PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Bahasa Indonesia Berkembang Pesat di Dunia, Kini Dipelajari 47 Negara

webinar bi

Surabaya – Bahasa Indonesia berkembang paling pesat melebihi bahasa induknya, yakni bahasa Melayu. Karena bahasa Indonesia memiliki keunggulan historis, hukum dan linguistik.

Bahkan di tingkat internasional, bahasa Indonesia telah menjadi bahasa terbesar di Asia Tenggara. Persebarannya telah mencakup 47 negara di seluruh dunia.

Hal itu dikemukakan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Endang Aminudin Aziz dalam acara Bual Bicara Minda TV bertajuk ‘Bahasa Melayu-Indonesia sebagai Bahasa Antarbangsa’, secara virtual, Kamis (8/4/22).

Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), lanjut Aminudin, juga telah digelar oleh 428 lembaga, baik yang difasilitasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbudristek, maupun secara mandiri oleh pegiat BIPA, pemerintah dan lembaga di seluruh dunia.

Kepala Badan Bahasa menambahkan, bahasa Indonesia banyak menyerap istilah kosa kata dari bahasa asing seperti Inggris, Belanda dan lain-lain. Selain itu, pengayaan kosa kata bahasa Indonesia berasal dari ratusan bahasa daerah yang ada di indonesia baik Jawa, Sunda, Madura, Banjar, Papua, maupun daerah lainnya.

Menurut catatan riset etnolog yang dilaporkan pada Desember 2021, penutur bahasa Indonesia ada 199 juta orang. Sementara penutur bahasa Melayu hanya 19 juta orang.

Bahasa Melayu-Indonesia, menurut Aminudin, mempunyai bahasa yang serumpun tapi tidak serupa. Hal itu terlihat pada penggunaan penulisan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia yang berbeda.

“Perbedaan itu sangat jauh dan situasi (kompleksitas perkembangan bahasa Indonesia) juga belum tentu terjadi pada bahasa di negara lain seperti bahasa Malaysia,” kata Aminudin Aziz.

Titik tolak perkembangan bahasa Indonesia, terjadi pada peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Pada 18 Agustus 1945n bahasa Indonesia yang menjadi bahasa negara dimasukkan ke dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945.

Meski begitu, Kepala Badan Bahasa sepakat atas fakta bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. “Bahasa Indonesia berkembang jauh melebihi asal muasalnya dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa negara terus dikembangkan korpus, kamus, ejaan, tata bahasanya hingga seperti sekarang ini,” katanya.

Bahasa Melayu bagi Indonesia, merupakan salah satu dari 718 bahasa daerah. Bahasa Melayu perspektifnya adalah bahasa daerah. Merujuk data Badan Bahasa, di Indonesia ada 87 dialek bahasa Melayu. “Jika ada pernyataan mari kita perkasakan (jayakan) bahasa Melayu, jelas kami menolak,” ucapnya.

Menanggapi pernyataan Perdana Menteri Malaysia Dato’ Sri Ismail Sabri Yaakob pada lawatannya ke Indonesia, terkait memperkuat bahasa Melayu sebagai bahasa perantara antara kedua kepala negara, serta sebagai bahasa resmi ASEAN, Kepala Badan menilai hal itu perlu dikaji ulang secara mendalam.

“Jika ingin menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa ke-2, maka harus ada penerimaan dari seluruh anggota ASEAN. Karena ASEAN memiliki sistem bahwa setiap usulan harus disetujui oleh semua anggotanya. Perlunya kehati-hatian saat mengambil keputusan yang mengatasnamakan ASEAN,” tutur Aminudin.

Dalam Undang-undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan lambang negara tertulis, negara mengusahakan peningkatan bahasa Indonesia menjadi bahasa international. Itulah yang dikatakan Aminudin sebagai harapan dari pemerintah Indonesia.

Narasumber dari Majlis Profesor Negara (MPN), Kamaruddin M Said menjelaskan, bahasa Melayu dapat menjadi bahasa kedua di ASEAN dengan syarat memiliki sepuluh penerjemah untuk setiap negara anggota agar dapat dipahami oleh para perwakilan.

“Jadi, mesti ada satu strategi yang smart untuk menguruskan bahasa dalam ASEAN, walaupun hanya melibatkan 10 negara,” katanya.

Sebelum ide penggunaan bahasa Melayu-Indonesia dapat terealisasi, menurut Kamaruddin, panitia perumusannya di ASEAN mesti memahami bahasa Inggris, bahasa Melayu, dan bahasa Indonesia terlebih dahulu agar tidak ada kesalahpahaman dalam penyampaian informasi.

Mengamini pernyataan sebelumnya, perwakilan dari Intitut Pertanian Bogor (IPB), Ari Purbayanto menekankan pentingnya persiapan yang matang untuk merealisasikan penggunaan bahasa Melayu-Indonesia di tingkat ASEAN.

“Perlu perembukan para ahli bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia secara intensif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Selaras dengan pernyataan Kepala Badan Bahasa, Ari menilai perkembangan kosakata bahasa Indonesia terus berkembang menjadi bahasa modern. Dibuktikan dengan banyaknya penutur bahasa Indonesia di seluruh dunia dan mudahnya bahasa Indonesia diterima, dipelajari, dan dipahami khalayak luas.

Sebagai langkah strategis yang perlu diambil untuk mengatasi kericuhan di masyarakat, menurut Ari, dengan membuat program yang menginisiasi ‘pengenalan’ kedua bahasa serumpun dalam kegiatan tingkat internasional. Bahkan jika memungkinkan menyusun jurnal internasional.

“Supaya masyarakat di negara-negara yang memiliki akar bahasa serumpun ini bisa mengenal bahasa Melayu sebagai induk bahasanya. Meski di sisi lain juga senantiasa mengutamakan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara,” pungkas Ari. info/red