
Surabaya – Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 tak hanya menjadi ajang promosi produk unggulan daerah, tetapi juga berhasil membuka peluang bisnis baru bagi pelaku UMKM. Selama penyelenggaraan festival, Bank Indonesia (BI) Jawa Timur mencatat komitmen pembiayaan dan perdagangan senilai total sekitar Rp87 miliar.
Pencapaian tersebut menegaskan semakin kuatnya ekosistem kopi, teh, cokelat, rempah, dan produk lokal untuk menembus pasar yang lebih luas.
Capaian tersebut berasal dari 31 komitmen pembiayaan senilai Rp20 miliar serta 54 letter of intent (LoI) perdagangan dengan nilai sekitar Rp67 miliar yang tercapai melalui agenda business matching dalam rangkaian JCFF 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, mengatakan hasil tersebut melampaui target yang telah ditetapkan sekaligus menunjukkan meningkatnya kepercayaan lembaga keuangan dan pelaku usaha terhadap potensi UMKM berbasis komoditas unggulan.
“Business matching berhasil menghasilkan 31 komitmen pembiayaan senilai Rp20 miliar dan ini melampaui target. Selain itu terdapat 54 letter of intent perdagangan dengan nilai sekitar Rp67 miliar yang akan terus kami kawal hingga terealisasi menjadi transaksi riil,” ujar Ibrahim saat penutupan JCFF 2026 di Alun-Alun Surabaya, Minggu (19/7/2026).
Menurut Ibrahim, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa JCFF telah berkembang menjadi platform bisnis yang mempertemukan pelaku UMKM dengan perbankan, calon pembeli, pemerintah, akademisi, komunitas, hingga masyarakat dalam satu ekosistem ekonomi yang saling terhubung.
Ia menegaskan, festival ini tidak lagi sekadar menghadirkan pameran produk, melainkan menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat akses pembiayaan, memperluas jaringan perdagangan, serta meningkatkan daya saing produk lokal.
Mengusung tema “From Local to Global”, BI Jawa Timur ingin mendorong produk-produk unggulan Indonesia agar mampu bersaing di pasar internasional melalui penguatan kualitas, promosi, hingga akses pasar.
Ibrahim menjelaskan, sejak pertama kali digelar pada 2022, JCFF terus mengalami perkembangan. Awalnya festival hanya berfokus pada promosi kopi unggulan dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Namun seiring masukan dari berbagai pemangku kepentingan, cakupan kegiatan diperluas dengan menghadirkan komoditas teh, cokelat, madu, hingga rempah-rempah yang menjadi kekuatan ekonomi Jawa Timur dan Indonesia.
“JCFF berkembang sesuai kebutuhan pelaku usaha. Kini bukan hanya kopi, tetapi juga teh, cokelat, produk lebah, dan rempah yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan bersama,” katanya.
Selain menghasilkan komitmen investasi dan perdagangan, JCFF 2026 juga memberikan dampak langsung terhadap omzet pelaku UMKM. Selama tiga hari pelaksanaan di Alun-Alun Surabaya, sebagian besar produk peserta dilaporkan habis terjual dengan total nilai transaksi mencapai sekitar Rp1 miliar.
Menurut Ibrahim, tingginya antusiasme masyarakat menjadi sinyal positif bahwa produk-produk lokal memiliki pasar yang kuat apabila dikemas dengan baik dan dipromosikan secara berkelanjutan.
Ia juga mengapresiasi besarnya dukungan promosi melalui berbagai platform digital. Konten-konten yang beredar di media sosial seperti Instagram dan TikTok dinilai berhasil memperluas jangkauan promosi festival sekaligus meningkatkan eksposur produk UMKM kepada masyarakat.
Ke depan, Bank Indonesia Jawa Timur menegaskan akan terus memperkuat program pengembangan UMKM melalui proses kurasi produk, fasilitasi pembiayaan, business matching, serta perluasan akses pasar domestik maupun internasional.
Bagi BI Jatim, capaian JCFF 2026 menjadi indikator bahwa kolaborasi antara pemerintah, perbankan, komunitas, dan pelaku usaha mampu mempercepat transformasi UMKM sehingga tidak hanya kuat di pasar lokal, tetapi juga memiliki peluang besar menembus pasar global. info/red

Berita Lainnya
Pemerintah Sebut Armada Terbatas Jadi Faktor Utama Harga Tiket Pesawat Masih Mahal
Business Matching JCFF 2026 Pertemukan Pengusaha Kopi Koffiku dan Buyer dari Yordania
BEI – KPEI – KSEI Didukung OJK Percepat Reformasi Pasar Modal