18 July 2024

PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Pdt Sanon,M.Th : Sampaikan Tanggung Jawab Sosial Gereja

Pontianak- Sekolah Tinggi Agama Kristen Abdi Wacana (STAK-AW) Pontianak melaksanakan kuliah umum sebagai bagian dari tridarma perguruan tinggi.

Kuliah umum kali ini mendalami topik tentang Model Diakonia Fungsional Interkoneksi Dalam Tata Kelola Diakonia. Pdt. Sanon, M.Th. sebagai narasumber dalam kuliah tersebut menjelaskan bahwa konteks masyarakat di mana gereja ada dan melayani amat kompleks dan dinamis.

“Hal tersebut menuntut suatu desain pelayanan atau diakonia yang mampu menjawab pergumulan konteks. Itulah diakonia fungsional yakni diakonia yang berfungsi. Diakonia yang demikian ditandai dengan program diakonia yang mampu menjawab pergumulan konteks. “

Pendeta sekaligus dosen STT GKE tersebut mengingatkan para diakon khususnya akan luasnya tugas dan tanggung jawab diakonia.

“Tugas daikon itu sebenarnya sangat luas. Seluas masalah sosial kemasyarakatan. Masalah kemiskinan, ketidakadilan, putus sekolah, KDRT, pelecehan seksual, perdagangan orang, penyalahgunaan narkoba, gizi buruk, korupsi, dan masalah lainnya mesti dilihat dan dipag=hami sebagai tugas diakonia”. Demikian ditegaskan oleh putra Kedomba Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Sintang tersebut.

Dalam penjelasannya sembari memberikan berbagai motivasi dan penguatan kepada peserta kuliah umum, Pdt. Sanon memperkenalkan model baru diakonia yang dia sebut Diakonia Fungsional Interkoneksi. Menurutnya diakonia fungsional interkoneksi menekankan beberapa hal sebagai berikut: Pertama, diakonia mesti berbasis masalah-berorientasi kebutuhan; Kedua, bidang tugas diakonia yang amat luas itu memerlukan relasi yang tak terputuskan dalam tiga hal yakni relasi harmonia antar-tugas panggilan gereja yang tidak lain merupakan komponen misi yaitu bersekutu (koinonia), bersaksi (marturia), dan melayani (diakonia).

Kemudian relasi dalam keilmuan, dan terakhir relasi dalam kemitraan atau jaringan sosial. Tugas diakonia yang amat luas itu tidak mungkin dikerjakan seorang diri saja. Sebaliknya memerlukan kerjasama dengan berbagai pihak. Itulah sebabnya gereja juga sangat penting membangun relasi dengan pemerintah, perusahaan, koperasi, perbankan, UMKM, lembaga pendidikan, hukum, dan berbagai bidang dan profesi lainnya.

Lalu bagaimana menerapkan model diakonia fungsional interkoneksi tersebut pada tataran operasional?

“indikator diakonia fungsional interkoneksi mesti Nampak dalam tata kelola diakonia. Ada beberapa unsur dalam tata kelola diakonia yakni visi, misi, tujuan, dan sasaran, sumber daya manusia, perencanaan, Sarana prasarana, pelaksanaan, pengawasan, kemitraan, evaluasi. Sumber daya manusia merupakan salah satu unsur yang sangat penting. Ke depan, gereja perlu memikirkan daikon professional sebagai mitra pendeta. Sebagai daikon professional, maka daikon perlu memiliki kualifikasi akademik daikon atau dalam ilmu sekuler disebut ilmu kesejahteraan sosial” pungkasnya.

Sembari menyampaikan materi yang di selingi berbagai pertanyaan dari peserta, seorang akademisi teologi kandidat doktor yang kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologia Jaffray Makassar itu menyampaikan bahwa pelayanan bukan hanya tentang mimbar dan penyampaian firman Tuhan semata tapi juga aksi nyata diakonia. Jadi bukan hanya khotbah. Salah seorang dosen STAK AW Pontianak yakni Pdt. Paulus Adianthus, M.Th. sangat setuju dengan konsep daikon professional.

Ia menambahkan bahwa daikon perlu memiliki keahlian dalam bidang diakonia baik melalui Pendidikan akademik, vokasi, maupun kursus dan pelatihan diakonia. Hal ini diamini oleh Pdt. Paulus Ajong, M.Th sebagai ketua STAK-AW sekaligus Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) Kalimantan Barat.

Menurutnya diakonia fungsional interkoneksi sangat diperlukan dalam rangka pengembangan pelayanan yang unggul. Kuliah umum tersebut ditutup dengan sesi foto bersama mahasiswa dan dosen. Info/red