PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Diduga Melakukan Penipuan, Andreas Liem Laporkan Pendeta Ming dan Octavius ke Kapolri

IMG 20220403
Lokasi lahan yang diduga fiktif (ist)

Ambon – Diduga kuat Octovianus Hatulely atau Pdt..Ming bersama Jhon Tuhuteru bos UD 51 terlibat mafia tanah.
Pasalnya, akibat ulah dua orang ini Andreas Liem dirugikan sekitar Rp 5 milyar.

Tidak terima, Andreas Liem akhirnya melaporkan Pdt. Ming dan rekannya Jhon Tuhuteru ke Subdit 2 Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Maluku, lantaran merasa dirugikan akibat permainan dua pengusaha ini.

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari media online Spektrum menyebutkan jika Andreas Liem pada tahun 2016 membeli sebidang tanah yang cukup luas dari Pdt. Ming dan Jhon Tuhuteru bos UD 51 seharga Rp 5 miliar.

Sayangnya, ketika Andreas Liem datangi lokasi tanah yang telah dibelinya ternyata tanah tersebut tidak ada alias fiktif.
Andreas Liem berupaya untuk meminta penjelasan dari Octovianus Hatulely maupun Jhon Tuhuteru namun tidak ditemukan jalan keluar.

Merasa ditipu, akhirnya pada tanggal 27 Februari 2017, Andreas Liem melaporkan masalah ini ke Sudit 2 Ditreskrimum Polda Maluku.

Tetapi laporannya digarap secara tidak professional oleh penyidik Ditreskrimum Polda Maluku, dimana penyidik dari Subdit 2 Ditreskrimum Polda Maluku, justru dua kali menerbitkan Surat Penghentian Penyelidikan Perkara (SP3) terhadap kasus tersebut.

Selaku pelapor dan orang yang menjadi korban dalam kasus ini, Andreas Liem menyebutkan dalam suratnya, dirinya menduga adanya keterlibatan dan keberpihakan penyidik Ditreskrimum Polda Maluku, hingga berani mengambil sikap mengeluarkan SP3 dengan menyebutkan Ming dan Bos 51 tidak dapat diproses hukum dalam laporan penipuan yang diajukan dirinya.

Sehingga atas terbitnya dua kali SP3 itu, Andreas Liem meminta Kapolri agar menurunkan tim dari Propam Polri, juga Bareskrim dan Itwasum Polri untuk melakukan supervisi kepada penyidik Ditresikmum Polda Maluku, terkait dengan proses penyidikan tersebut.

Selain menyurati Kapolri, Andreas Liem juga menyurati Kapolda Maluku, tertanggal 6 Desember 2021, untuk meminta keadilan terkait dengan diterbitkannya dua kali SP3 oleh penyidik Ditreskrimum Polda Maluku, atas laporannya itu. Surat ke Kapolda Maluku ini juga ditembuskan ke Kapolri, Itwasum Polri, Kadiv Propam Polri, Kabareskrim juga Kabidkum Polri. Info/red