PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

MUI Dalam Perspektif Kesejarahan

Baik rasanya sebelum masuk ke dalam apa yang terjadi pada MUI belakangan ini, kita melihat merujuk dahulu pada sisi-sisi sejarah dunia, yaitu merujuk pada struktur penggolongan masyarakat (kasta) yang didalam ajaran hindu yang terbagi atas;

  1. Brahmana (alim ulama)
  2. Kesatria (eksekutif)
  3. Waisya (kelas menengah)
  4. Sudra (kelas bawah, dhuafa)
  5. Tak berkasta ( Paria)

Didalam sejarah runtuhnya kekaisaran Romawi.. yaitu akibat konflik pada internal kekaisaran (kesatria) sehingga akhirnya berakibat kekosongan kekuasaan dan terjadinya kekacauan serta lepasnya wilayah-2 kekuasaan Kekasiaran Romawi.

Dalam situasi yang demikian kemudian terjadilah pengambilan alihan kekuasaan oleh kelompok Brahmana dalam hal ini Gereja Katolik… Sehingga akhirnya Paus selaku pimpinan gereja oleh desakan situasi akhirnya menduduki kekuasan tertinggi Romawi menguasai kerajaan-2 Eropa.

Dalam hal ini bisa saja disebut sebagai “Kekhalifahan Pertama” di dunia oleh gereja katolik Roma.

Selanjutnya sejarah mencatat terjadilah masa kegelapan di dalam Gereja Katolik sendiri dengan kesewenangan kekuasaan, dimana para pejabat gereja melakukan berbagai kejahatan dari yang kejahatan sepele sampai yang terberat. Ancur-ancuran semua dengan tiada kejelasan struktur pemerintahan, saling ingin menguasai antar faksi yaitu ordo dan kongregasi melawan kekuasan Kepausan dengan kepentingannya.

Sampai kemudian di abad ke enam/tujuh munculnya Islam menguasai Turki, Spanyol, Portugis melalui Perang Salib, yang dapat saja disebut perang antara Kekhalifahan… Yaitu Kekhalifahan Roma vs Kekhalifahan Islam.

Akhirnya dapat kita saksikan diakhir pertempuran kedua belah pihak juga melemah akibat penyalahgunaan kekuasaan yang dimiliki pasca perang.

Kekhalifahan Islam tercerai berai, demikian juga Gereja Katolik walau telah berhasil merebut kembali Spanyol dan Portugis.

Konflik pertikaian didalam Roma akhirnya juga berakibat munculnya gerakan mengkoreksi yang kemudian memunculkan kelompok Gereja Protestan.

Sampai kemudian munculnya Musolini (Italia) untuk menyatukan wilayah Italia yang berkawan baik dengan Hitler (Jerman) ultra nasionalis untuk menyatukan Jerman sehingga berakibat terjadinya Perang Dunia.

Dapat disebutkan dalam hal ini Kasta Kesatria bangkt kembali muncul untuk merebut kekuasaan dari tangan Gereja Katolik yang kasta Brahmana.

Vatican yang sebelumnya memiliki kekuasan absolut mutlak atas tiga provinsi Italia, akhirnya harus puas dengan tanah seluas empat hektar didalam kota Roma.

Demikian juga Kekhalifahan Islam yang tidak didukung struktur yang kuat juga akhirnya hancur lebur dengan berbagai dominasi, dimana yang terbesar yaitu adalah Suni dan Syiah.

Demikian pula pada akhirnya gereja protestanpun terpecah menjadi dua idominasi besar yaitu idiologi Lutheran dan Calvinis dengan berbagai aliran sebanyak sungai di bumi.

Kembali ke soal MUI yang pada awalnya ada sebagai alat daripada rezim Orde Baru dalam memperkuat kekuasaannya yaitu dengan dukungan daripada kelompok Ulama (Brahmana).

Hingga kemudian setelah Reformasi yaitu terjadi kekacauan kekuasaan, MUI tempat berkumpulnya para Ulama yang pada awalnya sebagai faktor pendukung kekuasaan, berbalik menjadi menyerang rezim penguasa. Ini terlihat sejak Gus Dur yang juga adalah seorang Ulama diserang oleh intrik-2 Fatwa MUI, sampai akhirnya Gus Dur merespon dengan pernyataan Bubarkan MUI.

MUI dengan kekuasaan yang dimilikinya serta dengan dukungan ormas-2 Islam, mulai merasa semakin mampu unjuk gigi melawan Kesatria untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar.

Sebenarnya cukup mengherankan mengapa pada era Gus Dur selaku presiden yang seorang Ulama malah diserang dengan berbagai Fatwa-2 MUI. Namun kalau kita merujuk kembali pada era berkuasanya Vatican menjadi paham bagaimana intrik didalam Vatican sendiri telah membuat dirinya menjadi lemah.

Padahal seharusnya ini sangat tidak diperlukan kalau MUI sadar bahwa posisi dirinya adalah bagian daripada Kasta Brahmana, bukan untuk masuk pada tataran lingkaran eksekutif terlebih disaat kelompok eksekutif sedang sangat kuat-kuatnya di era Jokowi.

Terbukti dengan penangkapan pejabat tinggi MUI oleh Densus 88 sebagai terduga teroris. Ini membuktikan bahwa eksekutif sedang sangat kuatnya dan tidak lagi memerlukan keberadaan kelompok Brahmana ikut ada dalam menjalankan tata kelola kekuasaan.

Maka dalam hal ini penyelesaian berbagai kepentingan faksi didalam MUI selaku corong Ulama (Brahmana). Hanya dapat diselesaikan oleh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah selaku kelompok terbesar Islam Indonesia untuk mengupayakan agar posisi MUI adalah sebagai mitra eksekutif dan bukan sebagai lawan dalam menjalankan tata kelola negara Indonesia.

Konflik kepentingan didalam struktur internal kasta, hanya bisa diselesaikan oleh para member dari strutur kasta terkaitnya. Mencoba menguasai atau penyelesaian diluar lingkup kelas kastanya hanya akan semakin membuat hancur otoritasnya sendiri.

Jakarta 19 November 2021

Oleh : Jeannie Latumahina