
Surabaya – Ulang tahun ke-71 Nunung Harso -dulu dikenal dengan Nunung Bakhtiar- diperingati dengan istimewa. Yakni menggelar pameran lukisan tunggal. Bukan yang pertama melainkan yang kelima.
Pameran pertamanya digelar pada 2000 di Surabaya. Lalu di Belanda pada 2003, di dua tempat yakni di Zoetermeer, berjudul Dancing on The Canvas atau Menari di Atas Kanvas dilanjutkan pameran di kota lahir Van Gogh, Zundert, tepatnya di Cultureel Centrum van Gogh. Pameran ketiga pada 2005 digelar di New Zealand. Yang keempat pada 2007, digelar dua kali yakni di Surabaya pada 14 Februari dan di Jakarta pada 26 April, dengan judul Sat It With Flower On Canvas.
Berjarak cukup lama yakni 16 tahun kemudian, Nunung baru bisa menggelar pameran tunggal lagi. Menggandeng Heti Palestina Yunani, sebagai penulis pameran, pamerannya kali ini dijuduli Intuitif. ”Judul itu muncul setelah saya berjumpa Mbak Heti. Semula berjudul Say It With Flower. Tapi kemudian diubah menjadi Intuitif atas saran Mbak Heti,” kata perempuan kelahiran 14 Juni 1952 itu.
Ada sebab mengapa Intuitif. Menurut Heti, intuisilah yang menuntun Nunung menjadi pelukis. Intuisi juga yang membuat Nunung membuat keputusan-keputusannya selama ini. Intuisi itu selalu dipakai Nunung untuk membuat karya-karya. Seperti dituntun untuk mewujudkan apa yang sedang tumbuh dalam benaknya. Hampir semua lukisan Nunung dari beberapa masa dibuat dengan mengandalkan intuisinya.
Apalagi nunung adalah pelukis otodidak. Memang ayahnya -Soewarno Harso- bisa melukis. Pun dua adik laki-lakinya yang menjadi pelukis. Satu adiknya yang almarhum belajar seni rupa di ISI Yogyakarta dan satunya berprofesi melukis hingga sekarang. Tapi hingga awal 1980an, Nunung sama sekali tak pernah melukis. Maka intuisilah yang kemudian membawa Nunung terus melukis hingga usia 71 tahun.
Dalam ilmu psikologi yang juga dipelajari Nunung, intuisi merupakan bentuk pengetahuan yang muncul dalam kesadaran tanpa pertimbangan yang jelas. Itu bukan magis melainkan firasat yang dihasilkan oleh pikiran bawah sadar yang dengan cepat bergeser melalui pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang bertambah. Sebagai sarjana psikologi dari Universitas 17 Agustus Surabaya, Nunung percaya pada intuisinya.
Menurut pengantar pameran Dr Pribadi Widodo MSn, seniman bekerja menghasilkan karya-karyanya diawali dari ketajaman intuisinya, bertolak dari gejala eksternal, seperti halnya berbagai peristiwa, yang terjadi di lingkungan kehidupannya, menyangkut sosial, budaya, politik, ekonomi, derita, tragedi, keindahan alam, dan sebagainya. Ataupun gejala internal (subjektif) seperti halnya pengalaman hidup, refleksi diri, suasana batiniah, dan sebagainya.
Jika melihat karyanya dalam Intuitif yang berjumlah 17, dapat dilihat bagaimana gaya ekpresionisme yang dianut Nunung yang sering dikenal sebagai pelukis bunga. Beberapa tampak seperti karya-karya para maestro seni rupa. Salah seorang yang dianggap ditiru oleh Nunung adalah Van Gogh. Apalagi jika Nunung melukis bunga matahari, objek yang paling dia sukai di antara bunga yang lain.
Banyak pertanyaan orang tentang lukisan bunga matahari yang dia buat. Tapi meskipun telah perpameran di luar negeri seperti Belanda, Kanada, Prancis, Jerman, dan New Zealand dengan bunga matahari, tetap dengan kepolosannya, Nunung mengaku bahwa dia tak pernah mendengar nama Van Gogh sama sekali. ”Enggak tahu, enggak kenal,” timpal Nunung, jujur.
Sementara dari sekian bunga yang menjadi objek kebanyakan Nunung selama melukis, sunflower adalah kecintaaannya. Tak terhitung berapa kali sulung lima bersaudara itu melukisnya di atas kanvas. Untuk Intuitif kali ini saja, Nunung menyertakan empat lukisan berobjek bunga matahari. Berjudul Wujud Impianku (50×70 cm, Acrylic on Canvas, 2023), Sunflower (50×65 cm, Acrylic on Canvas, 2010), Red Between Yellow (50×55 cm, Acrylic on Canvas, 2022), dan Merah di Antara Kuning (70×90 cm, Acrylic on Canvas, 2010).
Sama dengan Van Gogh, bunga matahari dilihat Nunung mengandung energi, gairah dan kekuatan. Seperti bunga matahari yang dilukis Van Gogh, Nunung juga ingin menunjukkan betapa ketakjuban dan energi dapat diutarakan melalui warna-warna yang hidup dengan sapuan kuas yang tebal dan bangun yang dilebih-lebihkan.
Gaya ekpresionisme yang menjadi ciri Van Gogh itu dilekatkan pada karya Nunung yang dianggap meniru Van Gogh. Tapi untuk Nunung yang tidak tahu apa-apa tentangnya dan sama sekali tak pernah mempelajari karakter lukisan Van Gogh, wajar jika bingung dia ketika disamakan dengan pelukis yang mati muda dalam usia 37 tahun itu. Tentu juga tak bisa menganggap Nunung mencontek sang maestro dunia itu. ”Padahal yang saya tahu, saya hanya mengikuti intuisi saja saat melukis bunga matahari,” aku Nunung.
Sebagaimana Van Gogh yang juga pelukis otodidak, Nunung hanya mengandalkan intuisinya dalam berkarya. Intuisilah yang menuntun Nunung menjadi pelukis. Sebagai sarjana psikologi dari Universitas 17 Agustus Surabaya, Nunung percaya pada intuisinya.
Intuisi itu menurut Nunung selama ini sangat berfungsi untuk dirinya menuntun atau mengarahkan perasaannya menjadi mendalam sehingga secara naluriah seseorang bisa mengetahui bahwa sesuatu yang dilakukan itu benar atau salah. Intuisi juga dapat dipakai untuk merasakan kebaikan atau keurukan dalam diri orang lain. ”Terkadang kita tidak mengetahui alasan dari perasaan tersebut muncul, tapi itu jadi penunjuk yang tepat atas keputusan-keputusan kita,” ujarnya.
”Jadi jika ada yang mengubungkan saya dengan Van Gogh karena bunga matahari, tak ada yang saling meniru dan mempengaruhi. Van Gogh sudah lebih dulu dengan nama besarnya. Saya menghormatinya sebagai maestro yang patut dikagumi dan dipelajari karya-karya terbaiknya. Tapi masing-masing telah dibekali intuisi untuk dikembangkan. Saya tetap percayai itu untuk mengarahkan perjalanan hidup saya kemudian,” lanjut Nunung. Info/red

Berita Lainnya
Kolaborasi Swiss-Belinn Malang, RSU BRI Medika, dan UMM Tingkatkan Awareness Kesehatan Mental melalui Health Expo
The Alana Surabaya Rayakan Anniversarynya yang ke-13
Kokoon Hotel Surabaya Bikin Makan Malam Makin Menyenangkan