
Surabaya – Limbah kopi yang selama ini menjadi persoalan lingkungan di Desa Sumberdem, Malang, kini mulai diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya menggandeng Pemerintah Australia melalui program Direct Aid Program (DAP) untuk melatih petani mengubah kulit dan ampas kopi menjadi produk komersial.
Program bertajuk Renewable Energy Solutions and Efficient Waste Management for Sustainable Coffee Processing ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan limbah, tetapi juga mendorong peningkatan ekonomi keluarga petani melalui hilirisasi produk.
Ketua tim Abdimas UK Petra, Togar Wiliater Soaloon Panjaitan, Ph.D., bersama anggota Iwan Halim Sahputra, Ph.D., Dr.-Ing. Indar Sugiarto, dan Hariyo Priambudi Setyo Pratomo, M.Phil., memberikan pelatihan pengolahan kulit kopi menjadi sirup cascara dan teh, serta pemanfaatan ampas kopi menjadi arang berkualitas. “Kami ingin mengubah paradigma. Limbah kopi bukan lagi sisa produksi yang mengotori, melainkan sumber peluang usaha baru untuk meningkatkan pendapatan keluarga petani,” terang Togar Wiliater Soaloon Panjaitan, Ph.D.
Kegiatan yang berlangsung di Balewiyata Majelis Agung GKJW Malang pada 17 April 2026 itu melibatkan petani dan kelompok perempuan yang tidak hanya menerima materi, tetapi juga praktik langsung produksi.
Wakil Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Christine Bui, menekankan pentingnya peran perempuan dalam keberhasilan program ini. “Dengan melibatkan kaum perempuan dalam mengolah kulit kopi menjadi barang bernilai, program ini menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus mempromosikan mata pencaharian yang berkelanjutan,” tutur Christine Bui.
Tim UK Petra juga menggandeng Dr. Renny Indrawati dan Dr. apt. Ratnaningrum Dewi sebagai pelatih dalam kegiatan tersebut. Meski potensi ekonominya besar, mereka mengakui masih ada tantangan, terutama pada ketersediaan alat dan akses pasar. “Kami tidak berhenti di pelatihan saja. Ke depan, tim UK Petra akan memberikan pendampingan lanjutan mulai dari standarisasi mutu, desain pengemasan hingga strategi pemasaran agar produk ini bisa menembus pasar yang lebih luas,” tambah Togar Wiliater Soaloon Panjaitan, Ph.D.
Salah satu peserta, Harjendra, mengaku mendapatkan perspektif baru dari pelatihan ini. “Selama ini kulit kopi hanya jadi pupuk atau dibuang. Sekarang kami tahu ini bisa jadi sirup dan teh bahkan punya nilai jual. Ini sangat membantu kami mencari penghasilan tambahan,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi ini, UK Petra mendorong terbentuknya ekosistem pengolahan kopi yang berkelanjutan, ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal.info/red

Berita Lainnya
Sentuhan Budaya Jawa Timur di Altar GKJW, Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Raih Juara 2 Sayembara Desain
Kisah Marita, Lulusan Terbaik Informatika ITN Malang yang Kuliah Sambil Jualan
Mensos Gus Ipul Cek Kesiapan Sekolah Rakyat di LAN