PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Sri Sultan Resmi BukaPesparawi XIII 

pembukaan pesparawi

Yogyakarta – Pesparawi XIII resmi dibuka di Lapangan Siwa, Kompleks Candi Prambanan, Sleman, Senin (20/6/2022) malam. Event di mana Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan ini akan berlangsung hingga Sabtu (26/6/2022) mendatang. 

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menilai Pesparawi selaras dengan ajaran moral khas Yogyakarta yakni Sawiji, Greget, Sengguh, dan Ora Mingkuh, yang jika dimaknai setiap peserta, maka performa terbaik akan terwujud. 

Dalam Opening Ceremony Pesparawi XIII tersebut, Sri Sultan mengatakan pentingnya pemaknaan keempat ajaran moral yang merupakan buah pikir Sri Sultan Hamengku Buwono I, sebagai peletak dasar Kasultanan Yogyakarta. 

“Sawiji berarti penjiwaan total tanpa menjadi tak sadarkan diri; Greget adalah bersemangat tanpa menjadi kasar; Sengguh adalah percaya diri namun tetap low profile, dan Ora Mingkuh adalah pantang mundur, dengan disiplin dan tanggung jawab,” jelas Sri Sultan yang hadir didampingi Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X. 

Menurut Sri Sultan, keempat ajaran tersebut mewakili totalitas ideal manusia dalam kehidupan baik hubungannya dengan sesama maupun Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Pada Agenda yang diikuti 34 perwakilan gereja se-Indonesia dengan sekitar 8.000 peserta itu, Ngarsa Dalem berharap setiap peserta dapat memancarkan energi positif. Peserta diharapkan menjunjung tinggi sportivitas selama perlombaan dan saling mengapresiasi satu sama lain. 

Sebagai tuan rumah Pesparawi XIII, Sri Sultan berharap setiap peserta juga dapat mengenal nilai budaya dan kearifan lokal Daerah Istimewa Yogyakarta. 

“Semogalah pula, para peserta masih sempat menghirup suasana Yogyakarta dengan serba kesahajaannya, di tengah-tengah senyum ramah masyarakat, khasanah wisata, dan budaya yang melingkupinya,” kata Sultan. 

Wakil Menteri Agama RI Zainut Tauhid Sa`adi menuturkan pada era sekarang, perkembangan seni budaya sejatinya harus mampu memberi arah bagi perwujudan identitas nasional yang sesuai dengan nilai luhur budaya bangsa. 

“Bangsa Indonesia adalah bangsa religius dan berbudaya, maka pengembangan seni keagamaan harus dapat sentuhan yang utama sebagai bagian dari jati diri bangsa,” katanya.

Ia menambahkan, kehadiran Pesparawi memiliki makna ganda yakni sebagai penguatan hubungan intern antar umat kristiani dan sekaligus membangun hubungan umat beragama di Indonesia secara menyeluruh.

“Dalam konteks intern, agenda yang diikuti gereja dari berbagai aliran, merupakan sarana membangun komunikasi intern. Jika konteks majemuk, Pesparawi yang diselenggarakan secara bergantian, memberikan sumbangsih atas nasionalisme dan kerukunan hidup beragama,” katanya. info/red