PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Dimsum Chika, Usaha yang lahir dan bertahan di tengah pandemi

Denpasar,pustakalewi.com – Sejak virus Covid-19 masuk ke Indonesia, Pulau Dewata, Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang paling terdampak di sektor Pariwisata, khususnya Perhotelan. Sejak Maret 2020, tingkat hunian hotel yang berada di Bali menurun drastis, para wisatawan baik domestik maupun luar negeri mulai membatalkan akomodasi dan tentunya sangat berdampak ke karyawan hotel. Satu persatu dari para pekerja hotel mulai dirumahkan. Hal ini membuat semua orang berusaha bertahan hidup dengan memutar otak, bagaimana caranya menghasilkan uang yang dapat membantu mereka untuk kehidupan sehari-hari khususnya bagi para perantau seperti Sisca Oktavia. 

Perempuan kelahiran Surabaya, 28 Oktober 1994 ini sebelumnya berprofesi sebagai Marketing di salah satu hotel berbintang di Bali. Namun, sejak April 2020, ia tidak menyerah dengan keadaan dan bertahan di Bali dengan cara membuka usaha Dimsum bersama rekannya, M. Luthfi yang ahli di bidang Food and Beverages

Bermodalkan pengalaman 6 tahun di Hotel, Sisca dan Luthfi akhirnya memutuskan untuk bersama-sama menjual makanan favorit mereka, dimsum. “Awalnya, dimsum di Bali rata-rata harganya Rp 30.000 keatas untuk 3 pcs dimsum, kami memutar otak bagaimana bisa menjual dimsum murah, enak namun dengan kualitas yang sama seperti hotel berbintang dan dapat dinikmati oleh semua kalangan.” Ujar Sisca. 

“Luthfi bertugas untuk menghitung berapa biaya produksi dan harga jual, serta resep baku dari dimsum, sedangkan saya lebih ke design, penjualan dan ide-ide bagaimana mencari pelanggan baru.” Lanjut Sisca. 

Dengan modal tabungan seadanya, akhirnya Dimsum Chika – Hongkong Style terlahir di tengah pandemik. Demi mendapatkan pelanggan baru, Sisca dan Luthfi rela untuk mengantar sendiri dimsum ke lokasi pembeli yang jaraknya sekitar 20 km. 

“Awalnya, dimsum dibuat bersama di dapur kos, lalu dibekukan dan dijual menggunakan social media. Karena tingginya permintaan untuk dimsum yang ready-to-eat akhirnya kami berdua mulai pasang di aplikasi online. Lalu setelah itu, kami sangat bersyukur bisnis ini bisa berkembang dan mendapatkan tawaran untuk masuk ke Food Court yang ada di Jimbaran dan Kuta.” 

Dimsum yang dibuat oleh Luthfi dan Sisca ini merupakan aneka dimsum yang terdiri dari banyak varian, ada shumai, gyoza, hakau, springroll dan juga lainnya. Semua dimsum ini terbuat dari olahan daging ayam dan bumbu-bumbu dapur lainnya.

Satu hal yang menjadi ciri khas dari Dimsum Chika adalah Chili oil-nya. Kebanyakan dimsum yang berada di Bali hanya menggunakan saus sambal, tomat dan mayonnaise. Namun, Dimsum Chika dengan citarasa yang khas seperti dimsum yang berada di Hongkong ini, membuat sausnya sendiri yaitu Chili Oil. 

Chili Oil ini terbuat dari cabe kering, bawang putih dan juga bumbu lainnya tentu memberikan rasa pedas yang menggugah selera. Chili Oil pun menjadi popular hingga Dimsum Chika menjual dengan kemasan khusus 200ml bagi para pelanggan yang suka dengan minyak cabai ini. 

Pada awal tahun 2021, Dimsum Chika pun resmi memiliki kedainya sendiri di Jalan Raya Kuta, Jalan Merdeka II, Badung, Bali. Sisca pun memanggil salah satu pelukis Bali untuk menghias kedainya dengan salah satu simbol yaitu Lucky Cat (Kucing Keberuntungan) yang sangat besar di tembok yang menghadap ke jalan raya. Tak lupa dengan hiasan lampion merah, bunga sakura serta pohon bambu yang sangat identik dengan China Town. 

Dari mulut ke mulut, akhirnya banyak pelanggan baru yang datang untuk menikmati masakan rumahan ini. Hal tersebut menjadi motivasi bagi Sisca dan juga Luthfi untuk berinovasi dan membuat menu-menu baru, diantaranya yaitu Mie Ayam Bandung, Nasi Goreng Hongkong, Kwetiau, Dimsum Mentai dan juga Sate Taichan. 

Dimsum Mentai merupakan salah satu menu yang paling terfavorit di Dimsum Chika, 6 pcs Dimsum yang ditambahkan dengan saus mentai ala Jepang dan dibakar lalu diberikan taburan Katsuobushi (ikan cakalang yang berbentuk serutan kayu). Katsuobushi merupakan taburan unik yang bisa menari diatas sajian makanan, rasa dan baunya yang khas seperti ikan yang diasap tentunya sangat cocok untuk memberikan sensasi yang berbeda. 

Mie Ayam Bandung, sesuai dengan namanya, Bandung merupakan kota kelahiran Luthfi. Demi mengobati rasa rindunya terhadap kota Bandung selama pandemi ini, Luthfi-pun membuat Mie Ayam Bandung di Bali sebagai menu andalan sebagai pilihan untuk pengganti nasi. Selain mie, Nasi goreng Hongkong juga tak luput dari menu yang wajib dicoba. 

Sisca juga berkomitmen untuk membuat sustainable program dengan cara meminimalisir penggunaan kantong plastik sesuai dengan peraturan pemerintah daerah di Bali, mengganti sedotan plastik dengan sedotan yang terbuat dari beras yang dapat dimakan dan juga bisa terurai sendiri apabila dibuang ketanah sebagai bentuk dukungan terhadap bumi dan juga UMKM Bali.

Lalu, Dimsum Chika juga bekerjasama dengan salah satu seniman di Bali untuk membuat kerajinan tangan seperti gantungan kunci, dan juga anting-anting yang terbuat dari tutup botol plastik. Harga gantungan kunci telapak kaki kucing yang khusus dibuat dari tutup botol plastik ini dijual seharga Rp 20.000 dan sebagian dari hasilnya akan dibelikan makanan untuk kucing liar disekitar kedainya. Sisca juga membuat drop box untuk pengumpulan tutup botol tersebut agar tidak terbuang percuma dan dapat diolah kembali menjadi barang-barang yang bernilai. 

Hingga saat ini, Sisca dan Luthfi berharap keadaan Bali segera kembali seperti dulu, meski dengan kondisi yang terbatas sekalipun, semoga para pekerja hotel seperti mereka yang sedang dirumahkan, ataupun kehilangan pekerjaannya bisa tetap semangat dan tetap berusaha untuk kreatif dan juga saling bahu-membahu untuk mendukung satu dengan yang lainnya dengan cara berkolaborasi ataupun membuka usaha dengan modal minimal namun hasil yang cukup atau bahkan lebih untuk kebutuhan sehari-hari. Info/red