PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Kisah Sukses Adi Jadi Konselor Setelah 13 Tahun Bergelimang Narkoba

Adi konselor narkoba

Surabaya – “Saya kenal narkoba itu sejak tahun 2002 dan menjadi pemakai hingga tahun 2015,” tutur Adi membuka kisahnya.

Kondisi makin getir saat istri minta cerai, anak-anak dan teman pun menjauh. “Di mata keluarga, saya dianggap sampah yang tidak berguna lagi,” kenang pria asal Riau, Pekanbaru.

Hidup Adi pun berantakan seperti perubahan regresif dengan sulit berpikir jernih dan sering berkonflik, baik di kehidupan sosial maupun pribadi.

Kendati menyandang stigma negatif yang melekat pada diri Adi, keluarganya tidak menyerah dengan mengirim ke pusat rehabilitasi narkoba di Jawa Barat.

“Saat itu, saya melewati proses hampir satu tahun lalu pulang dan beberapa bulan kembali relapse atau kambuh,” terangnya.

Pada situasi relapse itu, Adi semakin tak bisa mengontrol pemakaian narkoba, sehingga kekacauan dalam segala sisi hidupnya semakin menjadi.

Keluarga kembali memasukan ke pusat rehabilitasi narkoba, namun sebelumnya Adi sempat merasakan dinginnya hotel prodeo akibat barang haram pada tahun 2016.

“Pada tanggal 16 November 2016, keluarga membuat keputusan terakhir untuk memasukkan saya ke Balai Rehabilitasi Galih Pakuan di Bogor,” ungkap Adi.

Begitu menginjakkan kaki di Galih Pakuan, gejolak penolakan dirasakan Adi sebab bapak dua anak ini belum menerima kenyataan bahwa ia harus direhabilitasi lagi.

“Saya merasa bukan ini (rehabilitasi) yang dibutuhkan, tapi ada hal lain yaitu dari lingkungan saya di luar,” kata Adi.

Berkat pendekatan sepenuh hati dari Pekerja Sosial dan Konselor Adiksi Balai “Galih Pakuan” perlahan tapi pasti kepercayaan diri Adi dan rasa kasih sayang yang telah sirna tumbuh dan bersemi.

Layanan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) yang diberikan kepada Adi mulai dari Asesmen Komprehensif untuk menyiapkan data masalah kebutuhan dan potensi yang ada dalam diri Adi, pendekatan motivasional untuk menanamkan pola pikir kepada Adi bahwa dia perlu pertolongan.

Adi juga menjalani terapi kelompok, konseling individual/tetapi individu, terapi mental spiritual dan yang tidak kalah penting adalah Therapeutic Community. Terapi-terapi ini berfungsi untuk meningkatkan keberanian berbicara dan terbuka tentang masalahnya.

Konsep terapi kelompok mampu merubah pola pikir Adi melalui pendekatan dengan menggunakan media kelompok, dalam membentuk sebuah frame berpikir bagi Adi bahwa dia mampu untuk bangkit menuju pulih, menata masa depan yang lebih baik. Sedangkan terapi individu berfungsi membentuk cara berpikir Adi agar mampu berperilaku positif.

Konsep self help menjadi kunci penting dalam proses pemulihan. Di setiap sesi terapi, baik Pekerja Sosial maupun Konselor Adiksi menekankan pentingnya optimalisasi potensi diri masing masing untuk menolong diri mereka dari kecanduan Napza. Ini pun berlaku untuk Adi.

Adi diberikan edukasi oleh Pekerja Sosial dan Konselor Adiksi tentang teknik-teknik pencegahan relapse ( relapse prevention ). Sesi ini sangat penting bagi Adi agar dia memiliki kemampuan untuk mengendalikan dirinya agar tidak kembali relapse.

Di tengah-tengah masa rehabilitasinya, Adi diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Adi pandai bermain musik. Tidak jarang Balai meminta bantuannya ketika ada acara-acara yang memerlukan pertunjukan musik. Ini juga yang membuat Adi semakin percaya diri.

“Berselang dua bulan pikiran mulai terbuka dan hati saya tersentuh dengan pendekatan konselor dan pihak-pihak terkait di Balai Galih Pakuan,” kenang Adi.

Energi positif dari Galih Pakuan yang dirasakan Adi adalah balai memberikan kesempatan untuk menggali potensi dirinya selama menjalani hari-hari rehabilitasi.

“Saya diberikan ruang mencari dan menggali potensi diri, termasuk kepercayaan mengemban tanggung jawab. Itulah yang tidak pernah didapatkan di lingkungan luar karena saya selalu diragukan,” ungkapnya.

Konsep terapi bagi Adi melalui metode pemulihan di Balai pada dasarnya mencakup penanaman pola berpikir positif dan pembentukan komitmen diri, sehingga selanjutnya akan termanifestasikan dalam bentuk perilaku positif, terlepas dari adiksi Napza, pulih, bertanggung jawab, mampu melakukan peran sosialnya, sehingga dapat membentuk pola interaksi yang baik dengan lingkungannya.

Kabar bahagia pun datang di akhir tahun 2017, ia dinyatakan selesai rehabilitasi karena hasil perkembangan yang memuaskan. Ia mulai berpikir untuk menjadi seorang konselor.

Keputusan menjadi konselor telah dipikirkan Adi secara matang. Ia diberi waktu beberapa hari untuk mengambil keputusan yang bersejarah dalam hidupnya.

“Saya ingin mengubah stigma negatif yang sudah melekat pada diri saya dan membuktikan kalau saya tidak seburuk yang mereka pikirkan,” tandas Adi.

Adi resmi menjadi konselor di Balai Residen “Galih Pakuan” Bogor pada tahun 2019 usai dua kali mengikuti rekrutmen dan kini lebih dari 20 Penerima Manfaat (PM) KPN yang ia tangani.

“Ada rasa bahagia ketika bisa melihat para PM kembali tersenyum, melihat mereka kembali pada kehangatan dan cinta kasih keluarga,” kata Adi.

Selain bisa bangkit dari keterpurukan dan membantu sesama eks KPN, ia berhasil merekatkan kembali hubungannya dengan keluarga yang sempat berantakan.

“Alhamdulillah saya dengan keluarga sudah membaik. Ibu saya bersyukur bisa berkomunikasi lagi, begitu juga anak-anak saya kembali menemukan sosok ayah yang pernah hilang kini kembali dan peduli,” jelas Adi.

Pesan Adi kepada siapa pun, khususnya para generasi muda bangsa agar jangan sekali-kali untuk mencoba dan menggunakan narkoba.

“Narkoba bukan jalan keluar, narkoba menjebak kita dalam masalah yang lebih besar. Tidak hanya merusak fisik, narkoba juga merusak hubungan sosial dan keluarga. Berhenti sekarang atau menyesal kemudian!,” tandas Adi.

Selama dua tahun terakhir, Adi mantap mengabdikan diri sebagai konselor Korban Penyalahgunaan NAPZA (KPN) di Balai Residen “Galih Pakuan” Bogor.info/red