8 July 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Ketika Bermain Menjadi Jembatan Kesembuhan: Pendampingan Psikologis Anak dengan Kanker di YPKAI Surabaya Jawa Timur

54 / 100 SEO Score

kanker anak

Surabaya – Ketika mendengar kata kanker, perhatian masyarakat umumnya langsung tertuju pada pengobatan medis yang berat. Kita membayangkan rentetan kemoterapi, tindakan operasi, atau konsumsi obat-obatan dosis tinggi. Namun, bagi anak-anak, perjuangan melawan kanker tidak hanya terjadi pada raga mereka. Ada beban psikologis yang sering kali luput dari pandangan, mulai dari rasa takut terhadap tindakan medis, kecemasan, kebosanan akibat perawatan jangka panjang, hingga menurunnya rasa percaya diri karena perubahan kondisi fisik dan keterbatasan aktivitas.

Berdasarkan berbagai publikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kanker merupakan salah satu penyakit katastropik yang menjadi perhatian dalam pelayanan kesehatan, termasuk pada kelompok anak yang membutuhkan penanganan multidisiplin. Menurut pedoman dari American Psychological Association (2019), anak dengan kanker sangat membutuhkan dukungan psikologis sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang komprehensif. Dukungan psikososial tidak hadir untuk menggantikan terapi medis, melainkan membantu anak beradaptasi dengan proses pengobatan agar mereka tetap memiliki harapan, semangat, dan kesempatan menikmati masa kanak-kanaknya.

Salah satu lembaga yang secara konsisten memberikan pendampingan kepada anak dengan kanker di Jawa Timur adalah Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI). Selain membantu keluarga selama proses pengobatan, yayasan ini juga menyediakan berbagai kegiatan psikososial untuk mendukung kualitas hidup anak selama menjalani terapi. Melalui Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menerapkan ilmu psikologi secara langsung melalui kegiatan pendampingan di YPKAI dalam skema Praktik Pengalaman Lapangan Kemanusiaan (PPLK).

Sebelum menyusun program, dilakukan observasi dan asesmen kebutuhan bersama pengelola yayasan. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian anak mengalami penurunan rasa percaya diri, kesulitan mengelola emosi, serta mudah merasa bosan karena aktivitas yang terbatas. Mereka membutuhkan kegiatan yang mampu membangun kembali motivasi dan kesejahteraan psikologis selama menjalani pengobatan.

Ketiga program tersebut tidak dirancang sebagai terapi klinis, melainkan sebagai bentuk pendampingan psikososial yang berfokus pada penguatan aspek psikologis anak melalui aktivitas bermain, kreativitas, dan interaksi positif.

Bermain Peran untuk Menumbuhkan Keberanian

Program pertama bertajuk Kotak Misi Dokter Kecil, yaitu Alat Permainan Edukatif (APE) berbasis role play. Dalam kegiatan ini, anak-anak diajak berperan sebagai dokter yang memeriksa pasien menggunakan stetoskop, termometer, dan berbagai alat permainan lainnya. Mereka kemudian diminta menjelaskan hasil pemeriksaan, memberikan motivasi kepada pasien, serta menyelesaikan tantangan yang tersedia pada kartu misi.

Melalui aktivitas tersebut, anak memperoleh pengalaman keberhasilan (mastery experience) yang dapat meningkatkan keyakinan terhadap kemampuan dirinya (self-efficacy). Setiap keberhasilan diberikan apresiasi berupa reward sederhana sebagai bentuk positive reinforcement, sehingga anak terdorong untuk terus berani berbicara, berinteraksi, dan mencoba tantangan baru.

Saya masih mengingat ketika salah seorang anak yang pada awal kegiatan hanya duduk diam memeluk ibunya, perlahan mulai tertarik melihat teman-temannya. Hingga akhirnya, ia bersedia mengambil stetoskop mainan dan mencoba memeriksa boneka pasien yang disediakan. Momen sederhana itu menunjukkan bahwa rasa aman sering kali menjadi langkah awal bagi anak untuk kembali berani berinteraksi.

Selama satu jam pelaksanaan kegiatan, anak-anak secara bergantian memainkan peran sebagai dokter dan pasien. Berdasarkan hasil observasi selama pelaksanaan kegiatan, beberapa anak yang pada awalnya tampak malu mulai menunjukkan keberanian untuk berbicara, menggunakan alat permainan, serta berinteraksi dengan teman dan fasilitator.

Menghadirkan Alam dalam Sebuah Botol Kecil

Program kedua, Sensory Nature Jar, memanfaatkan konsep Healing Environment sebagai media regulasi emosi. Bersama orang tua atau caregiver, anak membuat botol transparan yang diisi cairan berwarna, gliserin, dan ornamen bertema alam yang bergerak perlahan ketika dikocok.

Media sederhana ini dirancang sebagai alat relaksasi yang dapat digunakan saat anak merasa takut, cemas, atau tidak nyaman menjelang tindakan medis. Gerakan visual yang ritmis membantu mengalihkan perhatian (distraction) anak dari rasa nyeri sekaligus memberikan pengalaman sensorik yang menenangkan.

Tidak hanya bermanfaat bagi anak, kegiatan ini juga menciptakan momen kebersamaan antara anak dan orang tua. Di tengah rutinitas pengobatan yang melelahkan, proses membuat botol ketenangan menjadi ruang untuk membangun kembali interaksi yang hangat dan penuh dukungan. Selama kegiatan berlangsung, fasilitator juga mengamati bahwa beberapa caregiver memberikan respons positif terhadap aktivitas yang dilakukan karena dinilai mampu membuat anak lebih aktif mengikuti kegiatan dan mengurangi kebosanan selama berada di rumah singgah.

Menemukan Kembali Alasan untuk Tersenyum

Program ketiga, Cerita Semangat Hari Ini, mengadopsi pendekatan Positive Psychology. Anak diajak menceritakan pengalaman sederhana yang membuat mereka merasa senang, tertawa, atau tetap bersemangat. Kegiatan dilakukan melalui diskusi ringan dan permainan sehingga anak merasa aman untuk mengekspresikan dirinya.

Di balik cerita-cerita tersebut, anak sebenarnya sedang belajar mengenali emosi positif yang masih mereka miliki. Pengalaman sederhana seperti bermain bersama teman, dipeluk orang tua, atau mendapat hadiah setelah menjalani terapi menjadi sumber kekuatan internal yang membantu mereka tetap optimistis menjalani pengobatan.

Suasana yang semula cenderung pasif perlahan berubah menjadi lebih hangat. Anak-anak mulai saling mendengarkan, memberikan respons positif, dan menunjukkan ekspresi yang lebih ceria sepanjang sesi cerita berlangsung.

Pendampingan Psikologis: Jembatan Menuju Pelayanan Holistik

Pengalaman selama mendampingi anak-anak di YPKAI menunjukkan bahwa intervensi psikologis tidak selalu harus berbentuk terapi yang kompleks. Aktivitas bermain, media kreatif, dan komunikasi yang penuh empati mampu menjadi sarana efektif untuk membantu anak menghadapi tantangan emosional selama proses pengobatan. Bagi mahasiswa psikologi, ruang lapangan seperti ini menjadi pembelajaran berharga bahwa ilmu yang dipelajari di ruang kuliah baru akan memiliki makna yang utuh ketika diterapkan secara nyata untuk merespons kebutuhan di tengah masyarakat.

Pendampingan psikologis memang tidak dapat menggantikan kemoterapi ataupun tindakan medis lainnya. Namun, ia mampu menjaga sesuatu yang sama pentingnya: harapan.

Kesembuhan bukan hanya ketika hasil pemeriksaan medis menunjukkan perkembangan yang baik. Kesembuhan juga berarti ketika seorang anak masih memiliki keberanian untuk tersenyum, bermain, bermimpi, dan percaya bahwa masa depannya tetap layak diperjuangkan. Karena itu, menghadirkan dukungan psikologis bagi anak dengan kanker bukan sekadar pelengkap layanan kesehatan, melainkan bagian penting dari proses penyembuhan itu sendiri.

Kolaborasi antara tenaga kesehatan, psikolog, perguruan tinggi, relawan, lembaga sosial, dan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan layanan kesehatan yang tidak hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga menjaga kesehatan mental anak.

Sebab, di balik setiap jadwal kemoterapi, ada masa kecil yang tetap ingin bermain, tertawa, belajar, dan bermimpi. Menjaga kesehatan mental mereka bukan sekadar pelengkap layanan kesehatan, melainkan bagian dari upaya memastikan bahwa di balik perjuangan melawan kanker, masa kecil mereka tidak ikut hilang.

Penulis: Widya Septiana
Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

54 / 100 SEO Score