20 October 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Gubernur BI Sebut Ekonomi Syariah Berpeluang Jadi Sumber Pertumbuhan Baru Indonesia

52 / 100 SEO Score

WhatsApp Image 2026 10 18 at 6.24.23 AM 1536x1023 1

Jakarta – Ekonomi dan keuangan syariah berpeluang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia di tengah meningkatnya potensi pasar halal global. Untuk menangkap peluang tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) memperkuat industri halal, memperluas akses pembiayaan bagi UMKM serta mendorong transformasi digital di sektor keuangan syariah.

Upaya tersebut menjadi salah satu fokus Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), pada 14–18 Oktober 2026. Mengusung tema percepatan pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah berkelanjutan melalui sinergi dan transformasi digital, ajang ini mempertemukan pelaku industri halal, lembaga keuangan, pemerintah, serta mitra internasional.

Peluang pengembangan ekonomi syariah dinilai masih terbuka lebar. Pemerintah memperkirakan belanja masyarakat muslim global mencapai 3,56 triliun dolar AS pada 2029. Potensi pasar tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat industri halal nasional, meningkatkan ekspor, dan memperluas peran UMKM dalam rantai pasok global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sambutan yang dibacakan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo, menyampaikan bahwa ekonomi syariah dapat menjadi salah satu penopang daya saing Indonesia.

Untuk mengoptimalkan peluang itu, pemerintah mendorong penguatan industri halal dan UMKM, perluasan kerja sama internasional, serta pengembangan pembiayaan dan dana sosial syariah. Peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah juga menjadi bagian dari upaya agar manfaat pertumbuhan sektor ini dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

Posisi Indonesia di pasar ekonomi syariah global

Daya saing Indonesia di sektor ekonomi syariah global menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia berada di peringkat keempat dunia.

Di dalam negeri, rantai nilai halal tumbuh 5,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama.

Sementara itu, penerbitan sukuk hijau (green sukuk) Indonesia sejak 2018 mencapai 7,7 miliar dolar AS di pasar global dan Rp 108,9 triliun di pasar domestik hingga Juni 2026. Instrumen tersebut menjadi salah satu sumber pembiayaan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, Sabtu Malam (17/10) mengatakan capaian tersebut menjadi modal untuk memperkuat posisi Indonesia di industri keuangan syariah global. Namun, pengembangan sektor ini masih membutuhkan upaya lanjutan, terutama untuk memperbesar pangsa pasar keuangan syariah, memperdalam pasar, dan meningkatkan literasi masyarakat.

Hal itu disampaikan Destry saat membuka ISEF 2026 bersama sejumlah anggota Komisi XI DPR RI dan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo di JICC, Jakarta.

BI luncurkan tiga program penguatan ekosistem syariah

Dalam penyelenggaraan ISEF tahun ini, BI meluncurkan tiga program yang menyasar penguatan pasar keuangan syariah, tata kelola zakat, dan pengembangan sumber daya manusia.

Program pertama adalah Islamic Financial Market Code of Conduct (ICoC), yakni pedoman transaksi pasar keuangan syariah yang disusun bersama pelaku industri dan otoritas terkait. Pedoman ini diharapkan dapat memperkuat integritas serta meningkatkan efisiensi pasar.

Kedua, pembaruan Indeks Penerapan Prinsip Utama Zakat atau Zakat Core Principles (ZCP) 2.0 yang dikembangkan bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Pembaruan tersebut mencakup penambahan dimensi manajemen risiko untuk memperkuat tata kelola pengelolaan zakat.

Ketiga, program beasiswa internasional yang memanfaatkan dana sosial syariah untuk mendukung mahasiswa asing kurang mampu menempuh pendidikan di Indonesia. Program ini juga diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) secara produktif sekaligus memperluas pengenalan ekonomi syariah.

Ketiga program tersebut diharapkan memperkuat fondasi ekosistem ekonomi syariah, mulai dari transaksi keuangan, pengelolaan dana sosial, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Libatkan lebih dari 1.000 pelaku industri halal

ISEF 2026 menghadirkan lebih dari 100 kegiatan secara luring dan daring dengan melibatkan mitra nasional maupun internasional serta lebih dari 1.000 pelaku industri halal.

Rangkaian kegiatan mencakup pertemuan bisnis (business matching) perdagangan dan produk wastra, Forum Bisnis Pesantren, serta forum nasional dan internasional yang membahas industri halal, zakat, wakaf, pembiayaan haji, dan pariwisata ramah muslim.

Penyelenggaraan tahun ini juga menggabungkan kegiatan ISEF dengan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Selain memperluas peluang perdagangan, penyelenggara memanfaatkan teknologi digital imersif untuk menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas, termasuk generasi muda.

Salah satu inisiatifnya adalah kompetisi Video Kreatif Ekonomi Syariah (VITRAH) dan ISEF World Island di platform Roblox. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan konsep ekonomi dan keuangan syariah melalui media digital yang dekat dengan generasi muda.

Sepuluh UMKM binaan BI Jatim ikut tampil

Penguatan industri halal dalam ISEF 2026 juga melibatkan pelaku usaha dari daerah. Sebanyak 10 UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur turut memamerkan produk mereka, mulai dari busana muslim hingga makanan halal. Di sektor modest fashion, empat UMKM binaan program IKRA, yakni Elva Fauqo, Gita Orlin, Riris Ghofir, dan Ulur Wiji, menampilkan produk di Hall A.

Sementara itu, sektor makanan halal diisi enam UMKM. Sari Bhuana Nusajaya dengan merek Arana Spice, Pareto Estu Guna dengan merek Matoh, serta Indigo Sejahtera dengan merek Zumami mengikuti zona bisnis antarpelaku usaha (business-to-business/B2B).

Adapun Honey Cookies, Momachi, dan Berkah Pangan melalui merek Syaza mengikuti zona penjualan yang menyasar konsumen langsung (business-to-consumer/B2C).

Arana Spice juga tampil di area Jawara Ekspor di depan Assembly Hall. Kehadiran pelaku usaha daerah dalam ajang tersebut diharapkan membuka peluang kemitraan dan memperluas akses pasar, termasuk ke luar negeri.

ISEF 2026 merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional melalui kolaborasi pemerintah, otoritas, industri, akademisi, dan pelaku usaha.

Tantangan berikutnya adalah memastikan penguatan ekosistem tersebut berujung pada peningkatan produktivitas UMKM, perluasan pasar ekspor, serta kontribusi yang semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Info/red

52 / 100 SEO Score