
Mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan pelatihan Sensory Learning bagi guru-guru Raudhatul Athfal Muslimat Nahdlatul Ulama (RAM NU) 150 Darunnajah, Desa Sidokumpul, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran anak usia dini melalui penerapan metode belajar yang lebih kreatif, interaktif, dan berpusat pada peserta didik.
Program pelatihan diselenggarakan oleh Sub Kelompok Pelatihan 3 yang terdiri atas Cellinnova Satriyo Salsabilla, Melani Hellena Stefalia, Maria Cerlina Lipa, dan Alyf Jagad Satria Haristian di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Zida Wahyuddin, S.Pd., M.Si. Pelatihan difokuskan pada pengenalan konsep Sensory Learning sekaligus praktik pembuatan media pembelajaran berupa playdough yang dapat digunakan dalam berbagai aktivitas belajar anak usia dini.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi tim KKN yang menunjukkan bahwa proses pembelajaran di RAM NU 150 Darunnajah masih didominasi metode konvensional. Guru telah berupaya menciptakan pembelajaran yang menarik, namun penggunaan media berbasis pengalaman sensorik masih terbatas. Akibatnya, kesempatan anak untuk mengembangkan kemampuan motorik halus, kreativitas, serta keterampilan berpikir melalui aktivitas eksplorasi belum dapat dimaksimalkan.
Melalui pelatihan ini, guru diperkenalkan dengan pendekatan Sensory Learning, yaitu metode pembelajaran yang melibatkan berbagai indera dalam proses belajar. Pendekatan tersebut dinilai efektif untuk membantu anak memahami materi melalui pengalaman langsung sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan sekaligus mampu merangsang perkembangan kognitif, motorik, sosial, dan emosional.
Salah satu media yang diperkenalkan dalam pelatihan adalah playdough berbahan dasar tepung. Media ini dipilih karena mudah dibuat, aman digunakan oleh anak, memiliki biaya yang relatif murah, dan dapat disesuaikan dengan berbagai tema pembelajaran di taman kanak-kanak. Guru diajak membuat playdough secara mandiri menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar, kemudian memanfaatkannya sebagai media belajar mengenal huruf, angka, bentuk geometri, hewan, tumbuhan, hingga berbagai objek yang berkaitan dengan tema pembelajaran.
Pelaksanaan pelatihan diawali dengan penyampaian materi mengenai konsep dasar Sensory Learning beserta manfaatnya terhadap perkembangan anak usia dini. Setelah itu, mahasiswa KKN memberikan demonstrasi pembuatan playdough mulai dari proses pencampuran bahan, pewarnaan, hingga menghasilkan media yang siap digunakan dalam kegiatan belajar. Guru kemudian mengikuti sesi praktik secara langsung dengan pendampingan dari tim mahasiswa agar setiap peserta dapat memahami setiap tahapan pembuatan media secara menyeluruh.
Tidak hanya membuat media, para peserta juga mengikuti simulasi pembelajaran menggunakan playdough. Dalam sesi ini guru mencoba menyusun berbagai aktivitas belajar yang mendorong anak untuk mengeksplorasi bentuk, warna, tekstur, serta melatih koordinasi tangan dan mata. Diskusi interaktif juga dilakukan untuk membahas strategi penerapan Sensory Learning di dalam kelas sesuai karakteristik peserta didik.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Guru-guru aktif bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi selama proses pembelajaran di kelas. Suasana pelatihan yang komunikatif membuat peserta lebih mudah memahami materi sekaligus memperoleh inspirasi dalam mengembangkan media pembelajaran yang inovatif.
Sebagai bagian dari evaluasi program, tim KKN melaksanakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan guru mengenai konsep Sensory Learning, manfaat penggunaan playdough, serta kemampuan merancang aktivitas pembelajaran berbasis pengalaman sensorik. Selain itu, hasil observasi selama praktik memperlihatkan bahwa guru mampu membuat media secara mandiri dan lebih percaya diri dalam mengintegrasikan metode tersebut ke dalam kegiatan belajar
mengajar.
Menurut tim KKN, pelatihan ini tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan baru kepada guru, tetapi juga membangun kesadaran bahwa media pembelajaran yang berkualitas tidak selalu membutuhkan biaya besar. Dengan kreativitas dan pemanfaatan bahan-bahan sederhana, guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi anak.
Dengan kegiatan ini diharapkan pendekatan Sensory Learning dapat diterapkan secara berkelanjutan di RAM NU 150 Darunnajah. Selain meningkatkan kompetensi guru, program ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak usia dini melalui proses pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka.
Penulis: Alyf Jagad Satria Haristian
Dosen Pembimbing Lapangan: Zida Wahyuddin S.Pd., M.Si

Berita Lainnya
UK Petra Luncurkan Drone Academy Pertama di Indonesia
Bupati Kediri Mas Dhito Sapa Murid Baru di Hari Pertama MPLS
Mahasiswa Untag Kenalkan Teknologi Pengolah Sampah Organik kepada Guru MI Daroyissalam untuk Pengelolaan Sampah Organik