
Surabaya – Ketua Umum Sinode Gereja Pantekosta Tabernakel Pendeta Widjaja Hendra, mengecam keras aksi perusakan pastori Gereja Pantekosta Tabernakel / GPT Kristus Ajaib, di Desa Uelincu, Kecamatan Pamona Utara, Selasa, 31 Maret 2026.
Ia menilai tindakan tersebut sudah mencederai prinsip kebhinekaan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
“Peristiwa yang menimpa GPT Kristus Ajaib di Poso ini benar-benar merusak prinsip Bhineka dan toleransi beragama,” kata Pendeta Widjaja Hendra di Surabaya, 01 April 2026.
Sebaiknya segala masalah itu diselesaikan dengan cara kekeluargaan, kalau sama – sama ngotot maka langkah hukum harus diambil supaya hukum itu bisa ditegakkan mana yang benar dan mana yang salah tegas Pdt Widjaja Hendra.
Saya berharap supaya kejadian seperti itu tidak terulang lagi sebab organisasi GPT ini harus kembali seperti GPT pertama kali didirikan sebagai organisasi yang berdasar pada Pancasila dan Pengajaran Tabernakel dan Mempelai yang diwahyukan Tuhan kepada Opa Van Gessel serta kembali pada AD/ART yang dibuat oleh pendiri Pendeta In Juwono dan Pendeta Pong Dongalemba.
Hari Selasa, 31 Maret 2026 sekitar pukul 15.00 hingga 16.00 WITA di Pastori GPT Kristus Ajaib, Desa Uelincu, Kecamatan Pamona Utara terjadi dugaan tindak pidana memasuki rumah tanpa izin, perusakan, serta ancaman kekerasan ke Polres Poso. Laporan tersebut disampaikan oleh Pdt. Swingling Podiaro pada 1 April 2026 ke SPKT Polres Poso. info/red

Berita Lainnya
PN Surabaya Gelar Sidang Perdana Perusakan Rumah Nenek Elina
PGI dan AYANA Tegaskan Peran Strategis Gereja dalam Keadilan Iklim
Bupati Tulungagung dan 15 Orang Kena OTT KPK