
Surabaya – Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Surabaya (FT Ubaya) menciptakan GERDMetric, alat pendeteksi penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) yang memanfaatkan dua indikator utama: air liur dan gas dari mulut. Dengan dukungan teknologi IoT, hasil pengukuran dapat dipantau secara real-time melalui ponsel pintar pengguna, keluarga, maupun tenaga medis.
Ketua tim pengembang, Zizi Aulia Azzahra, menjelaskan bahwa inovasi ini berangkat dari banyaknya kasus GERD yang terlambat ditangani karena keterbatasan akses diagnosis. “Metode diagnosis pH Metri GERD dan endoskopi masih sulit dijangkau dan biayanya cukup mahal. Maka, kami menciptakan GERDMetric sebagai solusi yang lebih terjangkau, baik secara harga maupun aksesibilitas,” terang Zizi.
Menurut Zizi, kelebihan utama GERDMetric adalah akurasi tinggi melalui penggabungan dua indikator. “Air liur digunakan untuk mengukur pH atau tingkat keasaman, sedangkan udara dari mulut mendeteksi gas NH3 atau amonia yang menjadi indikator GERD. Jadi meskipun digunakan secara personal, alat ini mampu memberikan hasil yang tepat,” papar Zizi.
Cara penggunaannya cukup sederhana. Pengguna menaruh sedikit air liur pada tabung kecil di bagian bawah perangkat dan menghembuskan napas ke sensor udara di bagian atas. Dalam waktu 10 detik, layar perangkat menampilkan hasil pengukuran pH air liur, kadar amonia, serta kesimpulan kondisi pengguna, normal atau memiliki kecenderungan GERD.
Melalui integrasi IoT, GERDMetric juga mampu mengirimkan notifikasi otomatis ke ponsel pengguna, keluarga, atau rumah sakit terdekat jika hasil terdeteksi berbahaya. Perangkat ini turut dilengkapi emergency button untuk mengirim sinyal darurat secara cepat.
Zizi menambahkan bahwa GERDMetric masih membutuhkan sejumlah penyempurnaan lanjutan agar siap diproduksi massal. “Kami berharap GERDMetric mendapat dukungan dari berbagai pihak sehingga bisa dikembangkan lebih lanjut dan dikenal lebih luas. Banyak kelompok masyarakat seperti lansia yang tinggal sendiri, anak kost, atau pasien GERD kronis yang akan sangat terbantu,” ujarnya.
Dosen pembimbing sekaligus Ketua Program Studi Teknik Elektro Ubaya, Hendi Wicaksono Agung Darminto, Ph.D., memberikan apresiasi atas inovasi mahasiswa yang dikembangkan selama lebih dari enam bulan. “Ke depannya, kami dari Teknik Elektro Ubaya akan mengusahakan hak paten sederhana untuk GERDMetric sehingga perangkat ini bisa terus dikembangkan hingga tahap komersialisasi,” kata Hendi. Sebagai informasi, GERDMetric berhasil meraih Juara 2 dan Juara Favorit dalam ajang Biomedical Engineering Smart Exhibition (Benmax) 2025.info/red

Berita Lainnya
Dorong Gaya Hidup Sehat, Indah Kurnia Ingatkan Bahaya Penyakit Tidak Menular
Mensos Gus Ipul Pastikan Lulusan Sekolah Rakyat Tak Menganggur
Sinergi BPOM dan Pemkab Banyuwangi Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Keamanan Pangan