, sekaligus mengarahkan bisnis dan misi sosial platform tersebut.
“One Muse memang berawal dari Hannah, tetapi kami tidak ingin One Muse hanya tentang Hannah,” kata Sunito.
Menurut dia, perjalanan putrinya menjadi bukti bahwa kesempatan yang tepat dapat mengubah cara seseorang melihat dirinya sendiri sekaligus cara masyarakat melihat orang tersebut.
“Hannah mungkin merupakan muse pertama, tetapi kami berharap ia dapat menginspirasi ribuan muse lainnya,” ujarnya.
Dari Galeri ke Ruang Publik
One Muse tidak berhenti pada satu venue. Sunito Foundation tengah menyiapkan pengembangan One Muse Art Street, sebuah konsep yang membawa aktivitas seni dari ruang tertutup menuju jalan dan ruang publik di sekitar One Global Resorts dan Green Square Library.
Konsep tersebut terinspirasi dari tradisi art street dan piazza di Eropa dan Italia. Nantinya, kawasan tersebut diarahkan menjadi ruang bagi live painting, pameran seni, musik, pertunjukan, workshop, outdoor dining, hingga berbagai kegiatan komunitas.
Gagasan besarnya adalah menciptakan kawasan kreatif yang inklusif-tempat seniman, musisi, performer, warga, wisatawan, dan individu dengan beragam kemampuan dapat berinteraksi dalam ruang yang sama.
One Muse bersama Pemerintah Kota Sydney saat ini tengah mendiskusikan berbagai peluang pemanfaatan jalan dan ruang publik untuk kegiatan seni, dengan tetap mengikuti ketentuan dan regulasi yang berlaku. “Jalan memiliki arti penting karena seni tidak seharusnya tersembunyi di dalam satu ruangan,” ujar Sunito.
Bagi dia, memindahkan seni ke ruang publik juga berarti memperluas akses terhadap kesempatan. Kreativitas tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya dinikmati pengunjung galeri, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dalam jangka panjang, One Muse Art Street diharapkan menjadi penghubung antara seniman, keluarga, sekolah, dunia usaha, warga, wisatawan, dan organisasi kreatif.
Model yang dibangun One Muse memiliki ambisi lebih besar daripada sekadar memberikan panggung kepada seniman dengan kebutuhan khusus.
Platform tersebut dirancang untuk mengembangkan sejumlah kegiatan, mulai dari pameran dan penjualan karya seni, workshop, kolaborasi kreatif, akses pekerjaan, hingga penyewaan karya untuk perkantoran, hotel, proyek properti, dan berbagai acara.
Dengan demikian, karya seni dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi medium untuk membangun pengalaman profesional.
“Inklusi atau pemerataan sosial tidak dapat berhenti pada kata-kata atau kegiatan yang hanya dilakukan sesekali. Dia juga harus menciptakan platform yang nyata, tanggung jawab yang sesungguhnya, penghasilan yang memadai, serta kepercayaan diri untuk ikut berpartisipasi,” kata Sunito.
Di balik agenda sosial tersebut, terdapat fondasi bisnis yang menjadi penopangnya. One Global Resorts Green Square mencatat rata-rata okupansi 95,07% sepanjang Januari-Juni 2026 dengan pendapatan kotor sekitar AUD5,6 juta. Berdasarkan laporan STR terbaru, hotel tersebut juga tercatat sebagai market leader di kelasnya.
Dari sisi reputasi konsumen, hotel tersebut menerima Tripadvisor Travelers’ Choice Best of the Best 2026, penghargaan tahunan Tripadvisor yang diberikan kepada kurang dari 1% properti di seluruh dunia. Hotel ini juga berada di peringkat ke-12 dari 196 hotel di Sydney berdasarkan Tripadvisor.
Bagi Sunito, angka-angka tersebut bukan sekadar indikator performa hospitality. Kinerja komersial justru menjadi salah satu modal untuk memastikan agenda sosial dapat berjalan dalam jangka panjang.
“Bagi kami, keberhasilan komersial dan tujuan sosial seharusnya bisa saling mengisi. Bisnis yang berkelanjutan memberikan kemampuan bagi sebuah visi untuk bertahan, berkembang, dan menciptakan peluang dari tahun ke tahun,” ungkapnya.
Peluncuran One Muse juga berlangsung ketika pasar pariwisata Sydney masih menunjukkan permintaan yang kuat. Dalam periode satu tahun hingga Maret 2026, Sydney mencatat 67,5 juta kunjungan wisatawan dengan total belanja wisatawan mencapai AUD34,7 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar AUD13,9 miliar berasal dari wisatawan internasional.
Lokasi One Global Resorts Green Square turut menjadi bagian dari strategi tersebut. Hotel ini terhubung langsung dengan Green Square Station, yang menghubungkannya dengan jaringan kereta Sydney.
Posisi tersebut memberi One Muse akses terhadap arus pengunjung hotel, pekerja, warga sekitar, wisatawan, dan pengguna transportasi publik-basis audiens yang berpotensi memperluas jangkauan platform seni tersebut.
Pada titik ini, One Muse menjadi lebih dari sekadar fasilitas tambahan sebuah hotel. Ia merupakan upaya menggabungkan hospitality, seni, komunitas, dan inklusi ekonomi dalam satu ekosistem.
Bagi Sunito Foundation, pada akhirnya ukuran keberhasilan One Muse bukan semata berapa banyak karya yang dipamerkan, melainkan berapa banyak individu yang memperoleh kesempatan untuk menemukan potensi, membangun kepercayaan diri, mendapatkan penghasilan, dan berdiri lebih mandiri. info/red

Berita Lainnya
Lion Group Batalkan 288 Penerbangan Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau
Erupsi Anak Krakatau Berdampak, 36 Penerbangan di Bandara Juanda Alami Penyesuaian
Destry Damayanti Resmi Jabat Gubernur Bank Indonesia