PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Ketika Positif Menjadi Hal yang Negatif

opini jojo1

Hari pertama bersama Covid-19 oleh Jojo Raharjo

Seperti ada ‘roh’ yang menuntun saya untuk melakukan tes Covid-19, hari itu. Kamis, 8 Juli 2021.

Entah kenapa, sore hari, ya sekitar Maghrib lah, saya merasa badan agak hangat. Turun dari lantai atas, saya minta isteri untuk ‘kerokin’. Cara tradisional untuk mengusir masuk angin.

Alih-alih setuju, Celi mengajak saya ke dokter. “Ada yang gak beres dengan nafasmu,” katanya.

Berboncengan motor keluar komplek perumahan, insting saya bilang, sebelum ke dokter, sebaiknya ke klinik dulu. Klinik yang dimaksud adalah sebuah bangunan baru di samping gerbang perumahan kami. Saya ingin memastikan saya kena Covid-19 atau tidak.

Sejak kasus Covid-19 marak di awal 2020, salah satu usaha yang berkembang -di saat bisnis lain berguguran- adalah pelayanan kesehatan. Bak mencium aroma emas di antara puing-puing kebakaran, berdirilah klinik baru itu: melayani tes Covid-19 dalam berbagai tipe, mulai rapid antibodi, swab antigen hingga Polymerase Chain Reaction alias PCR. Yang namanya rapid antibodi ditusuk ujung jari hingga keluar darah. Hasilnya bisa diketahui dalam 15 menit.

Sementara itu, Tes Usap alias Swab Antigen mengambil sampel cairan pernapasan (lendir) dari hidung di belakang hidung dengan alat cotton bud panjang. Sampel tersebut lalu ditempatkan di larutan khusus untuk melihat ada atau tidaknya antigen virus corona. Dua kali colok di lubang hidung. Hasilnya bisa diketahui dalam 15 menit.

Adapun PCR mengambil sampel cairan pernapasan atau lendir dari hidung dan tenggorokan dengan alat mirip cotton bud panjang. Terkadang, ada juga sampel yang diambil dari ludah. Dua kali colok di hidung ditambah satu di atas lidah, sambil meminta pasien berteriak, “A panjang… aaaa…” dengan lidah tidak bergerak.

Setelah sampel swab diambil, sampel lalu dimasukkan ke dalam wadah steril dan disegel, lalu dikirim ke laboratorium. Setibanya di laboratorium, petugas laboratorium akan melakukan ekstraksi atau mengisolasi materi genetik dari sampel yang sudah diambil. Setelah diberi bahan kimia yang disebut reagen primer dan probe, sampel lalu dimasukkan ke mesin PCR untuk diproses termal (dipanaskan dan didinginkan secara terkontrol) untuk mengubah RNA menjadi DNA. Hasilnya bisa diketahui 1×24 jam atau kadang lebih.

Baiklah, saya memilih Swab Antigen dulu. Biar cepat diketahui hasilnya. Setelah dua kali colok hidung, saya melihat bagaimana sampel yang sudah diberi larutan khusus itu diteteskan ke sebuah batangan putih dengan parameter tertentu.

“Kalau garisnya satu, Bapak negatif. Tapi, kalau dua garis, kemungkinan positif,” kata sang petugas medis klinik.

Nah, nah… berbeda dengan belasan kali tes sebelumnya, kali ini pergerakan hasil tetesan sampel itu bergerak ke atas. Membubuhkan dua garis terang di samping huruf C dan T. Aksara C itu dari kata ‘Control’, sedangkan T sebagai kependekan dari ‘Test’.

“Wah, positif ini, Pak,” kata Mbak tadi. Mempertegas.

Memang Swab atau Tes Usap Antigen hanya salah satu cara. Murah juga, ongkosnya hanya Rp 165 ribu. Setidaknya bila dibandingkan Tes PCR yang menyentuh kisaran Rp 750 ribu.

Saya bertekad, esok hari akan melakukan Tes PCR yang tingkat akurasinya lebih tinggi. Meski begitu, tetap saja saya tercenung di parkiran klinik. Bisa-bisanya ya saya positif? Dapat dari mana ya? Inilah namanya sesuatu yang positif tapi jadi kabar negatif.

Apa saat Rabu, 7 Juli, kemarin berkeliling apotek mencari Ivermectin untuk seorang sahabat yang terpapar Covid-19? Tapi ah, selama masuk ke sekitar lima apotek itu, saya memakai masker kok. Setidaknya, mengenakan buff yang biasa digunakan saat mengendarai motor.

Atau saat jalan-jalan pagi tadi? Usai menyaksikan Inggris mengalahkan Denmark pada Semifinal Piala Eropa dan saya berkeliling komplek perumahan saat mentari masih malu-malu memampakkan diri?

Atau saat seminggu sebelumnya… dua kali saya makan malam di luar rumah. Mie Godog yang ibu penjualnya tertib pakai masker tapi nampak batuk-batuk melulu? Atau kala makan sop kaki kambing dan dua anak muda peracik dagingnya tak pakai masker? Tapi itu kan sudah sepekan lalu…

Ah… sudahlah. Capek mengingat dan menerka. Diterima saja dulu.

Kami pun kemudian bergerak ke dokter. Beda klinik. Saya harus amankan agar Covid-19 ini tidak merasuk dan merusak pernafasan. Saya pernah punya penyakit asma. Tapi itu dulu, duluuuu sekali. Sudah lama bengek tak mengganggu. Kalaupun kumat, pemicunya biasanya salah satu dari tiga: minum es, ada di daerah dingin, atau kecapekan.

Beberapa kali muhibah ke Australia, Eropa, dan Amerika saya selalu bawa obat asma andalan. Syukurlah, tak kambuh di sana. Sebagaimana pada 2002 saya pernah kambuh saat jalan-jalan le Solo bersama kawan gereja, atau di Bandung 2005, bersama calon isteri saat itu.

“Ah, ini gejala ringan,” kata Dokter Miftah yang dinas malam itu. Ia sarankan banyak makan dan tidur. Memang sih, dua bulan kemarin, saya coba praktikkan ‘Intermittent Fasting’ alias ‘Diet Puasa’. Makan selama 8 jam antara pukul 12 hingga 20, dan tidak makan 16 jam sejak jam delapan malam hingga 12 siang. Minum boleh.

Di klinik Prima Medika ini, saya dites saturasi untuk mengetahui jumlah oksigen dalam darah. Standar normalnya 95-100. Syukurlah, saya dapat poin 99. Tensi pun oke: 130/90.

Pulang membawa beberapa obat. Khususnya ya itu tadi, agar Covid keparat ini tak menyerang asma. Dua obat sebelum makan, yakni Lokev Omeprazole untuk melawan kelebihan asam lambung, serta Ondansetron hcl Dihydrate 8mg, obat anti mual dan muntah.

Eh, tak hanya itu, Saudara-saudari! Sesudah makan ada empat jenis tamba lagi. Masing-masing sirup Novadryl sebagai obat batuk, Coparcetin yakni obat demam dan flu, Kalmethasone untuk melawan inflamasi, peradangan, serta pil kuning kecil yang katanya untuk obat sesak nafas.

Oke, Covid, saya punya pasukan tambahan: obat-obatan ini. Selain keyakinan bahwa saya sudah menjalani vaksinasi Sinovac dua dosis pada 4 dan 18 Maret 2021 di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian.

Saya bernyanyi, dalam hati, “We are the champions, my friends, and we’ll keep on fighting ’til the end…”

Senjata saya sebelum tidur tetap sama sejak bertahun-tahun silam. Membaca Mazmur 91 yang menjanjikan perlindungan Tuhan bagi orang-orang nan melekat padaNya.

Mazmur 91:1-2

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi

dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa

akan berkata kepada Tuhan: ”Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku,

Allahku, yang kupercayai.”