2 May 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Mewujudkan Harmoni Sosial di Bumi Bhineka Tunggal Ika

12 / 100 SEO Score

Praktik Baik Inovasi Pembelajaran di Sekolah Berbasis Experimental Learning dan Contextual Teaching and Learning pada Mapel Sosiologi

Penulis: Erna Widi Septiharyanti, S.Sos

Bumi Bhineka Tunggal Ika terancam terkoyak oleh isu SARA yang semakin mengkhawatirkan. Kekayaan keragaman sosial perlahan—jika tidak segera dikendalikan—akan sirna dihempas oleh meningkatnya polaritas/gesekan SARA di masyarakat.

“Membumikan Bhineka Tunggal Ika” adalah sebuah kontinyuitas upaya yang harus terus dilakukan dalam menghadapi keberagaman masyarakat. Dalam konteks pendidikan anak bangsa, sekolah memiliki tanggung jawab memberikan pemahaman yang benar akan makna perbedaan dan harmoni sosial sebagai pondasi membentuk karakter bangsa yang menghargai perbedaan.

​Strategi pembelajaran yang tepat membantu upaya memberikan pemahaman yang benar pada siswa tentang perbedaan sosial dan bagaimana menerapkan prinsip kesetaraan untuk menciptakan harmoni sosial. Inovasi pembelajaran yang tepat menjadi tantangan terbesar dalam upaya ini. Pembelajaran konvensional yang berpusat hanya di kelas dan textbook-based terbukti sering gagal mengubah persepsi dan prasangka yang telah mengakar kuat di benak siswa.

​Tulisan ini bertujuan menyajikan praktek baik inovasi pembelajaran proyek wawancara tentang perbedaan sosial, prinsip kesetaraan dan harmoni sosial di sekolah. Proyek ini merupakan solusi kontekstual dan konstruktif dalam upaya menginternalisasi prinsip kesetaraan dalam membangun empati siswa menghadapi perbedaan sosial di sekitar mereka. Melalui pengalaman langsung berinteraksi dengan orang yang berbeda suku atau agama, siswa akan mampu memahami orang lain secara utuh dan menyikapinya dengan penuh toleransi.

Tantangan Kognitif dan Afektif

​Belajar Sosiologi tak sekedar belajar di tataran kognitif. Tak hanya memahami konsep, tetapi justru lebih menyasar pada kesadaran afektif yang menyentuh perubahan sikap, empati, kepekaan dan kepedulian sosial siswa.

Dalam konteks memahami materi perbedaan sosial, prinsip kesetaraan dan harmoni sosial, siswa tak sekedar belajar pemahaman kognitif tentang diferensiasi dan stratifikasi sosial. Lebih dari itu, siswa didorong untuk memiliki empati, kesadaran afektif dan perubahan sikap terhadap kelompok lain yang berbeda. Diharapkan, para siswa mampu ikut berperan menciptakan masyarakat yang inklusif.

Tantangannya adalah pada upaya mengimplementasikan pemahaman kognitif ke afektif. Bagaimana memindahkan pemahaman kognitif (apa itu perbedaan sosial) ke afektif (bagaimana merasa dan bertindak setara dengan kelompok lain). Disinilah, pentingnya bagi guru menerapkan inovasi pembelajaran yang berbasis pengalaman (experimental learning) dan kontekstual (contextual teaching and learning).

Di SMA tempat saya mengajar –dimana profil siswanya lebih homogen secara etnis dan status sosial ekonomi– upaya memindahkan pemahaman kognitif ke afektif siswa dalam memahami materi ini menjadi tantangan besar. Proyek “Wawancara Harmoni Sosial” menjadi pilihan untuk menjawab tantangan ini. Para siswa diminta mewawancarai satu petugas kebersihan (cleaning service) atau petugas satpam yang bertugas di sekolah sebagai wujud pembelajaran berbasis pengalaman (experimental learning).

Alasan dipilihnya petugas kebersihan atau satpam karena mayoritas mereka berbeda agama dan suku dengan para siswa. Mereka mayoritas beragama Islam dan beretinis Jawa, sedangkan para siswa mayoritas Kristen/Katolik dan beretnis keturunan Tionghoa. Dengan mewawancarai mereka, para siswa memiliki pengalaman langsung dalam memahami perbedaan sosial, menerapkan prinsip kesetaraan, dan bagaimana menciptakan harmoni sosial di lingkungan sekolah.

 

Dasar Pemikiran

Proyek “Wawancara Harmon Sosial” berakar pada pembelajaran berbasis pengalaman (experimental learning) dari David Kolb dan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning). Menurut David Kolb, belajar tidak sekedar menerima informasi secara pasif, melainkan secara aktif. Belajar tak sekedar mendengarkan penjelasan guru atau membaca buku, tetapi sebuah siklus/putaran yang berkelanjutan. Pembelajaran yang paling efektif adalah belajar dari pengalaman langsung, yang diubah menjadi pengetahuan yang bermakna.

Siswa diajak menjadi pembelajar aktif yang tak hanya belajar perbedaan sosial dari membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru, tetapi langsung melalui kegiatan wawancara. Dengan begitu, siswa mengalami sendiri, merefleksikan, menyimpulkan, dan menerapkan pengetahuan tersebut secara langsung. Dari data otentik yang diperoleh, mereka akan mampu mengusulkan solusi atas masalah nyata yang dihadapi.

Tak hanya itu, siswa belajar keterkaitan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata. Siswa mampu mengaitkan konsep perbedaan sosial, prinsip kesetaraan dan harmoni sosial dengan realitas yang mereka lihat dan dengar langsung. Dengan demikian pembelajaran terasa bermakna, relevan, dan tidak abstrak. Wujud konsep perbedaan sosial nyata di lingkungan sekolah mereka sendiri (contextual teaching and learning).

Alhasil, pengalaman mengerjakan proyek berbasis experimental learning dan contextual teaching and learning, terbukti membuat siswa mampu memaknai relevansi materi pelajaran karena bersentuhan langsung dengan lingkungan sosial terdekat mereka. Terbukti, hasil belajar siswa dalam memahami materi perbedaan sosial, prinsip kesetaraan dan harmoni sosial rata-rata mencapai tujuan pembelajaran.

 

Daftar Pustaka:

Rusman, (2018), Model-model pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru (edisi cetakan 7)), Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sanjaya, Wina, (2006), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media.

12 / 100 SEO Score