
Gresik, Pustakalewi News – Pengabdian masyarakat di Desa Kertosono, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik yang berlangsung selama 12 hari, tidak hanya memberikan informasi dan solusi terkait permasalahan warga setempat, di dalamnya juga terjadi interaksi sosial antara mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya dengan warga desa. Adanya interaksi sosial ini sangat memudahkan gerakan pengabdian kepada masyarakat desa, khususnya pada para mitra.
Misalnya, mitra pengelolaan ikan asin di bidang produksi. Sementara itu, dalam bidang psikologi, mitra panti asuhan anak mendapat perhatian melalui pemeriksaan pendidikan dan kondisi mental anak-anak. Selama proses tersebut, terjalin interaksi sosial yang mengikat hubungan lebih dekat, bukan sekadar hubungan antara pemberi solusi dan penerima program dari pihak mahasiswa Untag Surabaya.
Interaksi sosial antara mahasiswa dengan mitra warga desa tentu tidak semulus yang dibayangkan. Mohamad Hazir Sa’dan Kepala Desa Kertosono, memberikan pesan kepada mahasiswa Untag Surabaya bahwa karakter warga desa terdiri dari dua, mendengar saja atau mendengar sekaligus menerima penerapan program kerja dari mahasiswa Kampus Untag Surabaya. Dua tipe warga desa ini juga memiliki kendala masing-masing.
Warga tipe pertama cenderung hanya mendengarkan penjelasan mahasiswa tanpa memberikan tanggapan, pertanyaan, atau kritik. Mereka mengangguk-angguk saat diberi arahan, tetapi tidak menunjukkan apakah benar-benar memahami atau justru bingung. Akibatnya, mahasiswa kesulitan mengukur tingkat pemahaman warga terhadap materi yang disampaikan. Komunikasi menjadi satu arah, sehingga potensi kesalahan persepsi atau misinformasi cukup tinggi. Misalnya, saat sesi demonstrasi pengolahan ikan asin yang lebih higienis, beberapa warga hanya diam dan tidak bertanya, padahal kemudian diketahui mereka belum paham tentang takaran garam yang tepat. Mahasiswa baru menyadari kelemahan ini setelah melihat hasil produksi yang tidak sesuai standar.
Warga tipe kedua memang lebih responsif dan cepat menerapkan program, tetapi mereka tetap membutuhkan pendampingan intensif dan berulang agar perubahan perilaku benar-benar membudaya, tidak sekadar ikut-ikutan saat mahasiswa ada. Dengan durasi pengabdian hanya 12 hari, mahasiswa tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan evaluasi berkala dan penyesuaian metode komunikasi secara bertahap. Akibatnya, beberapa warga yang awalnya antusias mulai kehilangan arah setelah hari ketujuh karena tidak ada pendampingan lanjutan. Kendala ini diperparah oleh jadwal padat mahasiswa yang harus membagi waktu antara beberapa mitra sekaligus, yaitu produksi ikan asin dan panti asuhan, sehingga komunikasi tidak bisa berlangsung sedalam yang dibutuhkan.
Dari pengalaman 12 hari di Desa Kertosono, tergambar jelas bahwa komunikasi bukanlah sekadar alat penyampai pesan, melainkan pondasi utama dari seluruh gerakan pengabdian. Meskipun mahasiswa telah menyusun program secara terstruktur, keberhasilan implementasi sangat ditentukan oleh kualitas interaksi harian dengan warga. Di sinilah urgensi komunikasi tampak. Tanpa pemahaman timbal balik, solusi terbaik sekalipun hanya akan menjadi dokumen yang tidak membumi. Perbedaan karakter warga, baik yang cenderung diam maupun yang cepat merespons, bukanlah hambatan mati. Justru hal itu menjadi cerminan kompleksitas sosial yang memperkaya wawasan mahasiswa tentang dinamika masyarakat pesisir Gresik. Kendala waktu yang singkat, jadwal padat, dan silang budaya yang terjadi tidak mengurangi nilai pengabdian, tetapi menjadi pelajaran berharga bahwa komunikasi efektif membutuhkan kesabaran, adaptasi, dan keberlanjutan yang tidak bisa dipadatkan dalam belasan hari.
Namun, penting untuk ditegaskan bahwa kendala komunikasi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari proses belajar bersama. Interaksi sosial yang terjalin selama pengabdian ini telah membuktikan bahwa komunikasi yang tulus tetap menjadi jembatan paling kuat, meskipun di atasnya masih terdapat perbedaan budaya dan keterbatasan waktu. Kendala yang ada bukan alasan untuk berhenti berkomunikasi, tetapi pemicu untuk terus mencari cara baru agar pesan tidak sekadar terdengar, melainkan dirasakan secara nyata dan dihidupi oleh masyarakat. Bagi mahasiswa Untag Surabaya, pengalaman di Kertosono bukanlah akhir dari perjalanan komunikasi, melainkan titik awal untuk merancang pendekatan yang lebih manusiawi, kontekstual, dan berkesinambungan di masa mendatang. Dengan demikian, meskipun kendala selalu hadir, kepentingan komunikasi tetaplah nadi yang menghidupkan setiap gerakan pengabdian kepada masyarakat.
(Pramodya)

Berita Lainnya
Peningkatan Kesehatan Mental dan Regulasi Emosi dengan Pelatihan Journaling Bagi Ibu-Ibu PKK di Desa Kertosono Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik
Mahasiswa Untag Surabaya Ciptakan Panduan Oven Pengering Ikan Asin untuk Warga Kertosono
Ketika Bermain Menjadi Jembatan Kesembuhan: Pendampingan Psikologis Anak dengan Kanker di YPKAI Surabaya Jawa Timur