16 April 2024

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Ratusan Umat Katolik Ikuti Misa Minggu Palma & Jumat Agung di Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya


57
/ 100


c1 20240330 09464492 800x445 1

Surabaya – Peringatan Minggu Palma dan Jumat Agung di Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, Jl. Kepanjen No 4-6 Surabaya, berlangsung khidmat dan diikuti ratusan umat.

Minggu Palma (24/3/24) menandai masuknya Pekan Suci Paskah, atau pekan sengsara Yesus Kristus, yang dirayakan seminggu sebelum Paskah.

Minggu Palma dirayakan umat Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, tepat pukul 7 pagi, dan Misa dipimpin oleh Romo Frensius Supriyadi CM.

Dalam perayaan ini, seluruh jemaat baik anak anak maupun dewasa, petugas liturgi, dan Romo melakukan perarakan dengan lambaian daun Palma dari halaman hingga masuk ke dalam gereja.

Romo Frensius Supriyadi menyampaikan Minggu Palma dikenang umat Katolik sedunia sebagai peristiwa masuknya Yesus Kristus ke Kota Yerusalem.

Sedangkan lambaian daun palem menggambarkan sambutan manusia dan kesediaannya untuk mempersiapkan hati, mengakui segala dosa, dan siap untuk ditebus oleh Sang Juru Selamat.
Lima hari kemudian, diperingati Jumat Agung (29/3/24) sebelum Minggu Paskah.

Perayaan ini dilaksanakan tepat pukul 8 pagi, di Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, dengan dihadiri ratusan umat menyaksikan dan mengikuti visualisasi Jalan Salib yang diperankan muda mudi.

Romo P. Jauhari Atmoko CM Pastor Kepala Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya menjelaskan Visualisasi Jalan Salib adalah salah satu bagian dari perayaan Paskah yang mengajak umat untuk mengingat dan mengenang kembali peristiwa Yesus mengalami penderitaan, penyiksaan dan kemudian mati disalib, lalu bangkit lagi.

“Divisualisasi karena hidup. Artinya sebuah pengalaman yang ada di depan mata, peristiwa yang bisa menjadi pengalaman sehari-hari. Yesus mau menerima mati disalib, maka umat yang mengimaninya juga harus berani menerima salib. Menerima penderitaan dalam hidup mereka yang akhirnya bangkit bersama Kristus,” jelas Romo Jauhari.

Divisualisasi Jalan Salib berdasarkan Injil Matius, Markus dan Yohanes, imbuh Romo Jauhari.

Masih keterangan Romo Jauhari, umat Katolik di seluruh dunia saat ini sedang memasuki Tri Hari Suci. Di mulai dari Jumat Agung, Sabtu Suci dan berakhir Minggu Paskah yakni kebangkitan Yesus Kristus, (31/3/24).

“Pra paskah dilakukan 40 hari sebelumnya. Diawali dengan Rabu Abu di mana umat Katolik berpuasa. Lalu masa pertobatan, kematian, hingga kebangkitan,” terangnya.

Kegiatan visualisasi jalan salib, baru pertama dilaksanakan setelah masa pandemi Covid, jelas Romo Jauhari, serta melibatkan kaum muda, anak anak dan orang tua.

“Mereka (muda mudi) memerankan visualisasi jalan salib dengan baik,” puji Romo Jauhari di akhir acara.

Visualisasi jalan salib dimulai dari dalam gereja, lalu berjalan di Jalan Kepanjen dan berakhir di SDK. St. Xaverius Surabaya.

Dilansir dari laman Christianity, Jumat Agung, peristiwa penyaliban dan kematian Yesus Kristus terjadi pada abad ke-1 Masehi, Tahun 33 M.

Dalam cerita sejarah, dikisahkan pengkhianatan Yudas Iskariot kepada Yesus, pada malam perjamuan terakhir, yang diperingati sebagai Kamis putih.

Esoknya, Yesus ditangkap usai berdoa di Taman Getsemani oleh prajurit yang datang bersama si pengkhianat, Yudas. Yesus diadili dan dijatuhi hukuman mati dengan cara disalib atas perintah Pontius Pilatus Gubernur Kerajaan Romawi.

Penyaliban didasari atas laporan para pemuka agama Yahudi yang mengatakan bahwa Yesus mengaku sebagai Raja orang Yahudi.

Yesus pun disiksa, dicambuk, dan diberikan mahkota duri. Tangan dan kaki Yesus dipaku di kayu salib. Yesus dicaci maki, namun tetap sabar dan berdoa agar Allah mengampuni semua perbuatan mereka. Info/red


57
/ 100


Verified by MonsterInsights