PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

PGPI Pembaharuan dan FKUB Jatim Soroti Intoleransi dan Radikalisme Terorisme di Indonesia

pgpip3

Surabaya,pustakalewi.comSeminar “Moderasi Beragama dalam rangka menangkal intoleransi, radikalisme, dan terorisme” ini denganPemateri seminar dibawakan langsung oleh Ketua FKUB JATIM  Drs. H.A. Hamil Syarif, M.H.Hadir dalam acara ini semua unsur forkopimda, kecuali ketua DPRD jatim: unsur Gubernur, unsur Kapolda unsur Pangdam V,  Kajati, dan Pengadilan Tinggi jatim dan jajaran pengurus DPP PGPI PEMBAHARUAN JATIM  dan juga para undangan.

Moderasi Beragama menjadi topik utama dalam berbagai forum lintas agama akhir-akhir ini. Istilah yang merujuk kepada sikap, cara pandang, dan praktik keagamaan yang tidak berlebihan dan saling menghormati antar pemeluk agama dan keyakinan ini juga dinilai sangat relevan dalam kondisi berbangsa kita sekarang.

Hal ini pula yang mendorong Perkumpulan Gerakan Pentakosta Indonesia Pembaharuan (PGPI Pembaharuan) Dewan Pimpinan Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Timur untuk membuat seminar dan sosialisasi Moderasi beragama pada Sabtu siang (27/11), di Gereja Bethel Tabernakel Kristus Pengasih, Kertomenanggal, Surabaya.

pgpip2

Mengambil topik “Moderasi Beragama untuk Menangkal Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme”, acara ini dihadiri 50 peserta yang sebagian besar merupakan pengurus PGPI Pembaharuan Jatim, pengurus FKUB Jatim dan tamu serta undangan. Jumlah peserta ini menyesuaikan dengan protokol kesehatan yang diterapkan secara ketat di acara ini.

Dalam sesi sambutan menjelang acara seminar, Ketua DPP PGPI Pembaharuan Jawa Timur, Pdt. Rudolf Polimpung mengharapkan acara ini mampu membekali para pendeta dan hamba Tuhan PGPI Pembaharuan di Jawa Timur tentang moderasi beragama. Selain itu gembala GBT Air Hayat, Pakis Tirtosari Surabaya ini juga mengapresiasi diterimanya keberadaan Pdt. Yefta Hadi Sugianto sebagai representasi umat Kristen aliran Pentakosta dalam jajaran kepengurusan FKUB Jawa Timur.

Sementara itu Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional PGPI Pembaharuan, Pdt. Sherlina Kawilarang, mengungkapkan bahwa situasi hubungan antar umat beragama di Jawa Timur cukup kondusif, namun akhir-akhir ini dengan maraknya perdebatan antar agama di sosial media, menyebabkan riak-riak keresahan antar umat beragama. Pdt. Sherlina mengusulkan supaya perdebatan-perdebatan antar agama dan keyakinan yang tidak produktif dan berpotensi mengancam kerukunan antar umat beragama dihentikan saja.

Jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Jawa Timur juga hadir dan ikut memberikan sambutan dan arahan-arahan dalam acara ini. Sambutan tertulis dari Pangdam V/Brawijaya dibacakan oleh Mayor CAJ Sarto selaku Kasi Pembinaan Rohani Katolik Kodam V/Brawijaya. Dari Kepolisian Daerah Jawa Timur hadir Direktur Pembinaan Masyarakat Kombes Pol Asep Irpan Rosadi yang menyatakan siap mendukung acara-acara dalam rangka memperkokoh kerukunan antar umat bergama.

pgpip4

Jajaran Forkopimda lain yang hadir adalah Koordinator Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Nurintan Marolop Novianti Octaviana Sirait, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Surabaya, Fredrik Willem Saija, dan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur, Himawan Estu Bagijo, yang mewakili Gubernur dalam menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara ini.

Dalam sesi seminar, materi disampaikan langsung selama kurang lebih 60 menit oleh H. A. Hamid Syarif selaku ketua FKUB Jawa Timur dan dimoderatori oleh Pdt. John Ratu Taengetan.  

KH Hamid Syarif menyinggung bahwa tantangan umat beragama di era globalisasi semakin besar. Beberapa diantaranya adalah ideologi transnasional, klaim-klaim kebenaran absolut, radikalisme, ekstrimisme, terorisme, dan post-truth (pasca kebenaran).

Dengan tantangan-tantangan itu, FKUB Jawa Timur mencoba mendorong moderasi beragama, baik secara natural, dimana moderasi beragama sebenarnya sudah ada di masyarakat dan budaya lokal, maupun dengan rekayasa sosial, diantaranya gencar melaksanakan sosialisasi moderasi beragama dan menjalin sinergi dan pelaksanaan program dengan lembaga-lembaga lintas agama dan keyakinan. 

pgpip1

H. Hamid Syarif memberi catatan khusus terhadap kondisi kultural di Jawa Timur mengingat keunikan corak agama dan kebudayaannya.“Masyarakat Jawa Timur secara budaya beragam, dari sosial budaya maupun lokalitas. Perbedaan ini perlu dipahami semua pihak, karena perbedaan-perbedaan sosial budaya ini, masing-masing kota ada local wisdom, jika ditabrak akan terjadi konflik,” tegasnya.

Terkait cara pandang dan pola pikir keberagaman yang didorong dalam konteks moderasi beragama menurutnya bukanlah terpaku di dua kutub, satu di subyektivisme dimana ada fanatisme absolut dan klaim kebenaran absolut, maupun kutub satunya obyektivisme dimana penekanannya pada logika, rasionalisme, dan mendorong pemahaman agama yang liberal. Pola pikir keberagaman inter-subyektivisme dimana menekankan inklusivisme, toleransi, dan moderasi beragama dinilai merupakan pola ideal yang telah sesuai dengan pendekatan filosofis, etis, dan humanis. info/red