PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Kolaborasi Wayang Potehi dan Ketoprak Lakonkan Sie Jin Kwie – Ceng See

kolaborasi potehi

Surabaya – Kolaborasi ketoprak dan wayang potehi mengambil cerita berjudul Serial Sie Jin Kwie – Ceng See (Kepahlawanan Wan Ke Hwa) disutradarai Widayatno berlangsung apik dan menarik. Pagelaran paduan budaya dibuka dengan iringan musik khas tradisional China dan tarian.

Kolaborasi unik ini dipentaskan tepat pukul 7 malam, pada Jumat (5/11/21) lalu, disiarkan secara live di akun YouTube Disbudpar Kota Surabaya, Sapawarga Kota Surabaya dan Bangga Surabaya. Juga melalui, akun Instagram @Surabayasparkling, @Surabaya dan @Sapawargasby.

Menceritakan kepahlawanan Wan Le Hwa. Dimana, Kota Kwan diserang negara Tay Tiong Tiauw yang dipimpin Jenderal Sie Jin Kwie. Rupanya hanya Wan Le Hwa yang bisa membawa perdamaian antar kedua kubu kerajaan tersebut.

Akhirnya, Wan Le Hwa memohon izin untuk turun ke medan laga, karena ia merasa gusar mengetahui pertikaian belum juga tuntas. Guru Le San Sing Bo datang dan memberi wejangan kepada Wan Le Hwa, bahwasannya di negara Tiauw ada jodoh yang sudah ditakdirkan oleh Dewa untuknya.

Ternyata apa yang dikatakan guru Le San Sing Bo benar. Setelah bertempur dengan tiga prajurit wanita, muncullah seorang lelaki tampan yakni Panglima Sie Teng San yang membuat Wan Le Hwa jatuh hati pada pandangan pertama. Namun Panglima Sie Teng San menantang duel Wan Le Hwa. Akhirnya Wan Le Hwa yang sakti dapat melumpuhkan Panglima Sie Teng San.

Panglima Sie Teng San berjanji menikahi Wan Le Hwa asal mengobati kakinya yang lumpuh. Naas, Panglima Wan Le Hwa yang pulang ke kerajaan dan memberitakan kemenangannya juga akan dilamar Panglima Sie Teng San, ditentang mentah-mentah sang Ayah.

Ayah Wan Le Hwa tidak sudi anaknya menikah dengan musuh yang ditaklukkan. Demikian pula dengan kakak lelaki Wan Le Hwa juga menentang dan mereka terbunuh dengan senjatanya sendiri.

Akhirnya Panglima Sie Teng San datang melamar dan disetujui ibunya Wan Le Hwa. Begitulah akhir kisah apik kolaborasi ketoprak dan wayang potehi yang disiarkan hampir 1 jam lebih, serta banyak mendapat komentar positif dari nitizen.

Surabaya Art And Culture Festival 2021 menampilkan Kolaborasi Seni Tradisi untuk meningkatkan kerjasama antar komunitas seni serta menjadi wadah dalam memperkaya kreativitas multi disiplin.

Pertunjukan kolaborasi di antaranya, dagelan “Guyon Seger” Cak Suro dengan tampilan musik Keroncong. Lalu, pementasan kesenian ludruk mengangkat cerita rakyat Sawunggaling.

Ada pula, pertunjukan kolaborasi wayang pakeliran padat dengan wayang orang. Pertunjukan Reog, Jaranan dan Barongsai yang mengemas kolaborasi seni tradisi Mataram dan Tionghoa. Info/red