PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

PIKI Jatim Bahas Potensi Energi Baru dan Terbarukan di Indonesia

IMG 20220301 WA0043

Surabaya, Pustakalewi.com – Energi Baru dan Terbarukan (EBT) menjadi topik kontemporer yang terus dibahas dalam kaitannya dengan kedaulatan energi Indonesia. Namun, transisi dari energi berbasis fosil yang selama ini masih menjadi tulang punggung ke EBT ini tidaklah mudah.

Tantangan terbesar di sumber daya manusia dan aspek penerimaan masyarakat terjadap EBT.
Ini adalah poin penting terkait EBT yang muncul saat acara Webinar bertajuk “Energi Baru dan Terbarukan: Visi, Model Keberhasilan, dan Tantangannya” yang digelar oleh Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Jawa Timur secara daring pada Jumat siang (25/02).

Webinar yang dibuka langsung oleh Ketua DPD PIKI Jawa Timur, Dr. Ir. Daniel Rohi, M.Eng.Sc., IPU, ini menghadirkan lima pembicara utama, Prof. Dr. Ir. Prabowo, M.Eng. (Guru Besar Rekayasa Termal dan Sistem Energi ITS), Anom Surahno (Kepala Badan Litbang Pemerintah Provinsi Jawa Timur), Ir. Stephanus Prasasto (Direktur PT Citra Cahya Trimanunggal), Fabby Tumiwa (Executive Director IESR) dan Zahrul Azhar Asumpta atau Gus Hans (Wakil Ketua Ikatan Sarjana NU Jawa Timur).

Dalam sambutan yang menjadi pembuka webinar, Daniel Rohi menegaskan pengembangan Energi Baru dan Terbarukan di Indonesia merupakan sebuah keniscayaan karena mempertimbangkan tiga hal yakni; pertama potensi sangat berlimpah, kedua tuntutan isu lingkungan yakni perubahan iklim yang dipicu oleh penggunaan energi fosil, dan terakhir penguasaan teknologi energi.

Prof. Prabowo menginformasikan perkembangan teknologi EBT yang semakin praktis dan murah. Teknologi pembangkit energi tidak identik lagi dengan biaya mahal. Beberapa teknologi pembangkit energi listrik di presentasikan dalam webinar merupakan teknologi yang dianggap sesuai dengan kondisi alam di Indonesia, khususnya Jawa Timur, seperti pembangkit listrik tenaga micro hydro. Salah satu keunggulan EBT dibanding energi berbasis fosil terletak pada keberlanjutannya. Sumber daya EBT telah tersedia di alam dan dapat digunakan kapan saja, tidak akan habis.

Senada dengan pendapat Prof. Prabowo, Fabby Tumiwa juga menjelaskan jika teknologi EBT semakin murah dan terjangkau. Hal ini dibenarkan Stephanus yang berpengalaman sebagai kontraktor listrik dengan memanfaatkan tenaga Surya. Stephanus mengakui bahwa teknologi PLTS saat ini lebih baik dan lebih murah.

Namun, sekalipun EBT diakui lebih menjanjikan keberlanjutannya, tersedia potensi sumber daya alam yang besar, teknologi yang semakin terjangkau, ongkos produksi yang semakin murah, dan tentunya ramah lingkungan, proses transisi dari energi fosil ke EBT ternyata tidaklah mudah. Target yang diterapkan pemerintah untuk meningkatkan bauran EBT sebesar 23% pada tahun 2025, pada kenyataan baru mencapai kisaran 11% di tahun 2021. Sementara pemerintah mentargetkan pada tahun 2060 sudah Net Zero Carbon Emission.

Fabby Tumiwa menyebutkan setidaknya ada dua hal penting yang menyebabkan lambatnya transisi EBT, yaitu masih kuatnya “rezim” batubara dan regulasi yang masih berpihak kepada energy fosil. Selain itu, saat ini 87% system energy Indonesia masih tergantung ke energy fosil. Pembatasan energy fosil secara agresif berpotensi menimbulkan stranded asset. Perlu dipikirkan mekanisme yang lebih baik untuk menghindari (atau setidaknya mengurangi) kerugian.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun tidak ketinggalan ikut mensukseskan program transisi energi fosil ke EBT. Di tahun 2011 telah dibangun beberapa pembangkit energi listrik yang menggunakan teknologi micro hydro, tenaga surya dan sampah.

Anom Suharno selaku Ketua Badan Litbang Provinsi Jawa Timur, menjelaskan jika pemprov telah mengeluarkan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) melalui Perda nomor 6 tahun 2019. Perda tersebut menargetkan bauran EBT di Jawa Timur pada tahun 2025 adalah sebesar 17,05% dan menjadi 19,56% di tahun 2050. Namun, kondisi yang terjadi tidak jauh berbeda dengan capaian nasional. Sampai tahun 2020 target bauran EBT di Jawa Timur baru tercapai 3,28%. Pak Anom menambahkan bahwa hasil studi menunjukkan jika potensi EBT di Jawa Timur sebesar 25.242 MW, tetapi baru tergarap sebesar 320,59 MW (3,28%). Masih jauh dari target yang diharapkan.

Salah satu kendala yang dihadapi oleh pemerintah provinsi Jawa Timur dalam mensukseskan transisi EBT adalah minimnya SDM. Diperlukan partisipasi dan kerjasama dengan sejumlah pihak untuk menjembatani keterbatasan ini. Diantaranya dengan melibatkan partisipasi akademisi dan swasta. Pemerintah provinsi sangat membuka peluang kerjasama dengan perguruan tinggi dan organisasi kemasyarakatan yang memiliki keahlian di bidang EBT.

Permasalahan lain yang ditemui dalam webinar ini adalah ternyata sosialisasi transisi EBT di masyarakat belum berjalan seperti yang diharapkan. Gus Hans, akademisi yang juga penggiat pesantren di Jawa Timur, menceritakan jika pesantrennya pernah menerima bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dari BPPT, namun tidak disertai dengan transfer knowledge. Akibatnya, ketika ada kerusakan pihak pesantren tidak mempunyai kemampuan untuk memperbakinya. PLTS pun dibiarkan terbengkalai.

Melalui forum diskusi ini berhasil terungkap betapa besarnya potensi EBT di Indonesia. Tidak saja potensi sumber daya alam, tetapi juga dampaknya secara ekonomi, social, dan terutama lingkungan. Namun, masih ada beberapa kendala yang membuat transisi EBT belum berjalan mulus. Perlu ada komitmen dan keseriusan dari pemerintah pusat dan daerah untuk mengawal target bauran EBT yang sudah ditetapkan. Info/red