
Surabaya – Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, terdapat kampung tua bernama Tambak Bayan yang menyimpan jejak sejarah panjang komunitas Tionghoa. Terletak di RT 2 RW 2, Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan, kampung ini dikenal sebagai salah satu kampung Pecinan tertua di Surabaya dan masih eksis hingga kini.
Menurut Suseno Karja, Wakil Ketua RT Kampung Tambak Bayan, kampung ini sudah ada sebelum tahun 1930. “Dulu mayoritas warganya bekerja sebagai tukang kayu, ada juga yang menjadi penjahit,” ujarnya.
Kini, kampung ini dihuni sekitar 70 kepala keluarga yang sebagian besar merupakan keturunan Tionghoa dan telah mencapai generasi kelima. Menariknya, latar belakang agama warga Tambak Bayan sangat beragam. Hal ini terjadi karena pernikahan lintas etnis dan budaya dengan warga pribumi. “Ada yang beragama Islam, tapi tetap menjalankan tradisi leluhur seperti sembahyang menjelang Imlek. Setiap rumah masih memiliki altar doa,” jelas Suseno.
Warga keturunan Tionghoa di Tambak Bayan tinggal di sebuah bangunan bersejarah yang dahulu merupakan istal kuda peninggalan kolonial Belanda. Bangunan seluas 3.800 meter persegi ini dibangun pada tahun 1866 dan mulai dihuni oleh warga Tionghoa sejak 1930-an. Meski belum pernah direnovasi, bangunan ini masih kokoh berdiri. Ruang utamanya difungsikan sebagai balai pertemuan warga, sementara bagian lainnya disekat menjadi rumah-rumah petak berukuran 4×6 meter.
Kampung Tambak Bayan juga memiliki keunikan visual. Sepanjang gang-gang kampung, dinding-dindingnya dihiasi mural berwarna cerah dengan dominasi motif naga, menciptakan suasana meriah khas Tionghoa. Menjelang Imlek, kampung ini semakin semarak dengan ornamen seperti lampion, patung naga, dan bunga plum.
Meski mayoritas warga tergolong ekonomi menengah ke bawah, mereka tetap antusias menyambut Tahun Baru Imlek. Tradisi pertunjukan Barongsai yang berkeliling kampung menjadi daya tarik tersendiri, bahkan menarik perhatian pengunjung dari luar. “Setiap tahun pasti ada Barongsai. Sudah jadi tradisi dan banyak yang datang ke sini untuk menontonnya,” ujar Suseno.
Secara historis, kampung ini merupakan bagian dari kawasan Keraton Surabaya. Menurut pakar sejarah Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, dalam buku G.H. Von Vaber disebutkan bahwa kampung Tambak Bayan sudah ada sejak abad ke-13, tepatnya tahun 1275. Dalam peta lama, kawasan ini berada di tepi Kalimas dan termasuk wilayah padat penduduk di masa lalu.
Keberadaan bangunan istal kuda yang kini menjadi permukiman warga juga menjadi saksi perkembangan kampung ini sejak era kolonial. Bagian tengah bangunan dulu digunakan sebagai tempat tinggal pemilik kuda, sementara sayap bangunan digunakan sebagai kandang.
Mayoritas warga saat ini merupakan generasi ketiga yang menghuni bangunan tersebut. Selain tukang kayu, banyak warga yang bekerja sebagai penjahit dan koki. Meski hidup sederhana, suasana di Tambak Bayan tetap harmonis dan penuh toleransi.
Identitas Tionghoa di kampung ini tetap terjaga lewat berbagai tradisi dan simbol budaya yang terus dipertahankan hingga kini. Kampung Pecinan Tambak Bayan tak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga cerminan kerukunan dan kekayaan budaya di jantung Kota Surabaya. info/red

Berita Lainnya
KAI Mulai Jual Tiket Mudik Lebaran 2026, Ini Jadwal Lengkapnya
Pameran Ke-6 “The Magic of Colours” Perupa Wanita Jawa Timur 2026
Era Baru Wisata Kediri, Bupati Dhito Minta Aktivasi Ulang Wisata Kelud dan Wilis