PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Sekjen GAMKI, “Generasi Milenial harus Jadi Role Model Terciptanya Modernasi Beragama”

Sekjen GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat, S.T., M.T.

Surabaya – Moderasi beragama itu berbeda dengan moderasi agama,” pandangan Sekretaris Umum DPP GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat, S.T., M.T.

“Kalau agama itu sudah mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran; agama mengajak kita untuk peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan. Yang lebih penting adalah bagaimana beragama dengan cara yang tidak berlebihan dan tidak melupakan kehidupan sosial masyarakat,” terang Sahat di Studio iNews TV (12/11).

Katanya, generasi milenial merupakan kamu muda dengan usia 20-40 tahun, ada yang masih kuliah, tapi ada juga yang sudah professional; seharusnya kitalah yang menjadi role model terciptanya moderasi beragama.

Namun, sekarang ini justru banyak anak muda yang bersikap eksklusif, hanya mau di komunitasnya saja, tidak peduli dengan yang lain,” tambahnya.

Lebih lanjut Sahat menerangkan, di era digital sekarang, yang menjadi tantangan terbesar adalah bagaimana media sosial dimanfaatkan sebagai medium untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran moderat, bukan justru digunakan untuk menyebarkan pemikiran radikal.

Saat ditanya bagaimana cara menanamkan nilai-nilai moderasi di generasi milenial? Sahat menjelaskan bahwa peran yang paling penting ada pada dunia pendidikan formal.

“Pertama, kehadiran Kementerian Agama dan Kemendikbud sangat penting untuk mengajarkan bagaimana kita melihat agama dari perspektif yang moderat, bukan hanya dari agama kita, tapi juga dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang kedua, bagaimana pemuda terlibat dalam komunitas-komunitas yang bisa membangun secara positif,” tegas Sekum DPP GAMKI ini.

“Generasi kitalah yang menjadi generasi penerus bangsa, ketika kita hanya memikirkan nasib golongan kita saja bagaimana Indonesia bisa maju. Kalau kita bisa bergotong royong, pasti ke depannya Indonesia bisa maju,” tutup Sahat. Info/red