
Banyuwangi – Warga Desa Gintangan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, kembali menggelar Gintangan Bamboo Attraction pada Kamis (20/8/2026). Beragam kerajinan bambu karya warga diparadekan dalam karnaval yang berlangsung di sepanjang jalan desa.
Kegiatan tahunan tersebut menarik perhatian masyarakat yang datang untuk menyaksikan langsung kreativitas warga Gintangan. Peserta karnaval berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua yang tampil mengenakan beragam kreasi berbahan bambu.
Desa Gintangan selama ini dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan bambu di Banyuwangi. Bagi masyarakat setempat, bambu bukan sekadar bahan untuk membuat berbagai produk kerajinan, tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu pengrajin bambu, Holiah, mengatakan Gintangan Bamboo Attraction menjadi momentum bagi para pengrajin untuk memperkenalkan hasil karya mereka kepada masyarakat luas.
“Karnaval bambu ini sangat kita tunggu. Bambu-bambu yang dianyam oleh pengrajin sini dengan bangga kami tunjukkan ke banyak orang,” kata Holiah, Rabu (19/8/2026).
Holiah sehari-hari membuat berbagai peralatan rumah tangga dari bambu. Produk yang dihasilkannya antara lain tenong, ayakan, dan tampah.
Kerajinan tersebut tidak hanya dipasarkan di wilayah Banyuwangi, tetapi juga dikirim ke luar daerah. Salah satu tujuan pemasarannya adalah Bali.
“Rutin diambil truk ke mari. Ada yang kirim Bali juga,” ujarnya.
Seiring perkembangan zaman, produk kerajinan bambu Gintangan juga semakin beragam. Para pengrajin tidak hanya memproduksi peralatan rumah tangga, tetapi mulai mengembangkan berbagai produk furnitur dan aksesori.
Produk-produk tersebut bahkan telah menembus pasar nasional hingga mancanegara. Sejumlah hasil kerajinan bambu dari Gintangan telah dipasarkan ke berbagai negara, termasuk Jerman dan Maladewa.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan potensi kerajinan bambu di Gintangan perlu terus dikembangkan agar mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Menurut Ipuk, produk kerajinan bambu yang dihasilkan warga Gintangan telah memasuki tahap hilirisasi. Pengembangan produk dari bahan baku hingga menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dinilai dapat memperkuat daya saing para pengrajin.
“Produk kerajinan bambu Gintangan merupakan hasil produk hilirisasi yang menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat. Hilirisasi ini akan memperkuat daya saing sekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas,” ujar Ipuk.
Gintangan Bamboo Attraction tidak hanya menghadirkan karnaval. Pengunjung juga dapat melihat berbagai instalasi seni dan ornamen yang seluruhnya dibuat menggunakan bambu.
Sejumlah toko kerajinan yang berada di sepanjang jalan desa juga tetap beroperasi selama kegiatan berlangsung. Pengunjung dapat melihat sekaligus membeli berbagai produk kerajinan yang dibuat langsung oleh pengrajin lokal.
Kepala Desa Gintangan Hardiyono mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mengenalkan potensi kerajinan bambu kepada generasi muda. Menurutnya, keterlibatan anak-anak dan kalangan muda penting agar tradisi mengolah bambu tetap berkembang dan tidak terputus.
Gintangan Bamboo Attraction digelar melalui kolaborasi antara desainer, seniman, dan para pengrajin lokal. Kolaborasi tersebut menghasilkan beragam bentuk kreasi bambu yang ditampilkan dalam karnaval sekaligus memperkuat identitas Desa Gintangan sebagai sentra kerajinan bambu.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya mempertahankan tradisi menganyam bambu, tetapi juga terus mendorong inovasi agar kerajinan lokal memiliki nilai ekonomi dan daya saing yang semakin tinggi.info/red

Berita Lainnya
Pedagogi Ekologis dan Etika Kemanusiaan, Refleksi Kritis Airlangga Pribadi Kusman dalam Seminar Nasional AIPI-UKWMS
Mengenal Lebih Dekat Yayasan Panti Asuhan Sejahtera (YPAS) House of Hope
Kebakaran Makin Meluas, Wisata Bromo Ditutup Total