PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

SEJARAH PENGEMIS

ilustrasi pengemis

Senin, 22 Juli 2019, aku yang tengah bertualang, memutuskan singgah sejenak di Kota Surakarta, sebuah kota yang sarat akan nilai-nilai sejarah dan budaya, yang mana publik Indonesia, lebih akrab menyapanya sebagai Solo.

Ini adalah sebuah perjalanan yang sarat akan makna, karena melalui perjalanan ini, aku yang gemar berguru pada alam, menjadi semakin paham akan nilai dan kekuatan Tuhan yang selalu setia membersamaiku. Kekuatan Tuhan memang misterius. Tepat di saat aku gundah, Dia pun dengan sigap mengutus malaikat berbentuk manusia yang selalu tulus memberikan aku jawaban, kemana kaki kecil ini harus melanjutkan arah.

Dan aku pun sangat bersyukur, interaksi nyata menjadi sesuatu yang sangat aku hargai di sepanjang perjalanan ini. Kita saling bertatap muka, bukan hanya mengetik dan berpura-pura tertawa di kolom media sosial.

Jika kembali diingat, perjalanan panjang ini, menjadi serangkaian keberuntungan dan ketidaksengajaan yang patut aku syukuri. Dan dengan cara inilah, aku bisa terus berkelana, tanpa tahu kemana angin akan membawaku. Tak mengapa, biarlah aku menjadi anak hilang, hingga nanti ditemukan kembali oleh rasa rindu yang bersedia menuntunku pulang.

Ada beragam alasan kenapa aku sangat mencintai perjalananku menyusuri setiap jengkal negeri kelahiranku ini. Alasan klasiknya, karena aku ingin mengeja INDONESIA. Ya, jika diibaratkan sebagai susunan huruf, kata INDONESIA dengan ejaan yang benar, terdiri atas huruf-huruf I-N-D-O-N-E-S-I-A. Dan jika sekadar mengeja huruf, tentu tidak akan terlalu rumit. Akan tetapi, ketika kata INDONESIA ini bukan lagi menjadi sekadar bunyi, melainkan suatu konsep tentang komunitas baru di kawasan Asia belahan tenggara, tentu saja mengeja INDONESIA bukanlah pekerjaan yang mudah.

Mengeja INDONESIA hingga jelas setiap unsur-unsur pembangunnya akan melibatkan banyak usaha untuk mengungkap unsur-unsur pembentuk sejarah, budaya, dan identitas dari sebuah komunitas wilayah yang baru berdiri resmi pada 1945 ini.

Dan di hari Senin nan ramah, dua tahun silam itu, langkah kaki kecil ini melangkah di kota Solo, dengan satu tujuan, mengumpulkan kepingan mozaik untuk mengeja INDONESIA.

Di kota budaya yang di awal kemerdekaan Republik ini pernah berdiri sebagai provinsi otonom dengan nama Daerah Istimewa Surakarta (DIS) ini, aku menemukan sebuah kepingan makna kehidupan tentang asal-muasal kata “pengemis”, yang dewasa ini, publik Indonesia mendenotasikan istilah “pengemis”, dengan “profesi meminta-minta”.

Sejatinya, istilah pengemis lahir sejak era kerajaan Mataram Islam, dimana berdasarkan tradisi dan kebijakan raja-raja di zamannya, hari Kamis dipilih sebagai hari khusus, dan diposisikan sebagai waktu untuk menyambut datangnya hari Jumat. Sudah menjadi rahasia umum, hari Jumat adalah hari yang teramat istimewa bagi umat Islam, tak terkecuali bagi Para Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Berdasarkan informasi yang aku himpun, dalam menyambut hadirnya hari Jumat yang mulia, saban Kamis pagi, Sri Susuhunan mempunyai agenda menghadiri “pisowanan” di hadapan para pejabat yang menyampaikan berbagai macam permasalahan negara dan rakyat.

Dalam ritual “pisowanan” tersebut, Beliau juga melaksanakan meditasi selama kurang lebih satu jam.

Dan di waktu yang bersamaan, beberapa Abdi Dalem Keraton ditugaskan untuk melaksanakan “chaos dhahar”, yaitu menyajikan sesaji di berbagai sudut kawasan Keraton Surakarta, serta berdoa demi menjaga kesucian, kesejahteraan, dan keselamatan Keraton.

Rangkaian upacara ini dikenal sebagai upacara “Kemisan”, dan ritual ini pun selalu rutin diadakan hingga sekarang.

Di era pemerintahan Susuhunan Paku Buwono X, yang bertakhta sejak tahun 1893, hari Kamis di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat, dianggap begitu sakral dan penting. Di hari tersebut, Sang Raja berkenan keluar dari Keraton untuk meninjau keadaan rakyat. Dan dalam setiap perjalanannya dari Keraton menuju Masjid Agung dan ke berbagai daerah di wilayah Kasunanan Surakarta, Susuhunan Paku Buwono X selalu membagikan “udhik-udhik”, yang merupakan sedekah berupa koin kepada rakyat yang berkumpul menanti kedatangan Sang Raja di sekitar Alun-alun maupun di sepanjang jalan.

Tradisi memberikan sedekah yang populer dengan sebutan “Kemisan” ini, lazim menyebut penerima sedekah dengan istilah “Wong Kemisan” atau “Wong Kemis”. Dan seiring berjalannya masa, para penerima sedekah dari Sang Raja ini, populer dengan sebutan “Wong Ngemis”. Hingga dewasa ini, publik Indonesia lazim menyebut istilah “Wong Ngemis” sebagai “Pengemis”, yang bermakna sebagai orang yang berprofesi sebagai peminta-minta.

Ada nilai kehidupan, nilai moral, dan esensi yang sarat akan makna yang aku tangkap dan aku resapi dalam perjalananku kala itu di kota Solo. Aku takjub dengan sikap rendah hati Sang Raja dan ketulusannya dalam berbagi kepada para rakyatnya. Inilah substansi dari gambaran kehidupan yang turun-temurun tumbuh di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat, bahwasanya hidup tak selamanya berorientasi pada materi, hidup tak selamanya berorientasi pada duniawi. Lebih dari itu, hidup adalah tentang bagaimana kita bisa bermakna dan memberikan dampak positif untuk kehidupan, dan tentang bagaimana kita memberikan nilai untuk kehidupan itu sendiri.

Dan sebagai seorang pembelajar yang tumbuh dan selalu setia berguru pada kampus kehidupan, aku memaknai perjalanan ini sebagai perjalanan sederhana namun sarat akan nilai dan makna. Dan aku sangat bersyukur, karena cendera mata yang kubawa pulang dari perjalananku bukan hanya barang-barang yang memenuhi ransel, atau foto-foto yang memenuhi diska, tapi juga pemahaman baru yang memenuhi hati dan kepala. Jika bukan karena perjalanan ini, mungkin aku takkan pernah tahu bahwa di Indonesia ada banyak orang-orang baik, orang-orang yang bersedia membantu seseorang yang tidak mereka kenal sebelumnya, untuk meneruskan langkah. Mereka tak pernah mengharapkan imbalan uang, hanya berharap dibayar dengan hangatnya persaudaraan, dan cerita tentang sudut-sudut Nusantara, yang tidak tahu kapan bisa mereka lihat secara nyata.

Di mataku, negeri ini bukan lagi digambarkan dengan kemacetan dan hiruk-pikuk manusia urban, namun dilukiskan dengan alam dan lingkungannya yang kaya raya. Rasa sedihku bukan lagi ditimbulkan oleh patah hati karena dikhianati, namun ditimbulkan oleh ketidakadilan yang dialami oleh rakyat. Ikatan sesama manusia untukku, bukan lagi tentang untung dan rugi, tetapi tentang berbagi dan tolong-menolong.

Tulisan sederhana tanpa makna ini ditulis oleh seorang Huson Riaji Sippan. Dia sangat nyaman mengklaim dirinya sebagai seorang pemimpi dari kampung. Lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Candinegara, sebuah desa sederhana di pinggiran kota Purwokerto (Banyumas), Jawa Tengah, di tengah perjalanan, Huson muda memutuskan berhijrah ke Jakarta, hingga dengan tarikan Alam Semesta, dia larut dalam petualangannya menyusuri Indonesia dan beberapa negara di dunia, dan Dul biasa dia disapa. Seorang pembelajar yang setia berguru pada alam dan kehidupan ini, senang bertadabbur dengan alam, guna menyingkap tujuan Tuhan menciptakan kehidupan. Dari alam dan kehidupan itulah, dia bisa belajar tentang hakikat dan makna tentang apa itu Spiritual, Hikmah, dan Kebijaksanaan. Bermimpi menjadi seorang pembuat sejarah di masa depan, dia pun terus belajar dengan cara menyelami manusia, menganalisa sejarah, mempelajari budaya, dan menuliskan setiap cerita. Cerita-cerita sederhana yang pernah dia catat, dia himpun dalam sebuah karya sederhana bertajuk HUSONESIA.

Kenali Indonesia lebih dekat bersama HUSONESIA. Karena HUSONESIA mengajakmu melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda dan menyelami Indonesia dengan falsafah kehidupan dan kearifan lokalnya. HUSONESIA juga mengajak dunia membuka mata melalui informasi yang terangkum di dalamnya, jika Indonesia adalah kepingan surga nan indah mempesona.

Tetap Istiqamah dalam berbagi kebajikan.
Semoga semua Makhluk Allah berbahagia.

Salam Rahayu Sagung Dumadi.

Wisdom is ofttimes nearer when we stoop than when we soar. Knowing yourself is the beginning of all wisdom. It is better to remain silent at the risk of being thought a fool, than to talk and remove all doubt of it.

Salam Hangat dariku,
Huson R. Sippan
(The Next History Maker)