
Solo – Sebagai UMKM Teh Gambyong Kemuning di Dusun Mbadan RT 04/05, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terus mengembangkan produktivitas dan kapasitas produksi melalui pemanfaatan teknologi serta pendampingan Bank Indonesia (BI).
Salah satu keunikan produk yang dihasilkan adalah Teh Hitam Gambyong yang memiliki karakter rasa dan aroma berbeda dibandingkan teh pada umumnya. Setelah diseduh, teh tersebut menghadirkan sensasi aroma dan cita rasa yang menyerupai kopi.
Karakter khas tersebut menjadi salah satu daya tarik Teh Gambyong Kemuning. Pengolahannya dilakukan dengan teknik tersendiri sehingga menghasilkan produk teh dengan cita rasa dan aroma yang menjadi ciri khasnya.
Pemilik UMKM Teh Gambyong Kemuning, Eko Wuryanto, mengatakan dukungan BI turut membantu meningkatkan produktivitas usaha, salah satunya melalui bantuan peralatan produksi dan mesin panen.
Menurut Eko, mesin panen tersebut digunakan untuk mempercepat proses pemetikan sekaligus meningkatkan hasil panen. Sebelum menggunakan mesin, seorang pemanen dengan alat tradisional seperti ani-ani atau ketam rata-rata hanya mampu memanen sekitar 30 hingga 60 kilogram teh per hari.
“Kalau dengan alat ini bisa nanti per hari minimal 70, 80 sampai 100 kilogram,” kata Eko. Selasa, 6/10/2026.
Mesin panen dapat digunakan setelah bidang petik tanaman teh dibuat rata. Dengan permukaan tanaman yang seragam, mesin tersebut dapat digeser seperti saat memotong rumput sehingga proses pemanenan menjadi lebih cepat dan efektif.
Penggunaan teknologi tersebut juga berdampak terhadap produktivitas petani. Hasil panen yang diperoleh dapat meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan pemanenan secara manual.
“Secara otomatis hasil yang didapatkan petani itu akan lebih banyak, jadi hampir dua kali lipat bahkan lebih,” ujarnya.
Selain mesin panen, BI juga memberikan bantuan berupa Alkon atau pompa air. Peralatan tersebut digunakan untuk membantu mengairi kebun, terutama ketika memasuki musim kemarau saat pasokan air berkurang.
“Yang kita perlukan adalah alat. Jadi segala sesuatu alat-alat yang diberikan memang bantuan yang kita butuhkan,” jelasnya.
Eko menuturkan, UMKM Teh Gambyong Kemuning mulai membangun kerja sama dengan para petani sejak 2015. Saat ini terdapat sekitar 26 petani yang tergabung dalam kerja sama tersebut dengan luas lahan keseluruhan mencapai sekitar 50 hektare.
Lahan tersebut bukan seluruhnya milik pribadi, melainkan merupakan lahan yang dikelola melalui kerja sama dengan para petani di wilayah Kemuning.
Tanaman teh yang dikelola rata-rata berusia sekitar 35 tahun. Eko menjelaskan, sebagian tanaman yang ada saat ini merupakan hasil peremajaan pada era 1990-an karena tanaman sebelumnya mengalami penurunan kualitas dan kuantitas.
Untuk memenuhi kebutuhan bibit, pihaknya juga memperoleh dukungan pemerintah melalui bantuan bibit. Sebagian bibit teh berasal dari sentra pembibitan di Jawa Barat, termasuk Bandung dan Cianjur.
Dari sisi produksi, UMKM Teh Gambyong Kemuning mampu menghasilkan sekitar 1 hingga 1,5 ton teh per hari pada musim penghujan.
Namun, produksi tersebut mengalami penurunan ketika memasuki musim kemarau. Kondisi cuaca, termasuk dampak El Nino, turut memengaruhi produktivitas kebun teh.
“Kalau di kemarau paling maksimal hanya 300 sampai 600 kilogram,” ungkap Eko.
Menurutnya, penurunan produksi tersebut cukup signifikan dibandingkan kondisi pada musim penghujan yang dapat mencapai 1 hingga 1,5 ton per hari.
Salah satu keunggulan Teh Gambyong Kemuning adalah karakter rasa dan aromanya yang khas. Eko menyebut, teh yang diproduksi memiliki sensasi menyerupai kopi ketika diminum.
“Seolah-olah cangkir atau gelas yang kita minum buat minum teh tadi seolah-olah habis buat minum kopi. Jadi ada aroma kopinya,” ungkapnya.
Selain teh hitam, bahan baku dari tanaman teh juga dapat diolah menjadi berbagai produk. Di antaranya teh hijau, teh hitam, teh putih, dan teh oolong.
Menurut Eko, dari sekitar lima produk utama tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi sekitar 16 produk turunan.
Dari sisi pemasaran, produk Teh Gambyong Kemuning kini telah merambah pasar nasional. Pengiriman dilakukan ke sejumlah wilayah di Indonesia, meski penjualan terbesar masih berada di wilayah Jawa Tengah dan Jabodetabek.
Eko mengatakan perluasan pasar terus dilakukan seiring dengan peningkatan kapasitas produksi dan pengembangan produk.
Dukungan BI juga dinilai berperan dalam memperkenalkan produk Teh Gambyong Kemuning ke pasar yang lebih luas.
“Peran BI Alhamdulillah sangat besar. Bagaimana kita diberikan kesempatan untuk promosi ke berbagai wilayah memperkenalkan produk,” ujar Eko.
Selain promosi, BI memberikan dukungan sarana dan prasarana untuk membantu meningkatkan kapasitas produksi. Bantuan tersebut mencakup peralatan untuk pengolahan dan perawatan lahan, mesin panen, hingga peralatan yang digunakan dalam proses produksi.
Dampak pembinaan tersebut terlihat dari peningkatan produktivitas UMKM. Eko memperkirakan produksi meningkat sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan sebelum mendapatkan pembinaan dari BI.
“Kami dibina mulai tahun 2019,” katanya.
Eko berharap dukungan terhadap UMKM dan kelompok tani dapat terus berlanjut, terutama dalam pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi, kapasitas produksi, serta memperluas pemasaran produk teh lokal ke pasar nasional.info/red

Berita Lainnya
Enam KRL INKA Kembali Melaju, KAI Pastikan Keselamatan
HIPMI Minta BUMN Karya Bukan Penguasa Proyek Konstruksi
BI Optimistis Keuangan Syariah Mampu Capai 15 Persen