
Probolinggo – Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, mengingatkan pentingnya memperdalam pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan sebagai bekal menghadapi berbagai perubahan yang terjadi saat ini. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang berlangsung di Probolinggo, Jawa Timur, pada 2 Juni 2026 dan diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Mufti menilai Indonesia tengah dihadapkan pada sejumlah tantangan yang datang dari berbagai sektor. Mulai dari perkembangan situasi global, isu ketersediaan pangan, hingga kondisi ekonomi yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Menurutnya, di tengah berbagai dinamika tersebut, prinsip-prinsip yang terkandung dalam Empat Pilar Kebangsaan masih memiliki peran strategis sebagai acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai tersebut dinilai mampu memperkuat kohesi sosial sekaligus menjaga keutuhan nasional.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi yang penuh tantangan saat ini membutuhkan semangat kebersamaan yang semakin kuat. Karena itu, penerapan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari dianggap penting untuk menumbuhkan solidaritas dan mempererat hubungan antarwarga.
Pada kesempatan yang sama, Mufti menjelaskan bahwa konsep Empat Pilar Kebangsaan mulai diperkenalkan secara luas pada masa kepemimpinan almarhum Taufiq Kiemas sebagai Ketua MPR RI periode 2009–2014. Empat Pilar tersebut meliputi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mufti menegaskan bahwa Pancasila menempati posisi fundamental sebagai dasar negara sekaligus panduan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Ia mengingatkan bahwa gagasan tersebut digali dari nilai-nilai yang hidup di Nusantara dan diperkenalkan oleh Soekarno dalam pidato bersejarah pada 1 Juni 1945.
Selain membahas wawasan kebangsaan, Mufti juga mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Menurutnya, perhatian terhadap sesama menjadi salah satu modal penting dalam memperkuat daya tahan sosial masyarakat, khususnya saat menghadapi tekanan ekonomi.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga hubungan harmonis antarumat beragama serta menumbuhkan sikap saling menghargai di tengah kemajemukan bangsa. Keragaman suku, budaya, dan latar belakang sosial, lanjutnya, merupakan aset yang harus dijaga agar tetap menjadi kekuatan pemersatu bangsa.
“Keberagaman adalah modal besar bagi Indonesia. Jika persatuan terus terjaga, berbagai agenda pembangunan dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat,” kata Mufti. info/red

Berita Lainnya
Bupati Kediri Mas Dhito Tinjau Lokasi Hotel untuk Jamaah Calon Haji
Pemkab Kediri Siapkan Anggaran Rp30 M untuk Beasiswa Tahun Ini
Anggota DPRD Malang Sebut Pemotongan TKD Berdampak pada Perbaikan Sekolah Rusak