27 July 2026

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Sambut Hari Kemerdekaan RI ke-77, Pelukis Se-Indonesia Tampilkan Karyanya di Museum De Javasche Bank Bank Indonesia

11 / 100 SEO Score
Istimewa

Surabaya – Dalam rangka menyambut HUT RI ke-77, De Javasche Bank mengadakan pameran lukisan yang diikuti oleh para pelukis dari berbagai daerah di Indonesia. The Freedom of Art from De Javasche Bank. Tajuk pameran tersebut menandai kegairahan dunia seni rupa yang sempat lesu dihantam pandemi.

Para pelukis yang datang dalam acara pameran lukisan The Freedom of Art from De Javasche Bank mengenakan busana selempang merah di pundak, terjulur ke bawah. Pakaian serba putih. Paduan busana tersebut mengesankan warna bendera nasional: merah putih.

Tak sekadar sebagai penanda diri sebagai peserta pameran, namun ada semangat Hari Kemerdekaan RI yang baru saja diperingati pada 17 Agustus lalu. Mereka memarakkannya dengan memajang karya-karya di lantai dua De Javasche Bank. Gedung bersejarah yang dulu digunakan sebagai bank sentral era kolonial dan kini menjadi cagar budaya. 

Menurut ketua panitia Sri Moerniati, gedung tersebut dipilih menjadi lokasi pameran dengan tujuan agar masyarakat, serta kalangan perupa dapat bernostalgia dengan masa lalu.

”Ini salah satu heritage kebanggaan Surabaya yang bisa menjelma sebagai ruang pamer yang elegan. Warisan masa lalu yang patut kita lestarikan. Pameran ini bermaksud meramaikan kembali dunia seni rupa di Surabaya,” ungkapnya, dalam sambutan pembukaan.

Dalam tajuk The Freedom of Art, pameran yang menyemarakkan HUT ke-77 RI, juga menandai kondisi selepas pandemi. Para seniman dapat lebih bebas berkarya. Kembali unjuk gigi ke tengah-tengah publik, memajang hasil kreativitasnya. ”Kami membebaskan para perupa untuk membuat karya dengan tema apa pun. Sesuai tajuknya, Freedom of Art,” ujar perempuan yang juga ikut berpameran dengan membawa lukisan berjudul Magnolia.

Budi Hanoto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur (ist)

Namun makna kemerdekaan tetap mengemuka. Seperti Lian M Margareth, pelukis asal Kediri, yang membawa satu karya berjudul Lentera Bangsa. ”Ini bentuk apresiasi dan penghormatan saya terhadap Bapak Proklamator, Ir Soekarno,” ujarnya.

Figur Soekarno digambarnya memenuhi bagian kiri kanvas. Di sebelah figur tersebut terdapat objek lilin. Latar digambarkan gelap dan remang. Hanya sosok Soekarno dan lilin itu yang terlihat.

Selain Lian, perupa senior Taufik Kamajaya mengangkat kisah wayang. Tentang gugurnya Bisma, senapati perang pihak Kurawa. ”Sebelum Bisma meninggal, Pandawa tak pernah mampu melawan Kurawa. Jadi pengorbanan Bisma menandai terbukanya jalan bagi Pandawa. Meraih kemerdekaan dan keadilan,” ungkapnya. 

Pria dengan rambut dan janggut yang telah memutih itu menunjukkan figur wayang Bisma yang sedang terbaring di tengah-tengah. Dikelilingi oleh tokoh-tokoh wayang dari Pandawa dan Kurawa.

Kematian tokoh besar tersebut untuk sejenak mampu mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai. ”Tapi selanjutnya tak ada lagi yang dapat melindungi Kurawa sebagai simbol kejahatan. Hingga Pandawa sebagai simbol kebenaran mampu meraih kemenangan,” ujar perupa 70 tahun itu.

Setelah dibuka, Budi Hanoto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, berkenan melihat karya. Di antaranya yang ia lihat adalah milik Q Sakti Setyo Laksono, Retno Nagayomi, dan Nova CM. Ia mengaku sangat takjub atas terselenggaranya pameran.

”Terus terang saya terkejut, semangat para perupa begitu besar. Bahkan dari 60 perupa yang turut serta, sebagian besar merupakan seniman senior. Seperti Pak Te (Panggilan Taufik) ini,” ungkapnya, sambil menyentuh lengan Taufik.

Lian nova
Pelukis Lian (Kiri) dan Pelukis Nova (Kanan)

Hamid Nabhan, pelukis impresif asal Surabaya, dan Hendy Prayudi, pelukis asal Lamongan, saling membincangkan karya masing-masing. Impresi Hamid yang khas, memainkan bias cahaya dalam mencitrakan sebuah objek. Seperti dalam lukisannya berjudul Pemandangan di Bungah, Gresik. 

Karya Hendy mendekati unsur impresif seperti milik Hamid. Namun ia menambahkan beberapa aksentuasi warna sebagai gambaran gejolak emosi. Seperti tampak dalam lukisan Berbondong Cumbui Angan. ”Saya membuat beberapa figur remaja yang menatap langit. Dalam suasana kemerdekaan ini, saya berharap apa yang dicita-citakan para pendahulu bangsa, dapat diaktualisasikan oleh para generasi muda,” ungkapnya.

Beberapa pelukis asal Bali turut menyemarakkan pameran. Seperti dua Achmad Tem dengan karyanya berjudul Hero. Ada pula Aricadia yang melukiskan sosok Medusa, tokoh antagonis dalam kisah Yunani Kuno, namun dalam wujud laki-laki. Ia memberi judul lukisan karyanya: Medosa (The Male Medusa). Seolah mengisahkan bahwa wujud dan sifat Medusa tak hanya dicitrakan pada kaum perempuan. Tapi juga laki-laki.

Budi yang didampingi beberapa staf Bank Indonesia Perwakilan Jawa Timur, menghentikan langkahnya di depan karya berjudul Harta dan Tahta, karya pelukis Bali, I Gede Putra Udiyana. Lukisan tersebut dibuat dengan tekstur berjaring-jaring. Sepertinya Udiyana memanfaatkan bahan karung goni sebagai tekstur karya tersebut. Begitu pula dengan karya lain berjudul Bali Dance.

Melihat karya-karya tersebut, Budi lagi-lagi takjub. ”Kok bisa begini ya?,” tanya Budi, tampak penasaran. Ia mengamati tekstur unik lukisan. Ia juga tertarik dengan visual elongasi yang dilakukan Udiyana yang memanjangkan anatomi tubuh penari dalam karya.

Atas karya-karya terbaik dari para perupa yang tersaji memenuhi bangunan lantai dua itu, Budi makin antusias. ”Saya harap acara semacam ini akan berkelanjutan tiap tahun. Pascapandemi, ekonomi bangkit, kesenian juga harus bangkit,” ungkap Budi.

Istimewa

Kekaguman Budi itu diamini oleh kurator pameran, Agus Koecink. Ia menyatakan bahwa pameran kali ini cukup memberi gambaran yang bagus tentang kecenderungan kreasi para perupa meskipun dating dari berbagai gaya.

”Ya ini yang namanya kebebasan berkarya. Ada yang berhasil membebaskan diri dari pengaruh apa pun termasuk politik atau bisikan pembeli lukisan. Tapi ada juga yang masih manut dengan selera pasar,” ungkapnya.

Hal tersebut menurut Agus sah-sah saja dalam seni rupa. ”Lukisan adalah terjemahan dari keinginan pelukisnya. Enggak apa-apa. Semua patut diapreasi. Yang penting ada pesan yang dibawa. Dan asal tidak meniru, menjiplak, atau memalsu lukisan,” ungkap dosen STKW itu.

Menurut Agus, The Freedom of Art from De Javasche Bank juga jadi ajang kebebasan ekspresi, kebebasan diri. ”Bebas berekspresi untuk kemajuan bersama, seiring perkembangan teknologi dan kemajuan dunia seni rupa itu sendiri,” tandasnya.

info/red

11 / 100 SEO Score