
Banyuwangi – Gandrung Sewu 2026 akan tampil dengan wajah berbeda. Setelah 14 tahun digelar pada siang hari, pertunjukan kolosal yang menjadi salah satu ikon budaya Banyuwangi itu untuk kali pertama akan digelar malam hari pada 24 Oktober mendatang.
Perubahan waktu pertunjukan itu akan dipadukan dengan tata cahaya dan teknologi pertunjukan. Lebih dari 1.000 penari Gandrung akan tampil menggunakan elemen fosfor yang dipadukan dengan pencahayaan untuk menghadirkan efek visual berbeda dalam suasana malam.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan perubahan konsep tersebut dilakukan untuk memberikan pengalaman baru bagi penonton sekaligus wisatawan.
“Setiap tahun kami berupaya menghadirkan sesuatu yang baru dalam Gandrung Sewu. Tahun ini untuk pertama kalinya kita hadirkan pada malam hari. Ini bukan sekadar perubahan waktu pelaksanaan, tetapi kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada penonton dan wisatawan,” kata Ipuk.
Menurut Ipuk, perubahan konsep tidak menghilangkan ruh utama Gandrung Sewu sebagai pertunjukan seni tradisi. Gerak, irama, ekspresi, dan nilai budaya Gandrung tetap menjadi bagian utama pertunjukan.
“Tradisi tidak harus diam di tempat. Tradisi bisa terus bergerak, beradaptasi, dan berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya. Esensi utama Gandrung Sewu tetap seni tari Gandrung itu sendiri, dengan gerak, irama, ekspresi, dan nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur kita,” ujarnya.
Konsep baru tersebut disiapkan Pemkab Banyuwangi bersama InJourney yang tahun ini memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Gandrung Sewu. Kolaborasi itu diarahkan untuk memperkuat daya tarik event budaya tersebut bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara.
SVP Corporate Secretary InJourney Yudhistira Setiawan mengatakan Gandrung Sewu memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu signature cultural event Indonesia.
“Dalam rangka memperkuat dan mengamplifikasi event Gandrung Sewu ini agar menjadi daya tarik yang lebih besar bagi wisatawan di Nusantara maupun mancanegara, kami merancang bersama Pemkab konsep pertunjukan baru pada malam hari, tanpa melupakan esensi dari budaya Gandrung itu sendiri,” kata Yudhistira.
Dia berharap Gandrung Sewu tidak berhenti sebagai pertunjukan yang ramai pada hari pelaksanaan. Event tersebut diharapkan menjadi bagian dari rangkaian pengalaman wisata yang mendorong dampak lebih luas bagi sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
“Harapannya ke depan, wisatawan yang akan hadir ke Gandrung Sewu dapat memiliki satu seamless experience,” ujarnya. Info/red

Berita Lainnya
Oikoumene Baru di Bumi Saruma MPH PGI Daerah Halmahera Selatan Resmi Dilantik
Pameran Lukisan SBY di Surabaya Dikunjungi 11.360 Orang
Menabung Air Foundation Dukung Penguatan Pengelolaan DAS Cegah Krisis Air di Ponorogo