PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Indonesia Bisa Melewati Pandemi Virus

Jeannie

Menjengkelkan kalau membandingkan Indonesia dengan negara liliput macam Singapura, New Zealand. Termasuk juga Australia jiaaah tidak Apple to Apple banget.

Membandingkan Indonesia itu semestinya dengan negara besar dan komplek seperti Amerika, China dan India. Baru sepadan namanya.

Masalah di Indonesia dan India yang tampak semerawut oleh karena jumlah aparat tidak sebanding dengan jumlah rakyatnya, tidak seperti di negara Amerika juga China. Sehingga tentunya selain daripada sangsi pelanggaran yang bergantung punya duit berapa, hukum menjadi terlecehkan.

Namun jangan pernah menyepelekan rakyat Indonesia, coba saksikan kehidupan kota kecil yang modern seperti Balikpapan, Kediri, Tembagapura terlihat bahwa sebenarnya rakyat Indonesia juga sangat bisa disiplin, tertib dan teratur seperti negara maju.

Masyarakat Indonesia memiliki budaya paternalistik atau meniru pemimpinnya dan penurut. Jadi tergantung bagaimana sikap perilaku para Pemimpin saja dalam membangun dan mengarahkan cara hidup rakyatnya.

Indonesia Pasti Bisa !!!

Terbayang jika kelak Indonesia dipimpin oleh Para Pemimpin yang hebat. Pasti akan bisa menggetarkan dunia dan akhirat. Luar biasa

Sebenarnya demikian juga masalah korupsi bukanlah budaya Indonesia melainkan adalah peninggalan kolonialis, mengingat sebelum masa kolonial yang menjadi bisa Raja atau Tetua Adat itu adalah orang pilihan yang terbukti hidupnya berjuang untuk rakyatnya. Sehingga pasti akan dibela oleh segenap rakyatnya.

Namun dimasa kolonial inilah kemudian atas dasar dari kepentingan kolonialis, kemudian membuat para penguasa lokal dari yang terendah hingga penguasa tertinggi kemudian mulai menjual rakyat untuk menjadi budak pekerja kompeni dengan imbalan harta dan perlindungan.

Maka muncul istilah negative seperti Tuan Demang, Tuan Beck, Pak Mandor. Dan terbukti banyak muncul perkampungan budak di Batavia.

Saat paling parah ketika Gubernur Jendral Daendels membangun jalan tol dari ujung ke ujung pulau Jawa. Terjadi pemerasan terhadap rakyat sebagai pekerja, dan bagaimana pejabat lokal yang dibayar kompeni untuk menjamin mengerahkan rakyatnya.

Selama sekian ratus tahun kumpeni berkuasa lambat laun merubah tabiat masyarakat. Menjadi pemimpin adalah untuk jadi kaya raya dan berkuasa dengan menindas rakyatnya.

Catatan sejarah demikian ini tentu tidak ada di sejarah negara liliput. Tapi ada di empat negara besar dunia.

Di India dengan pengetatan sistem kasta, terjadinya perang sipil di Amerika, hingga kehancuran kekaisaran China oleh komunis. Semua memiliki kemiripan sejarah. Yaitu rakyat bergerak.

Keserakahan Kezaliman penguasa yang kuat menindas yang lemah sehingga akhirnya mengobarkan Revolusi berdarah. Kalau di Indonesia dapat kita ingat dari runtuhnya rezim Orde Baru oleh kekuatan rakyat.

Indonesia sekarang sangat beruntung dipimpin oleh Pemimpin yang sungguh bekerja untuk rakyat, dan tidak terlihat tidak ada niatnya untuk memperkaya diri dan keluarganya, atau bahkan memperpanjang waktu berkuasanya lebih dari yang digariskan konstitusi.

Semoga bangsa Indonesia dapat selamat dari bencana yang luar biasa, dan bahkan terus bertahan menjadi lebih baik lagi kembali kepada akar budayanya yang sangat kekeluargaan dan bertenggang rasa antar anak bangsa saling bergotong royong. Karena rakyat dengan tulus mendukung pemimpinnya yang berkuasa untuk rakyat.

Tentu kita juga berharap nantinya apa yang telah dimulai dan dicontohkan oleh Presiden Jokowi dengan baik, dapat terus bergulir untuk kemudian menciptakan banyak Para Pemimpin yang sungguh benar dan berbudi luhur.

Harapan ini tentunya untuk semua anak bangsa dan semoga terus berlanjut hingga akhir zaman..

Untuk mengatasi pandemi covid 19, di pemerintah sudah ada Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 dan PPKM Darurat yang dipegang pak Luhut.

Namun mengapa koordinasi susah? Karena memang selalu dipolitisasi oleh para peternak kekuasaan lama. Bahkan Kabareskrim mengatakan ada kepala daerah yang tidak sepenuh hati menjalankan kedaruratan.

Adanya unsur kekuatan politik lama yang selalu menghendaki Jokowi-Amin tidak genap 5 tahun dalam periode kedua.

Karena kekuatan lama ini jelas akan sukar menang jika harus bertanding melalui jalur konstitusi atau pemilu.

Jikapun ini terjadi ada kekuatan politik yang diuntungkan.
Siapa big bossnya? Intelijen pasti sudah tahu benar siapa dia.

Tentang kekompakan pusat daerah, kendala lainnya adalah duit. Keuangan pemerintah daerah rata- rata sudah minim. Mereka hanya berharap dari pusat dan sampai saat ini belum cair.

Sebenarnya pemerintah bisa melakukan lebih baik namun terbatas oleh adanya undang-undang keuangan Bank Indonesia yang perlu revisi, dan jelas tidak bisa dilakukan mengingat perlu revisi dari legislatif.

Insentif Nakes saja baru bisa cair akhir bulan ini dari pusat.
Kalau pusat kan bisa hutang ke luar negeri, sementara daerah tidak bisa. Hal ini menyebabkan daerah hanya berharap duit dari pusat. Gubernur seakan gak peduli, karena sudah gak ada duit

Pemasukan pajak merosot tajam, sementara pengeluaran membengkak.

PPKM Darurat ini sebenarnya sudah sangat tegas. Tidak ada pertimbangan ekonomi lagi. Ini sudah seperti lockdown di Malaysia.

Apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk membantu negara?
Menurut saya, masyarakat bisa membentuk relawan untuk mengisi kekurangan-kekurangan yang terjadi saat ini.
Yang dibutuhkan sekarang adalah action.

Sebaliknya kalau kita dukung dan biarkan pemerintah berjalan dengan apapun scenario yang ada dan sudah diputuskan saat ini, supaya kalau masih ada dampak berlanjut, maka pemerintahlah yang mempunyai tugas, otoritas, kapasitas & logistic untuk melanjutkan program penanganannya;

Saat ini di tingkat elite dan politik, kekuatan sudah ter-pool semua ke pemerintahan Jokowi praktis tidak ada lagi kekuatan elite atau politik di luar pemerintahan yang signifikan. Sehingga proses menjadi dominasi “satu-arah”;

Kita berharap saja, siapa tahu PPKM akan berbuahkan hasil yang baik ke depan, semoga !.

Jakarta 11 Juli 2021

Penulis : Jeannie Latumahina