14 October 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Menuju Kota yang Berdaya dan Berpengharapan: Diskusi UMC 2026

52 / 100 SEO Score

Journey to UMC 2026

Surabaya – Journey to UMC 2026, Diskusi menuju aksi nyata demi kota yang berdaya dan ber pengharapan, khususnya kota Surabaya. Acara diskusi umat kristen yang memiliki misi dan visi satu untuk pelayanan masyarakat dan persiapan acara tahun 2026 yang akan datang. Acara diskusi diadakan hari Sabtu, 11 Oktober 2025 di Restoran Mahameru, Jln Diponegoro 152, Surabaya. Acara dimulai jam 10 sampai selesai.

Acara ini bertujuan untuk merespon terhadap perubahan lingkungan hidup kota. Acara tersebut diikuti 80 peserta offline dan 30 peserta online. Acara dibawah oleh pembicara utama Esni Naibaho SKM, MDiv.

Perubahan kota Surabaya terjadi di tahun 2025, terjadinya demo dimana-mana dan sampai kekerasan. Acara UMC ditunda sampai tahun 2026 demi keamanan.

Ketua UMC Ev Ria Pasaribu, direktur eksekutif Indonesia Care memberikan kata pengantar yang menceritakan tentang kisah Lazarus bangkit kembali. Pembicara membahas tentang perintah Allah mutlak bahwa Lazarus tidak mati dan Yesus akan datang. Yesaya 23:6, kota perlu shalom dari Tuhan. Cara efektif konsultasi UMC ialah menghadapi peserta secara langsung.

UMC (Urban Ministry Consultation) adalah konferensi yang bertujuan meningkatkan pelayanan di perkotaan melalui kolaborasi gereja dan lembaga Kristen. Acara ini telah diselenggarakan secara online dan hybrid di berbagai lokasi, termasuk Jakarta dan Bandung, dengan partisipasi dari berbagai organisasi seperti Indonesian Care, Sahabat Anak, dan STT Bandung. UMC membahas isu-isu terkait misi perkotaan dan strategi pelayanan.

Pembicara utama Esni Naibaho membahas tentang bagaimana gereja merespon terhadap kota dan perubahannya setiap zaman. Awal zaman teknologi yang terjadinya globalisasi yang menukar budaya dalam bentuk positif. Zaman teknologi sangat berkembang pesat. Kita sudah mengalami urbaniztion bahwa desa pun sudah berkembang jadi kota.

Situasi Nasional dan lokal seperti Kota menjadi pusat mobilisasi besar-besaran termasuk dalam menyuarakan hak dan tuntutan, terjadi konflik dan gap antara wakil rakyat yang mempertontonkan kekayaan dengan rakyat yang semakin tertekan karena biaya hidup.penyebarluasan berita (true and false news) dan cerita settingan semakin tak terbendung, dll.

Kota juga mengalami permasalahan sosial. Indonesia mengalami banyak permasalahan terjadi kemiskinan, pembakaran, pelecehan ,dll. Semua terjadi setiap hari bahkan tambah. Maka bagaimana gereja merespon tentang kasus-kasus terjadi di beberapa kota yang di Indonesia.

Globalisasi dan kemajuan teknologi telah secara signifikan mengubah misi Kristen kontemporer, menciptakan peluang sekaligus tantangan. Cara gereja merespon kasus-kasus tersebut dengan Culture Making oleh Andy Crounc, isinya ialah Melawan budaya, Mengonsumsi budaya, Mengkritik budaya, Meniru budaya, dan Mentransformasi budaya.

Ia mengambil Lukas 10:25-37 tentang Samaria baik hati. Tentang kita mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Syarat dari Seorang ahli taurat (lawyer) perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal ialah mengasihi sesama manusia. Maka kita mengasihi semua manusia yang bukan hanya kristen aja.

1 Petrus 2:9 mengajarkan bahwa kita adalah umat pilihan Allah, jadi terang untuk dunia ini. Gereja harus pega 5 marks of mission evangelism, discipleship, compassion, justice, and creation care.

UMC mengasah peserta untuk bekerja restorasi dalam Allah dan aktif. Mengasah kepekaan untuk mengenal. Doa kepada Tuhan untuk lingkungan kota kita.

Sesi penutup acara UMC kali ini dengan diskusi kelompok kecil dan makan siang untuk peserta-peserta yang memiliki banyak lembaga dan Gereja beda-beda. info/red

52 / 100 SEO Score