PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Setahun Beroperasi KRL Solo-Yogyakarta Sudah Layani Lebih Dari 2,2 Juta Pengguna

1164190595

Surabaya – Satu tahun beroperasi,  Kereta Rel Listrik (KRL) Solo-Yogyakarta, telah melayani sebanyak 2.222.942 pengguna. KRL SoloYogya  beroperasi dengan 20 perjalanan per hari, tren volume pengguna setiap bulannya terus meningkat.

Kecuali pada bulan Juli dan Agustus saat pemerintah memberlakukan PPKM Level 4 di sejumlah wilayah termasuk Kota Solo dan  Yogyakarta. Secara bulanan, volume pengguna KRL tertinggi tercatat pada bulan Desember 2021 dengan 290.618 pengguna atau rata-rata 9.375 pengguna per hari.

“Saat ini jumlah perjalanan KRL ditambah menjadi 24, tetapi khusus untuk hari Sabtu, Minggu dan hari libur saja. Karena untuk akhir pekan dan hari libur jumlah pengguna KRL Solo-Yogyakarta meningkat cukup signifikan,” jelas Direktur Utama KAI Commuter Roppiq Lutzfi Azhar, kepada wartawan saat konferensi pers satu tahun KRL Solo-Yogykarta di Stasiun Solo Balapan , Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (1/3/2022).

Rata-rata jumlah pengguna KRL setiap hari mencapai 6.000 hingga 7.000 pengguna. Bahkan sebelum pandemi virus Covid-19 Omicron ada yang mencapai 9.000 . 

“Bahkan pernah pada hari Minggu mencapai 14.000 pengguna. Jumlah ini terbanyak dan belum pernah tercapai bahkan saat masih menggunakan KA Prameks,” jelasnya lagi.

Lebih lanjut Roppiq mengatakan pencapaian ini adalah hasil KAI Commuter yang terus meningkatkan operational excellence antara lain dengan memperpanjang rangkaian KRL. Pada awal peresmian, KRL Solo-Yogyakarta  dilayani dengan dua rangkaian yang terdiri dari 4 kereta pada setiap rangkaiannya atau SF 4. 

Namun mulai April, rangkaian dengan 8 kereta pada setiap rangkaiannya SF 8 telah mulai beroperasi di lintas ini. Kemudian pada Mei 2021 tiga rangkaian KRL yang setiap harinya beroperasi seluruhnya telah menggunakan SF 8.

“Pengoperasian KRL Solo-Yogyakarta juga menandai dibukanya kembali empat  stasiun yang sebelumnya tidak melayani pengguna. Yakni  Stasiun Srowot, Ceper, Delanggu, dan Gawok,” katanya.

Selain itu Stasiun Brambanan yang sebelumnya hanya melayani sebagian jadwal KA Prambanan Ekspres (Prameks) kini melayani seluruh jadwal KRL Solo-Yogyakarta.

“KCI bersama dengan pemerintah terutama Balai Teknik Perkeretaapian Jawa Bagian Tengah (BTP Jabagteng) sebagai bagian dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, juga menambah sejumlah fasilitas layanan pengguna terutama di stasiun-stasiun yang baru dibuka,” katanya lagi.

Sehingga sesuai dengan  Standar Pelayanan Minimum (SPM), seperti yang dilakukan  di Stasiun Brambanan, Srowot, Ceper, Delanggu, dan Gawok.  Selain itu, BTP Jabagteng juga membangun fasilitas stabling atau lokasi parkir kereta, dan fasilitas perawatan dalam bentuk bangunan Petugas Urusan KRL (PUKRL). 

“Fasilitas stabling di Solo dapat mengakomodir dua rangkaian kereta SF 8 sekaligus sebagai tempat melaksanakan perawatan harian KRL. Fasilitas perawatan ini nantinya ada di Stasiun Solo Jebres,” lanjutnya.

Seluruh transaksi layanan KRL Solo- Yogyakarta,  saat ini juga  telah menggunakan kartu uang elektronik ataupun tiket kode QR, dan tidak mengenal tiket harian. Kartu uang elektronik pilihan pengguna adalah Kartu Multi Trip (KMT) dari KAI Commuter yang telah digunakan 50 persen pengguna. 

Selanjutnya terdapat tiket kode QR dan kartu uang elektronik bank yang masing-masing digunakan 26 persen dan 24 persen pengguna untuk bertransaksi. Tingginya peminat kartu multi trip juga dibuktikan dengan penjualan KMT yang mencapai 254.667 unit sejak Februari tahun lalu.

Direktur Operasi dan Pemasaran PT KCI, Wawan Ariyanto menambahkan tren pengguna KRL Solo-Yogyakarta berbeda dengan pengguna KRL Jabodetabek. Jika di Jabodetabek, untuk akhir pekan dan hari libur jumlah penggunanya justru turun, sedangkan saat hari biasa lebih banyak. Karena KRL Jabodetabek lebih digunakan para urban untuk berangkat bekerja pada hari biasa.

“Kalau untuk Solo-Yogyakarta saat hari biasa jumlah pengguna lebih rendah. Sehingga  pemerintah melakukan  negosiasi terkat usualan penambahan frekuensi. Karena  volume belum memungkinkan,” tambahanya.

Menurut Wawan, konsistensi pengguna Yogyakarta-Solo saat ini belum tentu. Sehingga penambahan jumlah perjalanan menjadi 24 hanya dilakukan saat akhir pekan dan hari libur saja. 

“Kalau frekuensi bisa konsisten meningkat maka bisa dijalankan setiap hari,” pungkasnya. Info/red