24 April 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Banyuwangi Gelar Festival Rondo Reni Angkat Kuliner Osing

61 / 100 SEO Score

festival rondo reni

Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mengintensifkan pelestarian kuliner tradisional sebagai bagian dari identitas daerah melalui Festival Rondo Reni yang digelar di Desa Banjar, Kecamatan Licin. Kegiatan ini menjadi bagian dari kalender Banyuwangi Festival 2026.

Festival yang berlangsung pada Sabtu malam (18/4/2026) tersebut menampilkan kekayaan kuliner khas masyarakat Osing, yakni Sego Lemeng dan Kopi Uthek. Jalanan desa disulap menjadi ruang makan terbuka, di mana warga menyajikan hidangan leluhur kepada para wisatawan. Aroma nasi berbumbu yang dipanggang dalam bambu menciptakan suasana khas di kaki Gunung Ijen.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa kuliner tradisional merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat.

“Banyuwangi memiliki akar tradisi yang kuat, tidak hanya dalam seni dan budaya, tetapi juga kuliner. Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen melestarikannya melalui event yang menarik sekaligus menjadi daya tarik wisata,” ujarnya, Minggu (19/4/2026) kemarin.

Tokoh adat Desa Banjar, Lukman Hakim, menjelaskan bahwa Rondo Reni berkaitan dengan proses panen pohon aren.

“Reni adalah bunga pohon aren, sementara rondo merujuk pada proses pemisahan,” jelasnya, menggambarkan tradisi pemisahan bunga aren untuk menghasilkan gula.

Sementara itu, Kepala Desa Banjar, Sunandi, menuturkan bahwa sajian dalam festival ini sarat filosofi kehidupan masyarakat Osing. Kopi Uthek yang disajikan dengan gula aren padat melambangkan keseimbangan pahit dan manis dalam kehidupan. Sedangkan Sego Lemeng mencerminkan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dari hasil alam.

Proses pembuatan kedua kuliner tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Sego Lemeng dibuat dari nasi berbumbu yang dicampur ayam cincang atau ikan, dibungkus daun pisang, lalu dimasukkan ke dalam bambu muda dan dipanggang selama hingga empat jam hingga menghasilkan cita rasa gurih berasap.

Sementara Kopi Uthek menawarkan pengalaman unik, di mana penikmat menggigit gula aren padat sebelum menyeruput kopi hitam pahit. Bunyi “uthek” yang muncul saat menggigit gula menjadi asal-usul nama minuman tersebut.

“Kombinasi rasa gurih Sego Lemeng dan sensasi pahit-manis Kopi Uthek memberikan pengalaman yang berbeda,” ujar Edy.

Dengan memasukkan kuliner lokal ke dalam kalender pariwisata resmi, Banyuwangi berharap tradisi Osing tetap lestari dan dikenal generasi mendatang, sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat desa.Info/red

61 / 100 SEO Score