
Lombok – Kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat, menjadi pusat perhatian industri perhotelan tanah air. Sebanyak 195 General Manager (GM) dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul dalam agenda Rakernas IHGMA 2026. Pertemuan akbar petinggi hotel yang tergabung dalam Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) ini membawa misi besar untuk membangkitkan kembali gairah pariwisata nasional.
Ketua Umum IHGMA Dr. I Gede Arya Pering Arimbawa didampingi Nawawi Halik, Fahrurrazi, Lalu Kusnawan, dan Herryadi Baiin menegaskan bahwa pemilihan Lombok sebagai tuan rumah Rakernas IHGMA 2026 bukanlah tanpa alasan. Selain sebagai ajang konsolidasi 29 DPD dan 16 DPC, event ini diharapkan memicu multiplier effect bagi ekonomi lokal, terutama dalam mendongkrak okupansi hotel di Senggigi.
”Kami ingin memastikan Rakernas IHGMA 2026 di Senggigi ini memberikan manfaat nyata. Pariwisata NTB termasuk Senggigi punya potensi luar biasa yang harus terus dipromosikan ke level internasional melalui jaringan ribuan anggota kami,” ujar Arya saat konferensi pers di hadapan awak media.
Rakernas ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan langkah kongkret IHGMA dalam memposisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi melalui sektor pariwisata.
”Hotel berkontribusi besar terhadap ekonomi, mulai dari tenaga kerja hingga perputaran ekonomi daerah. Karena itu, dukungan pemerintah sangat kami harapkan,” tegasnya.
Namun, di balik optimisme tersebut, industri perhotelan saat ini tengah menghadapi tantangan berat. Isu okupansi hotel nasional yang kini hanya menyentuh angka 25 hingga 30 persen menjadi bahasan hangat. Tekanan ini dipicu kebijakan efisiensi anggaran pemerintah serta dampak konflik geopolitik global yang mulai terasa hingga ke industri pariwisata Indonesia.
Menurut Arya, konflik internasional memicu ketidakpastian penerbangan yang berimbas pada arus wisatawan mancanegara. Meski begitu, para bos hotel ini tetap optimistis. Berkaca dari pengalaman pandemi Covid-19, Rakernas IHGMA 2026 akan merumuskan strategi manajemen yang lebih adaptif agar okupansi hotel di Lombok dan daerah lainnya tidak terus merosot akibat dinamika domestik maupun global.
Satu hal yang menarik dalam diskusi Rakernas IHGMA 2026 ini adalah sorotan terhadap perilaku tren wisata Gen Z. Ternyata, generasi muda saat ini lebih memilih menghabiskan uang untuk traveling dan mengeksplorasi destinasi baru ketimbang memikirkan pernikahan. Fenomena ini ditangkap IHGMA sebagai peluang emas untuk memulihkan sektor pariwisata.
Rakernas IHGMA juga akan merumuskan program kerja 2026–2027 yang menitikberatkan pada penguatan kerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait. Sinergi ini diharapkan mampu menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak pada industri pariwisata.
Dengan sinergi bersama pemerintah, IHGMA yakin industri hotel akan kembali menjadi tulang punggung pajak daerah yang kuat bagi kemajuan ekonomi. info/red

Berita Lainnya
Dukung Ekosistem Sepak Bola Usia Muda, BRI Region 12 Surabaya Gelar Youth Champions League 2026
Swiss-Belexpress Jemursari Hadir Dengan Konsep Hotel Mid-Scale Modern
Kian Diminati, Pengguna Kereta Api di Daop 8 Surabaya Capai 3 Juta Lebih