PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Yadnya Kasada Doakan Alam Semesta

Probolinggo – Perayaan Yadnya Kasada masyarakat Tengger di kawasan Gunung Bromo digelar secara tertutup karena pandemi Covid-19, pada Jum’at dan Sabtu (25-26/6/2021). Kawasan wisata Gunung Bromo ditutup sampai tanggal 26 Juni pukul 24.00 WIB.

Suasana hening dan kesederhanaan memberikan hikmah, sejak dua tahun terakhir, masyarakat Tengger dapat lebih khusyuk dan sakral dalam melaksanakan ritual selamatan Kasada.

Bagi masyarakat Tengger ritual adat sebagai wujud rasa syukur dan bakti kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur. Begitu pula ritual selamatan Yadnya Kasada yang didalamnya berisi rangkaian doa meminta keberkahan, kemakmuran, keselamatan dan tolak balak jauh dari malapetaka.

Upacara sesembahan atau sesajen untuk Sang Hyang Widhi dan para leluhur, terutama Roro Anteng (Putri Raja Majapahit) dan Joko Seger (Putra Brahmana), cikal bakal Suku Tengger. Ritual Yadnya Kasada memperingati pengorbanan seorang Raden Kusuma, putra bungsu Joko Seger dan Roro Anteng.

Dalam upacara Kasada terdapat beberapa tahapan upacara yaitu Puja Purkawa, Manggala upacara, Ngulat umat, Tri Sandiya, Muspa, Pembagian Bija, Diksa Widhi dan penyerahan sesaji di kawah Bromo.

Proses berjalannya upacara Kasada dimulai pada Sadya Kala Puja dan berakhir sampai Surya Puja. Dimana tepat pada tengah malam masyarakat Tengger beramai-ramai menuju Gunung Bromo untuk menghantarkan korban suci sesajen berupa hasil ternak dan pertanian ke Pura Luhur Poten Agung.

Berikutnya, sesajen berupa sayuran, ayam dan uang yang dibawa ke atas untuk dilarung ke kawah sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh leluhur mereka.

Supoyo, selaku tokoh masyarakat Tengger yang juga selaku Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Probolinggo menuturkan, japa mantera yang diucapkan para Rama Dukun Pandita pada setiap ritual masyarakat Tengger terutama Yadnya Kasada, sejatinya adalah untuk mendoakan seluruh alam semesta yakni langit dan bumi.

“Memang dilakukan di kawasan Tengger, namun yang disebut para Rama Dukun Pandita adalah “lumahing bumi uripe langit” yang maknanya itu mencakup kepentingan seluruh alam dan semesta, bukan hanya diperuntukkan bagi masyarakat Tengger saja,” jelas Supoyo saat mendampingi pembuatan ongkek Desa Ngadisari, menjelang puncak Yadnya Kasada, Sabtu (26/7/2021) dini hari.

“Upacara sesembahan ini adalah wujud Bhakti kami kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur Tengger. Semoga dengan terselenggaranya salamatan Yadnya Kasada kali ini seluruh umat manusia dapat terhindar dari virus Corona dan pandemi Covid-19 segera diangkat dari bumi pertiwi,” imbuhnya.

Heningnya Yadnya Kasada semakin terasa ketika memasuki kawasan kaldera Gunung Bromo. Pasalnya saat ini bentang lautan pasir selalu terselimuti kabut yang cukup tebal. Praktis puncak ritual masyarakat Tengger yang sudah berlangsung sejak abad ke-14 tersebut seakan semakin tertutup oleh pekatnya kabut Bromo.

Namun suasana ini tidak sedikitpun menyurutkan tekad masyarakat Tengger, didorong rasa syukur dan keinginan untuk menggenapi janji kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur, setiap masyarakat Tengger rela mendaki kawah Bromo untuk melarung sesembahannya.

Hal ini diungkapkan oleh pasangan suami-istri Painah dan Supad, warga Dusun Cemoro Lawang Desa Ngadisari yang mengaku tak pernah absen mengikuti ritual Yadnya Kasada. Kali ini anaknya yang berusia dua tahun dibawanya serta untuk mengenalkan tradisi leluhurnya itu.

Painah mengatakan mengikuti ritual Yadnya Kasada ini yang paling penting bagi diri dan keluarganya adalah untuk mendapatkan Dunga/Dungo (doa) dari para Rama Dukun, supaya kedepan keluarganya mendapatkan berkah berupa keselamatan, kesehatan dan kesuburan hasil bumi.

“Kami ikhlas dan tidak pernah merasa rugi atas persembahan yang kami larung untuk Mbah Bromo, apalagi sudah dimantrai oleh para dukun kami. Semoga kami diparingi kesehatan, keselamatan dan rejeki yang banyak,” tandasnya. Dilansir dari probolinggokab.go.id info/red