
Sidoarjo – Kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Berangkat dari keprihatinan itu, STIKES Katolik St. Vincentius a Paulo (STIKVINC) Surabaya menggagas program “Pemberdayaan Komunitas Sekolah sebagai Mitigasi Kekerasan dengan Metode Inisiasi Satgas Anti-Bullying dan Kekerasan Seksual” di SDK Santo Yusup, Tropodo, Kabupaten Sidoarjo.
Program yang digelar dalam skema hibah Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini merupakan bagian dari Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) Anggaran tahun 2025. Melalui kegiatan ini, STIKVINC berupaya mewujudkan sekolah yang lebih aman, empatik, dan bebas kekerasan, dengan menekankan pentingnya pendidikan perlindungan anak sebagai bagian integral dari kesehatan jiwa dan karakter bangsa.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dengan ketua pelaksana yaitu Veronica Silalahi, M.Kep., Ners, bersama Sisilia Indriasari Widianingtyas, M.Kep., Ners, dan Ignatius Heri Dwianto, SST.Ft., M.Kes, melibatkan seluruh unsur komunitas sekolah kepala sekolah, guru, siswa, hingga orang tua. Mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga aktor perubahan sosial di lingkungan pendidikan dasar.
Kegiatan dimulai dengan sosialisasi dan penyadaran tentang berbagai bentuk kekerasan seksual dan perundungan (bullying). Peserta diajak memahami bahwa kekerasan tidak selalu tampak dalam bentuk fisik; kekerasan verbal, psikologis, dan digital kini menjadi tantangan baru di era media sosial.
“Kesadaran adalah langkah pertama menuju perlindungan,” ujar Veronica Silalahi saat memaparkan materi. “Kami ingin seluruh warga sekolah memahami bahwa anak-anak memiliki hak untuk belajar dalam suasana aman dan penuh kasih, tanpa takut dihakimi atau disakiti.
Setelah sesi penyadaran, kegiatan berlanjut dengan kampanye anti-bullying dan kekerasan seksual. Melalui penayangan video edukatif dan pemasangan poster di berbagai area sekolah, nilai-nilai empati, keberanian melapor, dan sikap saling menghormati disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak.
Antusiasme siswa begitu tinggi. Mereka bertepuk tangan, bertanya, bahkan menirukan kembali pesan dalam video dengan penuh semangat. Angel salah seorang siswa kelas III menyampaikan kesannya,
“Saya jadi tahu kalau mengejek teman itu juga bisa menyakiti. Kita harus jadi teman yang baik,” ujarnya polos namun penuh makna.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan pencegahan kekerasan tidak cukup berhenti pada ceramah, melainkan harus dihidupkan dalam praktik keseharian di sekolah.
Sebagai tindak lanjut, STIKVINC menyelenggarakan pelatihan dan lokakarya bagi tim Satgas PPK, guru, siswa, dan orang tua. Materi pelatihan mencakup mekanisme pelaporan yang aman, strategi pendampingan korban, serta penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) perlindungan anak di sekolah.
Dalam sesi itu, peserta belajar mengenali gejala kekerasan, mengelola emosi, serta mengembangkan pendekatan restoratif untuk pemulihan korban dan pelaku muda. Pendekatan ini menekankan pemulihan relasi sosial, bukan sekadar hukuman.
Isidora Iva Handayani, S.Pd Kepala SDK Santo Yusup Tropodo menindaklanjuti pelatihan dengan menerbitkan Surat Keputusan (SK) pembentukan Satgas PPK. Tim satgas segera menyusun SOP pelaporan dan pendampingan korban, serta membuat mekanisme internal untuk menindaklanjuti aduan secara empatik dan rahasia.
STIKVINC juga menyerahkan modul pelatihan, buku saku “Sadar, Kenali, dan Mari Lindungi Hakmu”, serta materi audiovisual edukatif yang dapat digunakan sekolah untuk kegiatan lanjutan. Kepala sekolah menyampaikan apresiasinya atas dukungan STIKVINC.
“Guru, siswa, dan orang tua kini lebih paham cara mengenali dan menangani kasus kekerasan. Harapan kami, sekolah menjadi lingkungan yang benar-benar aman dan nyaman bagi anak-anak,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan oleh Scholastica Irene Ratri Primativa, Ketua Satgas PPK yang baru dibentuk.
“Satgas ini penting agar anak-anak memahami arti bullying dan cara mencegahnya. Kami ingin menciptakan budaya saling menghormati di sekolah,” katanya.
Sementara itu, Renata, perwakilan orang tua siswa, menilai kegiatan ini sebagai momentum kebangkitan kesadaran bersama.
“Kami para orang tua jadi lebih paham bahwa perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah, tapi juga keluarga. Kami berharap program seperti ini terus berlanjut,” ujarnya.
Program yang diinisiasi STIKVINC tidak hanya menyoroti aspek perlindungan anak, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan empatik dan komunikasi partisipatif. Pendekatan ini selaras dengan misi perguruan tinggi untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga peka terhadap isu kemanusiaan dan sosial.
Melalui program ini, STIKVINC menegaskan komitmennya untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin keempat dan kelima — pendidikan berkualitas serta kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
“Sekolah adalah ruang pertama anak belajar tentang cinta, keadilan, dan rasa aman. Maka tanggung jawab kita bersama adalah menjaganya,” tutup Sisilia Indriasari Widianingtyas.
Dengan semangat kolaboratif ini, STIKVINC berharap inisiatif Satgas Anti-Bullying dan Kekerasan Seksual dapat menjadi model pemberdayaan komunitas sekolah yang bisa direplikasi di berbagai wilayah lain di Indonesia — demi mewujudkan generasi yang lebih sadar, peduli, dan berempati. Info/red

Berita Lainnya
Peringati IMLEK Yayasan Senopati Gelat Aksi Sosial Kunjungi Panti Werdha Surya
“Kampoeng Jadoel Muslim” BeSS Mansion Hotel Hadirkan Nostalgia Sambil Menikmati Sunset Surabaya
Smiling Sing and Dance Club Berkumpul Bersama Rayakan Imlek