PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Kementerian Perdagangan Gandeng Majelis Umat Kristen Indonesia Gelar Workshop bagi pelaku UMKM

MUKI workshop UMKM

Surabaya,pustakalewi.com – Kementerian Perdagangan Republik Indonesia bekerja sama dengan Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Jawa Timur mengadakan pelatihan UMKM secara offline di Double Tree Hotel Surabaya, Jumat (12/10).

Peserta pelatihan terdiri dari pelaku UMKM yang ada di wilayah Surabaya, Malang, Tulungagung dan sekitarnya

Ketua Umum MUKI Jatim Pendeta Serta Buwono mengatakan, materi mengenai pelatihan salah satunya terkait kondisi UMKM di Indonesia serta tata cara ekspor impor yang berlaku.

Acara ini punya kaitan erat dengan tugas dan amanah organisasi. Sesuai dengan salah satu amanat Musyawarah Nasional II MUKI pada tahun ini di Jakarta, program pemberdayaan ekonomi umat menjadi salah satu perhatian utama tambah Pdt Setya.

“Dengan adanya workshop ini diharapkan UMKM bisa dimudahkan untuk mendapatkan potensi dan peluang besar di satu daerah atau negara dan memudahkan dalam segi pengelolaan” kata Pdt Setya.

Ada tiga poin yang menjadi perhatian MUKI,

Pertama, MUKI sebagai salah satu lembaga yang bertugas menghimpun aspirasi umat Kristen, melihat bahwa kondisi perekonomian sejak pandemi Covid-19 semakin turun. Pertumbuhan mandeg atau kondisi stagflasi, bahkan kontraksi perekonomian ini dirasakan juga di tingkat global. Umat Kristen di Jawa Timur sebagai bagian dari masyarakat juga merasakan dampak yang sama. Bukan hanya umat, tapi juga institusi gereja juga terimbas oleh pandemi ini. Akibatnya, kualitas kehidupan semakin menurun. Ini semakin menambah panjang pekerjaan rumah bangsa kita dalam menata perekonomian setelah sebelumnya kita berkutat di permasalahan pengentasan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi.

Kedua, MUKI mengapresiasi upaya-upaya dalam membangkitkan kembali perekonomian nasional. Upaya ini harus kita lihat sebagai bagian dari penanggulangan pandemik Covid-19, yang secara paralel juga menyediakan jaring pengaman sosial bagi masyarakat yang terdampak. Program-program jaring sosial seperti PKH, Prakerja, insentif ketenagakerjaan, insentif kepada UMKM, dan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak kami rasakan cukup menolong dalam jangka pendek. Namun perlu juga mendapat perhatian untuk jangka panjang mengingat dampak pandemi ini ke perekonomian juga berlangsung panjang, bukan hanya 1 atau 2 tahun. Apalagi, kami menerima beberapa laporan dari pengurus dan simpatisan MUKI di daerah bahwa dampak pandemi ini bukan hanya di perekonomian, tapi juga dalam konteks sosial kemasyarakatan. Kematian anggota keluarga, kehilangan mata pencaharian akibat pembatasan sosial, dan belum dibukanya secara penuh tempat-tempat wisata di daerah adalah dampak pandemi yang kami nilai memerlukan perhatian jangka panjang.

Dan Ketiga, MUKI melihat bahwa sektor ekonomi informal dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah perlu mendapat pendampingan tanpa harus menimbulkan ketergantungan. Upaya-upaya pendampingan di sini sekali lagi perlu diapresiasi mengingat banyak sekali program dan insentif dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Kementerian/Lembaga, serta tak lupa BUMN dan BUMD berlomba-lomba menggalakkan dan membina UMKM. Dari sisi regulasi, pemerintah beserta parlemen juga telah mengundangkan Undang-Undang Cipta Kerja yang merubah banyak wajah regulasi perizinan yang kami nilai semakin menguntungkan bagi UMKM. Namun dari penilaian kami juga, aspek kemandirian bagi UMKM juga harus ditekankan dalam artian jangan sampai semua insentif dan pendampingan bagi UMKM justru menghilangkan daya saing dan kualitas UMKM itu sendiri. Setelah pelaku UMKM dibekali dan meningkatkan pemahaman bisnis melalui kegiatan-kegiatan semacam ini, diharapkan UMKM mampu meningkatkan kualitasnya secara mandiri. Mungkin masih ada mental blocking atau paradigma tidak mau berkembang bagi pelaku usaha kecil meskipun mereka sudah berkali-kali mendapat pelatihan dan insentif. Cara pandang seperti inilah yang harus dikikis dan itu bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga tugas bagi seluruh anggota dan pengurus MUKI yang terlibat dalam upaya-upaya pengembangan ekonomi masyarakat.

Hadir sebagai pemateri dan narasumber dalam workshop ini, yaitu Jeff Kristianto Iskandarsyah, Program Manager Business & Export Development Organization (BEDO), Irene Setiawati selaku owner Maharani Craft, dan Maria Satiaputri selaku owner Spa Factory Bali. Info/red