18 October 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Yang Tertunda Bukan Berarti Terlupakan: Kebaktian Pemuda GKJW Ngagel Ajak

54 / 100 SEO Score

IMG 20261018 WA0021 scaled
Surabaya – Kebaktian Pemuda GKJW Jemaat Ngagel akan digelar pada Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 19.00–21.00 WIB, dengan mengangkat tema “Yang Tertunda Bukan Berarti Terlupakan” untuk menjawab kegelisahan generasi muda di era digital yang kerap merasa cemas ketika doa atau harapan mereka belum terwujud. Berlandaskan pada Yesaya 49:15–16, ibadah ini menegaskan bahwa kasih Allah jauh melampaui kasih manusiawi, di mana kehidupan setiap umat telah “terukir di telapak tangan-Nya” dan tidak akan pernah dilupakan. Kebaktian pemuda ini menghadirkan Pdt. Patria Yusak, S.Si. dari GKJW Wiyung sebagai pemberita Firman Tuhan.

Kebaktian pemuda diawali dengan nyanyian lagu “Harapanku”. Setelah itu, doa pembukaan dilanjutkan dengan pemuda-pemudi yang menyerukan Tuhan untuk menolong kehidupan mereka yang sedang kesulitan akhir-akhir ini melalui lagu “Di Badai Topan Dunia”. Kemudian, ibadah dilanjutkan dengan lagu “Ku Naikkan Syukurlu”. Setelah rangkaian pujian tersebut, kebaktian pemuda mengadakan ice breaking yang seru untuk menghilangkan rasa ngantuk dan memusatkan fokus pada Firman Tuhan.

Dalam konteks realita anak muda yang terbiasa dengan budaya instan dan notifikasi pesan, Pdt. Patria Yusak, S.Si. menyoroti bahaya membandingkan pencapaian diri dengan orang lain di media sosial yang dapat menciptakan ilusi keterlambatan. Sebagai ilustrasi, digunakan analogi pertumbuhan pohon bambu yang tidak menunjukkan hasil di permukaan selama bertahun-tahun, namun justru membangun akar fondasi iman yang kokoh di dalam tanah. Masa penantian ini dipandang bukan sebagai hukuman, melainkan waktu bagi Tuhan untuk membentuk karakter Kristus, kesabaran, dan kesetiaan umat.

Beliau menyebutkan tiga poin untuk disadarkan kembali. Poin pertama, Kasih Allah melebihi kasih manusia, dengan landasan Yesaya 49:15–16. Poin ini menegaskan bahwa meskipun kasih seorang ibu kepada bayinya adalah ikatan terkuat di bumi, Allah menyatakan bahwa Dia tidak akan pernah melupakan umat-Nya. Konsep “ukiran di telapak tangan” menggambarkan bahwa kehidupan dan pergumulan setiap orang selalu berada dalam pandangan Allah setiap saat, sehingga perasaan cemas dan diabaikan saat doa belum terjawab hanyalah kekeliruan pandangan manusia, karena kasih-Nya jauh melampaui.

Poin kedua ialah Hargai Timeline dan Proses Pribadimu. Pernyataan ini menyoroti jebakan media sosial di era digital yang sering membuat anak muda membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, sehingga menciptakan ilusi bahwa mereka tertinggal atau dilupakan Tuhan. Presentasi menegaskan bahwa hidup bukanlah lomba lari cepat, melainkan perjalanan iman yang unik di mana setiap orang memiliki musim pertumbuhan dan waktu Tuhan yang spesifik, sehingga masa penantian seharusnya dihargai sebagai bagian dari proses pembentukan diri, bukan sebagai tanda keterlambatan.

Poin terakhir ialah Area Pertumbuhan di Masa Penantian. Poin ini diilustrasikan dengan pohon bambu yang tidak menunjukkan pertumbuhan di permukaan selama lima tahun pertama, namun membangun akar yang dalam dan kokoh. Ilustrasi tersebut menjelaskan bahwa masa penantian adalah fondasi kekuatan rohani. Selama menunggu, umat diajak mengembangkan tiga area pertumbuhan utama. Pertama, Kesabaran, yaitu kemampuan untuk meredakan ego dan kebiasaan serba instan yang sering kali membuat seseorang ingin segera melihat hasil. Kedua, Kesetiaan, yang diwujudkan dengan tetap beribadah dan melayani Tuhan secara konsisten di tengah proses yang belum membuahkan hasil. Ketiga, Karakter Kristus, yakni kesiapan hati untuk dibentuk oleh Tuhan sebelum menerima janji-Nya, sehingga ketika waktu-Nya tiba, pertumbuhan iman terjadi dengan luar biasa.

Sebagai penutup, Pdt. Patria Yusak mengajak para pemuda/i untuk mengambil sikap doa yang benar selama menanti jawaban Tuhan, yaitu tetap berdoa dengan jujur dan menjaga komunikasi yang intim dengan Allah, terus berkarya dengan mengerjakan tugas studi maupun pekerjaan sebaik mungkin, serta menjaga komunitas persekutuan yang sehat agar pengharapan tetap tertanam dan saling menguatkan. Sikap-sikap ini menjadi wujud nyata dari kesetiaan dalam proses, bukan sekadar menunggu secara pasif. Pada akhirnya, seluruh rangkaian kebaktian bermuara pada satu pesan penguatan: “God is Always On Time”. Waktu Allah mungkin tidak selalu sesuai dengan jadwal manusia, namun waktu-Nya selalu sempurna dan membawa kebaikan. Sebagaimana ditegaskan dalam Pengkhotbah 3:11a, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,” sehingga para pemuda diingatkan untuk tetap setia menjalani proses, karena apa yang tertunda hari ini berada dalam genggaman kasih-Nya dan tidak akan pernah terlupakan.info/red/pram

54 / 100 SEO Score