
Jakarta — Menabung Air Foundation (MAF) diundang secara khusus oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) untuk berdialog dalam Forum Diskusi Kebangsaan “Listrik Bersih, Energi Terjangkau, Ekonomi Tangguh: Strategi Indonesia Menuju 100 GW”. Kehadiran MAF membawa perspektif keberlanjutan lingkungan, khususnya mengenai keterkaitan antara pengembangan energi bersih, keberlanjutan sumber daya air, dan pemberdayaan masyarakat dalam mencapai target energi nasional 100 GW.
Forum yang dibuka oleh Dr. H. Edhie Baskoro Yudhoyono, B.Com., M.Sc selaku Wakil Ketua MPR RI/Ketua Fraksi Demokrat DPR RI, menekankan bahwa energi memiliki peran fundamental dalam pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam arahannya, beliau menyampaikan:
“Energi menjadi fondasi dalam kesejahteraan. Dunia saat ini sedang memasuki apa yang disebut oleh International Energy Agency sebagai era baru energi, di mana ketahanan energi, keterjangkauan, dan keberlanjutan menjadi tantangan utama yang harus dijawab bersama.”
Dalam forum tersebut, MAF menegaskan bahwa percepatan pembangunan energi bersih tidak hanya harus berorientasi pada peningkatan kapasitas listrik, tetapi juga harus menghasilkan manfaat ekologis dan sosial yang nyata bagi wilayah serta masyarakat sekitar. Keberhasilan transisi energi perlu dilihat melalui empat aspek utama, yaitu energi bersih, energi terjangkau, lingkungan terjaga, dan masyarakat berdaya.
Ketua Yayasan Menabung Air Foundation, Yulia Ayu Srikanthi, menyampaikan bahwa keberlanjutan transisi energi sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari proses perubahan.
“Pengalaman kami bekerja di masyarakat menunjukkan bahwa sustainability sangat bergantung pada rasa memiliki. Masyarakat jangan hanya menjadi penerima manfaat atau object pembangunan; mereka harus menjadi bagian dari perubahan.”
MAF membawa posisi utama bahwa “Transisi energi harus sekaligus menjadi transisi lingkungan dan transformasi masyarakat.” Dalam perspektif MAF, pembangunan energi bersih harus memastikan adanya community ownership, meninggalkan manfaat lingkungan (environmental legacy), serta menghasilkan dampak yang dapat diukur secara nyata.
Dalam dialog tersebut, MAF menyampaikan lima rekomendasi utama untuk mendukung transisi energi 100 GW yang berkelanjutan:
1. Setiap investasi energi harus meninggalkan manfaat lingkungan melalui konservasi air, perlindungan ekosistem, penghijauan, serta edukasi lingkungan.
2. Masyarakat harus menjadi bagian sejak tahap awal melalui pemetaan kebutuhan, perencanaan, implementasi, hingga evaluasi agar tercipta kepemilikan bersama terhadap perubahan.
3. Integrasi energi, air, dan lingkungan harus menjadi bagian dari perencanaan transisi energi, dengan menjaga sumber air, meningkatkan resapan, memanfaatkan air hujan, serta membangun budaya konservasi.
4. Kolaborasi multipihak perlu diperkuat antara pemerintah, dunia usaha, NGO, akademisi, dan masyarakat untuk memastikan implementasi yang efektif.
5. Indikator keberhasilan 100 GW perlu diperluas, tidak hanya berdasarkan kapasitas listrik, tetapi juga keterjangkauan energi, pengurangan emisi, dampak lingkungan, dan manfaat bagi komunitas.
Melalui pendekatan community-based green transition , MAF mendorong agar agenda energi bersih Indonesia tidak hanya menghasilkan infrastruktur energi, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih berdaya serta lingkungan yang lebih tangguh. MAF juga menawarkan pendekatan 100 GW Green Community Initiative untuk memastikan masyarakat di sekitar proyek energi bersih dapat merasakan dan mengukur manfaat langsung dari proses transisi energi. info/red

Berita Lainnya
Emil Dardak Tegaskan Dukungan untuk AHY Pimpin Partai Demokrat
Kerajinan Bambu Banyuwangi Tembus Pasar Mancanegara, Gintangan Bamboo Attraction Kembali Digelar
Bertemu dengan Kajati Jawa Timur dan Cendekiawan Universitas Airlangga, Firman Jaya Daeli Kembangkan Diskursus Pembangunan Sistem dan Kelembagaan Politik