
Surabaya – Konsep pekerjaan dengan sistem remote working atau kerja jarak jauh kian populer di Indonesia. Sejak pandemi, banyak perusahaan beradaptasi dengan pola ini dan menerapkannya hingga kini. Menurut Dr. Artiawati, Psikolog, Dosen Fakultas Psikologi sekaligus Ketua Program Doktor Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), tren ini dapat berdampak positif bila dijalankan dengan kesadaran dan pengelolaan diri yang baik.
“Remote working itu baik sepanjang orangnya bisa mengelola diri dan pekerjaan dengan baik. Seseorang akan termotivasi apabila memiliki otonomi untuk mengatur ritme kerjanya sendiri. Pekerjaan remote memungkinkan hal itu,” jelas Artiawati.
Dalam konteks psikologi industri, remote working termasuk dalam konsep flexible working hours yang memberikan keleluasaan bagi karyawan menentukan waktu produktifnya. Menurutnya, fleksibilitas ini dapat meningkatkan motivasi, keseimbangan hidup, dan kepuasan kerja.
Namun, Arti juga mengingatkan bahwa sistem kerja jarak jauh memiliki tantangan tersendiri. Lingkungan rumah yang tidak ideal dan rasa kesepian karena minimnya interaksi sosial bisa menjadi hambatan. “Kalau kondisi rumah tidak ideal, penting untuk punya ruang kerja khusus dan mengatur komunikasi dengan keluarga. Misalnya, memberi tahu kalau jam 7–9 pagi tidak bisa diganggu karena fokus bekerja. Atau saat rapat online, minta waktu khusus supaya tidak terganggu,” sarannya.
Selain pengaturan pribadi, perusahaan juga perlu berperan aktif menciptakan keseimbangan sosial bagi pekerjanya. Arti menyebutkan pentingnya kegiatan tatap muka sesekali seperti kopi darat atau gathering untuk memperkuat keterhubungan antarpegawai. “Pertemuan langsung sesekali penting agar komunikasi lebih hangat dan tidak salah tafsir seperti saat online meeting,” tambahnya.
Meskipun dinilai efisien dari segi biaya dan fasilitas, perusahaan tetap harus memiliki sistem pemantauan kerja yang sehat tanpa menekan karyawan. “Perusahaan perlu memetakan siapa saja karyawan yang kompeten dan bisa mengelola ritme kerjanya dengan baik. Monitoring pekerjaan tetap perlu dilakukan secara wajar dan berdasarkan kesepakatan bersama,” tuturnya.
Ia juga mendorong agar perusahaan menyediakan dukungan psikologis dan fasilitas yang menunjang produktivitas karyawan remote. Dengan begitu, remote working tidak hanya menjadi tren efisiensi, tetapi juga model kerja berkelanjutan yang sehat dan manusiawi. info/red

Berita Lainnya
Pemprov Jakarta Umumkan Daftar 103 Sekolah Swasta Gratis
Perayaan 08 Tahun Himpunan Mahasiswa Papua UTM: Satu Tujuan, Satu Keluarga
Kriminalisasi Aktivis Bukan Kebetulan: BEM UNTAG Surabaya Sebut Demokrasi Sedang Dikebiri