8 May 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

BEI Terus Sosialisasikan dan Beri Edukasi Exchange Traded Fund

56 / 100 SEO Score

IMG 20260508 WA0033

Surabaya – Bursa Efek Indoneaia (BEI)Jawa Timur berupaya terus mengintensifkan edukasi melalui galeri investasi dan komunitas pasar modal agar masyarakat semakin familiar dengan Exchange Traded Fund (ETF). Harapannya, instrumen ini dapat meningkatkan partisipasi investor sekaligus mendorong aktivitas transaksi di pasar modal domestik.

Instrumen Exchange Traded Fund (ETF) semakin dilirik sebagai alternatif investasi karena menggabungkan karakteristik saham dan reksa dana. Produk ini dapat diperdagangkan di bursa layaknya saham, namun dikelola secara profesional seperti reksa dana.

Branch Manager IndoPremier Surabaya Marco Rijkaard Pereira, menjelaskan bahwa ETF memberikan fleksibilitas tinggi bagi investor karena bisa ditransaksikan selama jam perdagangan bursa.

“ETF ini merupakan perpaduan saham dan reksa dana. Investor bisa membeli dan menjualnya seperti saham, mengikuti jam bursa, namun tetap mendapatkan manfaat pengelolaan profesional dan pengawasan dari otoritas,” ujarnya dalma kegiatan Workshop beramaa mesia Jaqa Timir Rabu (6/5/2026).

Dari sisi sejarah, ETF pertama kali hadir di dunia pada 1976, sementara di Indonesia mulai diperkenalkan pada 2007. Sejak saat itu, produk ini terus berkembang dengan berbagai varian, termasuk ETF berbasis indeks hingga ETF aktif.

Marco menjelaskan secara umum ETF terbagi menjadi dua jenis, yakni pasif dan aktif. ETF pasif mengikuti pergerakan indeks tertentu seperti IDX30 atau LQ45. Sementara ETF aktif memungkinkan manajer investasi melakukan penyesuaian portofolio sesuai kondisi pasar.

“Kalau pasif itu mengikuti indeks. Sedangkan ETF aktif memberi ruang bagi manajer investasi untuk mengatur komposisi, misalnya mengurangi sektor yang melemah dan menambah sektor yang sedang tumbuh,” jelasnya.

Dibandingkan dengan saham dan reksa dana, ETF memiliki sejumlah keunggulan. Dari sisi transparansi, ETF menampilkan seluruh isi portofolio, berbeda dengan reksa dana yang umumnya hanya menampilkan 10 besar aset. Selain itu, ETF tetap memberikan diversifikasi seperti reksa dana, namun dengan mekanisme transaksi real-time seperti saham.

Keunggulan lain adalah dari sisi likuiditas. Penyelesaian transaksi ETF mengikuti skema T+2, sama seperti saham, sehingga dana bisa lebih cepat dicairkan dibandingkan reksa dana yang membutuhkan waktu hingga T+7 hari bursa.

“ETF cocok bagi investor yang ingin diversifikasi seperti reksa dana, tetapi tetap membutuhkan fleksibilitas dan kecepatan transaksi seperti saham,” kata Marco.

Dari sisi biaya, ETF dikenakan komisi broker seperti transaksi saham, sementara minimum pembelian di pasar sekunder juga setara dengan saham, yakni 1 lot. Hal ini membuat ETF semakin terjangkau bagi investor ritel.

Meski demikian, Marco mengingatkan bahwa ETF tetap memiliki risiko, seperti risiko pasar, perubahan kondisi ekonomi dan politik, hingga risiko konsentrasi pada sektor tertentu.

“Seperti instrumen investasi lainnya, ETF juga memiliki risiko. Karena itu investor tetap perlu memahami profil risiko sebelum berinvestasi,” pungkasnya.

Instrumen Exchange Traded Fund (ETF) mulai kembali didorong sebagai alternatif investasi yang efisien di pasar modal Indonesia, khususnya bagi investor pemula yang menginginkan kemudahan sekaligus diversifikasi risiko.

Pada kesempatan ynag sama,  Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Timur, Cita Mellisa, menilai ETF memiliki karakter unik karena menggabungkan konsep reksa dana dan saham.

“ETF itu pada dasarnya reksa dana, tetapi diperdagangkan langsung di bursa seperti saham. Jadi harganya transparan dan bisa dipantau secara real time,” ujarnya.

ETF menurut Cita cocok bagi investor yang tidak ingin repot menganalisis saham satu per satu. Pasalnya, produk ini berisi kumpulan aset, seperti saham dalam indeks tertentu atau obligasi, yang sudah dikelola oleh manajer investasi.

“Kalau diibaratkan, ETF itu seperti membeli satu paket berisi banyak saham. Jadi risikonya lebih tersebar dibanding beli satu saham saja,” jelas Cita.

Di Indonesia, ETF umumnya bersifat pasif dengan mereplikasi indeks, seperti LQ45 atau indeks lainnya di Bursa Efek Indonesia. Artinya, pergerakan ETF mengikuti kinerja indeks acuan tersebut tanpa perlu pengelolaan aktif yang kompleks.. Konsep ini membuat ETF lebih efisien dan transparan. Investor juga tidak perlu memantau pergerakan pasar setiap saat, sehingga cocok untuk investasi jangka panjang.

“ETF ini cocok untuk investor yang ingin investasi tapi tidak punya banyak waktu. Tinggal beli, simpan, dan mengikuti kinerja indeks,” pungkasnya. Info/red

56 / 100 SEO Score