
Pasuruan – Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Mufti Anam mengajak masyarakat memperkuat budaya gotong royong sebagai modal sosial untuk menghadapi berbagai tekanan yang muncul di tengah dinamika ekonomi nasional dan global. Pesan tersebut disampaikan Mufti saat memberikan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di daerah Lumbang, Pasuruan, pada 24 Agustus 2026. Kegiatan itu melibatkan sejumlah unsur masyarakat, di antaranya kalangan santri, komunitas perempuan, para penggerak kampung, serta tokoh-tokoh kultural dari berbagai desa.
Menurut Mufti, Indonesia memiliki fondasi kebangsaan yang kuat melalui empat pilar yang menjadi pijakan dalam kehidupan bernegara. Keempatnya meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia menyebut penguatan konsep Empat Pilar Kebangsaan pernah dikonsolidasikan oleh almarhum Taufiq Kiemas ketika menjabat sebagai Ketua MPR RI pada periode 2009-2014.
“Empat pilar kebangsaan yang dimaksud adalah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata Mufti.
Mantan aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) itu menilai nilai-nilai yang terkandung dalam empat pilar tersebut tetap memiliki relevansi kuat untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Berbagai tantangan, mulai dari perubahan geopolitik dunia, isu ketersediaan pangan, hingga persoalan sosial dan ekonomi, membutuhkan masyarakat yang memiliki ketahanan serta kepedulian satu sama lain.
Mufti secara khusus menyoroti Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pedoman kehidupan bangsa. Ia menjelaskan, gagasan Pancasila digali Bung Karno dari nilai budaya dan kearifan yang hidup di tengah masyarakat Indonesia dan pertama kali disampaikan dalam pidato pada 1 Juni 1945.
“Pancasila itu memang bersumber atau berasal dari rakyat Indonesia sendiri,” ujar mantan Ketua HIPMI Jawa Timur tersebut.
Karena itu, menurut dia, pengamalan Pancasila tidak cukup berhenti pada pemahaman secara konseptual. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari, termasuk dengan membangun kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Mufti mengajak masyarakat kembali menghidupkan semangat saling membantu, terutama ketika menghadapi kesulitan ekonomi.
Ia meminta warga tidak bersikap acuh terhadap kondisi tetangga maupun masyarakat di sekitarnya. Menurutnya, ketahanan sosial dapat tumbuh ketika warga memiliki kepedulian dan kesediaan untuk membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan.
“Coba tengok tetangga kanan dan kiri, jangan sampai ada yang kesusahan, atau bahkan tak bisa makan. Mari saling bantu,” tuturnya.
Selain memperkuat solidaritas sosial, Mufti juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan harmonis di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Perbedaan agama, suku, maupun latar belakang sosial, kata dia, semestinya tidak menjadi alasan untuk memecah persatuan. Justru keberagaman tersebut merupakan bagian dari karakter Indonesia yang harus dirawat bersama.
“Kalau kita bertengkar karena beda agama atau suku, negara tidak akan bisa maju, daerah kita tidak akan bisa maju,” tegasnya.
Ia berharap penerapan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Dengan membangun kerukunan, kepedulian, dan semangat gotong royong di tingkat masyarakat, Indonesia dinilai akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk melewati berbagai tantangan ke depan. info/red

Berita Lainnya
Bupati Kediri Mas Dhito Ajak Keluarga Biasakan Makan Ikan untuk Cegah Stunting
Hasil Survei Terbaru: Kepuasan Pemerintahan Prabowo Turun di Bawah 50 Persen
Musda VII Partai Demokrat Jatim Resmi Dibuka, 40 Peserta Pegang Hak Suara