24 February 2024

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Ratih Kumala Selama Empat Tahun Meracik Kekuatan Jeng Yah dalam Novel Gadis Kretek


54
/ 100


Gadis Kretek

Surabaya – Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah.

Sang ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim, dan Tegar, pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal menjemput sang ayah.

Ya, Gadis Kretek tak sekadar bercerita tentang cinta dan pencarian jati diri para tokohnya. Dengan latar kota M, Kudus, Jakarta, dari periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, Gadis Kretek akan membawa pembaca berkenalan dengan perkembangan industri kretek di Indonesia. Kaya akan wangi tembakau. Sarat dengan aroma cinta.

Itulah sekelumit tulisan dari buku Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Seorang penulis profesional yang lahir dan tinggal di Jakarta. Jauh sebelum Gadis Kretek dikembangkan menjadi serial orisinal Netflix yang diarahkan dua sutradara, Kamila Andini dan Ifa Isfansyah, buku inilah yang populer.

Ditemui di Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo, Sabtu (16/12/2023), Ratih mengungkapkan bahwa tak semua karya tulisnya diangkat ke dalam sebuah visual film atau serial. Butuh keputusan matang apakah karya tulisnya tersebut layak atau tidak dijadikan sebuah tontonan.

“Saya sudah punya beberapa karya novel, dan tidak semua novel saya perbolehkan untuk dijadikan film atau serial. Butuh beberapa alasan untuk akhirnya karya saya diadaptasi ke dalam visual,” ujar Ratih.

Gadis Kretek akhirnya menjadi pilihan Ratih untuk ditarik ke dalam sebuah serial karena ia ingin mengangkat citra dan kekuatan seorang perempuan atas dunia yang dipikir hanya dikuasai oleh laki-laki; dalam hal ini dunia bisnis dan kretek itu sendiri.

“Perempuan itu unik ya, dia bisa merangkap semua tugas, dalam hal pekerjaan, rumah tangga, mendidik anak-anak, istri, dan lain-lain,” lanjut Ratih.

Karya Istimewa

Gadis Kretek bagi Ratih merupakan karya yang istimewa, karena di balik penulisan cerita untuk novelnya itu ada kisah soal industri kretek milik keluarga besarnya yang menjadi inspirasi utama novel Gadis Kretek.

“Keluarga besar mamaku dulu itu pengusaha kretek lokal di kota kecil di Jawa Tengah,” ucap Ratih.

Saat Ratih tumbuh besar, keluarganya kerap menghabiskan masa libur lebaran di daerah Muntilan yang kini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Cerita soal bisnis kretek milik leluhurnya itu terus diulang. Sehingga, Ratih mengakui sekarang dirinya sudah hafal dengan kisah itu di luar kepala.

“Waktu aku sudah lahir, bisnis kretek yang dibangun kakekku itu sebetulnya sudah enggak ada, jauh sebelum aku lahir,” cerita Ratih.

“Tapi, yang tersisa hanyalah cerita-cerita mereka. Mereka (keluarga besar ibunya) sering cerita bahwa di rumah ini tuh dulu isinya pelinting, di pojok situ apa, di pojok situ ngapain,” kenangnya.

Meskipun cerita-cerita yang diturunkan oleh keluarganya menempel erat dalam ingatan Ratih, nyatanya kisah untuk novelnya itu tak kunjung rampung ditulis.

Ratih mengakui sangat kurang di bidang riset untuk mengetahui seluk beluk industri kretek di Indonesia sehingga membuat progres novel Gadis Kretek mandek.

Ia akhirnya butuh empat tahun lamanya mengumpulkan hasil-hasil risetnya agar bisa merampungkan cerita pendek itu menjadi sebuah novel.

“Waktu itu aku tahu bahwa yang membuat mandek sana-sini karena aku kurang riset. Karena aku enggak tahu apa-apa soal industri kretek selain yang diceritakan sama pakde dan budeku,” kata Ratih.

“Prosesnya juga lama nulisnya kan, karena memang butuh riset yang lumayan lama. Hampir empat tahun,” sambungnya.

Ratih juga membeberkan alasan memberi judul novelnya itu dengan nama Gadis Kretek. Selain terbiasa membuat daftar judul untuk karya-karyanya, Gadis Kretek menjadi salah satu merek rokok kretek dalam novel tersebut.

“Aku lupa bagaimana muncul dengan Gadis Kretek, tapi kayaknya dia ada di salah satu list itu. Juga karena ini adalah merek (kretek) yang aku masukkan ke dalam buku,” jelas Ratih.

“Ceritanya ini salah satu brand-nya lah,” lanjutnya. “Terus aku pikir, kenapa enggak ini aja? Rasanya ini cukup mewakili.”

Serial Gadis Kretek memiliki lima episode yang tayang di Netflix mulai 2 November 2023.

Menulis Sejak 2002

Ratih sendiri menulis sejak tahun 2002, novel pertamanya, Tabula Rasa (2004) memenangi Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003.

Sejak itu, ia telah menerbitkan karya fiksi lainnya, Larutan Senja (2006), Kronik Betawi (juga terbit sebagai cerita bersambung di harian Republika, 2008), Gadis Kretek (2012), Bastian dan Jamur Ajaib (2014), dan Wesel Pos (2018).

Gadis Kretek telah terbit dalam bahasa Jerman, Inggris, dan Arab-Mesir, dan Larutan Senja juga telah terbit dalam bahasa Inggris dengan judul The Potion of Twilight (2018). Tak hanya karya fiksi, ia juga menulis skenario untuk film, iklan, serial TV maupun digital. info/red


54
/ 100


Verified by MonsterInsights