
Surabaya Masa menopause bagi wanita sering dianggap sebagai akhir dari masa produktif. Namun anggapan ini terbantahkan jika faae yang dilalui dengan penanganan yang tepat. Tubuh akan tetap sehat, aktif dan bahagia.
“Dengan pola hidup yang tepat dan deteksi dini berbagai risiko penyakit, kualitas hidup setelah menopause tetap bisa terjaga dengan baik. Meski sudah menopause tetaplah aktif bergerak dengan berbagai aktifitas maka kualitas hidup setelah menopause tetap bisa terjaga dengan baik, ” ujar .Dokter Spesialis Densitometri Ciputra Hospital, dr. Boedi Prihatini Yenniastoeti, M.Biomed., (AAM).CCD, yang hadir sebagai pembicara di Dian Women & Children Center (DWCC) menggelar Health Talk with Specialists: “Enhancing Quality of Life after Menopause” yang digelar Ciputra Hospital Surabaya, Sabtu (6/6/2026)
dr. Boedi Prihatini Yenniastoeti, juga menyoroti risiko osteoporosis yang meningkat drastis pasca menopause. Menurutnya wanita pasca menopause paling rentan osteoporosis karena penurunan hormon estrogen. Estrogen berfungsi menjaga kepadatan tulang. Saat hormon ini turun, tulang jadi lebih cepat keropos.
Untuk deteksi dini, dr. Yenny merekomendasikan pemeriksaan densitometri. “Pemeriksaan ini tidak sakit, hanya berbaring beberapa menit. Idealnya wanita mulai cek di usia 45-50 tahun, atau lebih awal jika ada faktor risiko seperti riwayat keluarga, berat badan rendah, atau perokok.” imbuhnya.
Tak hanya untuk mengukur kepadatan tulang, teknologi densitometri juga dapat digunakan untuk mengetahui komposisi tubuh, mulai dari massa tulang, massa otot, hingga kadar lemak tubuh.
Menurut dr. Yenny, pemeriksaan komposisi tubuh menjadi penting karena tidak sedikit orang yang terlihat kurus namun sebenarnya memiliki kadar lemak tinggi dan massa otot rendah. Kondisi ini dikenal sebagai obesitas sarkopenik dan dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit.
“Sering kali orang menganggap gemuk itu identik dengan sehat. Padahal belum tentu. Yang lebih penting adalah komposisi tubuh yang seimbang antara otot, lemak, dan tulang,” ujarnya.
Olahraga yang aman untuk usia 50+ versi dr. Yenny: jalan cepat, yoga, pilates, dan latihan beban ringan. “Fokus pada konsistensi dan pencegahan jatuh. Tulang keropos itu bukan takdir karena tua. Kalau kita jaga sejak dini, kita bisa tetap mandiri dan aktif sampai usia lanjut.”
Sememtra itu, Dr. dr. Salmon Charles, Sp.OG, Spesialis Obstetri & Ginekologi menjelaskan bahwa menopause disebut “resmi” secara medis jika wanita tidak mengalami haid selama 12 bulan berturut-turut tanpa sebab lain.
“Fase yang justru sering diabaikan adalah perimenopause. Di fase ini, gejala seperti hot flashes, gangguan tidur, dan mood swing sudah mulai muncul, tapi banyak wanita mengira itu hanya ‘capek biasa’,” ungkap Dr. Salmon.
Terkait Hormon Therapy, beliau meluruskan: “Tidak semua wanita boleh, tapi tidak semua dilarang. Keputusan Hormon Therapy harus berdasarkan evaluasi riwayat kesehatan individu sesuai guideline terbaru. Dokter akan menimbang manfaat vs risiko,” tegasnya.
Banyak wanita juga khawatir kehidupan seksual akan berakhir setelah menopause. Namun dr Salmon memberikan solusinya.
“Dengan edukasi, penggunaan pelumas, dan komunikasi terbuka dengan pasangan, kualitas hidup seksual pasca menopause tetap bisa dijaga. Menopause bukan penyakit. Kenali perubahan tubuh sejak usia 40+. Jangan panik, tapi siapkan diri dengan cek kesehatan rutin ke dokter kandungan,” pungkasnya. info/red

Berita Lainnya
BPJS Kesehatan Kembali Gelar Edukasi Bagi Insan Pers Surabaya Terkait Program JKN dan Kepesertaan
Profira Kenalkan XERF, Inovasi Pengencangan Wajah Minim Downtime
Peningkatan Kesehatan Mental dan Regulasi Emosi dengan Pelatihan Journaling Bagi Ibu-Ibu PKK di Desa Kertosono Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik