PUSTAKALEWI NEWS

Progresif dalam Pemikiran, Pluralis dalam Pemberitaan

Noni Purnomo, Bos Blue Bird Yang Sukses Meniti Karir di Industri yang Didominasi Laki-laki

Jakarta – Dahulu, perempuan bisa bekerja di dunia yang diinginkan adalah sebuah kemewahan. Ada perjuangan untuk dapat menempuh pendidikan atau mendapatkan peluang untuk maju.

Namun, perlahan tapi pasti jalan serta kesempatan untuk perempuan meraih mimpi dan dan cita-citanya kini semakin terbuka lebar. Termasuk menggeluti profesi yang tadinya jarang dijalani oleh kaum perempuan.

Terbukanya peluang bagi perempuan salah satunya berkat sosok-sosok menginspirasi seperti Noni Purnomo. Dia adalah Presiden Direktur Blue Bird Group generasi ketiga.

Meski Blue Bird adalah perusahaan keluarga, Noni tidak begitu saja diberikan kursi tertinggi untuk memimpin perusahaan itu. Dia harus mendobrak berbagai gelas kaca untuk mencapai posisinya saat ini.

Noni kecil belajar dari neneknya Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, sang pendiri Blue Bird. Jika ada kesempatan, dia ikut terlibat proses pembangunan perusahaan burung biru itu yang terjadi di garasi rumahnya sendiri.

Noni bahkan sempat bekerja paruh waktu sebagai ‘tukang’ input data di Blue Bird saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Dia tidak membedakan dirinya untuk sama-sama belajar dan merintis dari bawah.

Untuk terus mengasah kemampuannya, Noni melanjutkan pendidikan tinggi dan mengambil jurusan Teknik Industri di University of Newcastle, Australia. Dia pernah menyampaikan bahwa pada saat dia berkuliah, tahun 1994, jurusan itu didominasi oleh laki-laki. Dia bahkan menjadi satu-satunya perempuan di angkatannya.

Saat kuliah, Noni belajar banyak tentang membentuk proses bisnis yang efisien. Dia merangkum pendidikannya dalam tesis tentang efisiensi di bengkel.

Lulus kuliah, dia mengasah jiwa bisnisnya dengan bekerja di Jakarta Convention and Exhibition Bureau. Di saat yang sama, Noni sekaligus menjadi pegawai di Blue Bird.

Tak berselang lama, dia kembali melanjutkan pendidikan Master di University of San Francisco, Amerika Serikat. Kuliahnya berfokus pada bidang finance dan marketing.

Tadinya, Noni tidak ingin kembali ke Jakarta. Namun, sang nenek lah yang memberikan inspirasi untuk memberikan kontribusinya di Tanah Air dan membantu keluarganya mengelola Blue Bird.

Memberdayakan perempuan

Saat mulai mengambil peran di Blue Bird, ada satu hal yang Noni sadari, bahwa industri ini begitu didominasi oleh laki-laki. Dia berpikir lebih jauh untuk memberdayakan dan meningkatkan peran perempuan. Tujuannya agar Blue Bird punya suara-suara baru serta menjadi lebih berwarna dari segi pemikiran dan strategi bisnis.

Noni kemudian merekrut mekanik perempuan satu-satunya di Blue Bird. Peluang untuk pengemudi perempuan semakin dibuka lebar, sekitar 120 pengemudi taksi perempuan bergabung di tahun kelima kehadirannya pada perusahaan itu.

Berkat tekad dan kecemerlangannya dalam berbisnis, karier Noni pun semakin menanjak. Tahun 2013, Noni dipercaya sebagai Direktur Utama Blue Bird Group. Tepat pada 22 Mei 2019, Noni diberikan amanah untuk menggantikan ayahnya Purnomo Prawiro sebagai Direktur Utama PT Blue Bird Tbk.

Dia mengaku bahwa sebagai CEO, Noni punya kebebasan lebih untuk menerapkan peraturan yang mendukung perempuan. Selain itu, dia juga punya kebebasan dalam menyetarakan peran perempuan dan laki-laki di perusahaannya.

Terinspirasi dari Sang Nenek

Kepemimpinan Noni banyak terinspirasi dari warisan falsafah yang ditinggalkan neneknya. Ia mengingat perkataan neneknya, hanya orang yang berbahagia lah yang dapat membahagiakan orang lain. Nilai ini disimpannya dalam menjalankan tugas.

Melewati Pandemi Covid-19, Noni dengan cepat membawa transformasi bagi Blue Bird. Dia menghidupkan aplikasi MyBlueBird tidak hanya sebagai aplikasi pemanggilan Blue Bird sebagai jasa transportasi, tetapi juga jasa pengiriman. Hanya dalam satu bulan, terciptalah fitur BirdKirim yang langsung dijalankan.

Noni juga mengedepankan kebersihan dan kesehatan bagi pengemudinya. Dia menerapkan pembayaran tanpa uang tunai untuk pembayaran penumpang, atau ketika pengemudi harus membayar bensin, membayar jalan tol, hingga membeli makanan.

Dia pun terus memastikan bahwa taksi-taksi yang beroperasi terjaga kebersihannya. Pengemudi pun diberikan tes kesehatan secara rutin.

Ketika program vaksinasi hadir di Indonesia, Noni menjadi yang terdepan untuk mendaftarkan karyawan serta pengemudinya. Ribuan pengemudi Blue Bird Group di Jakarta telah mengikuti vaksin pada awal Maret lalu.

Pada April menyusul pengemudi, karyawan, serta petugas lapangan dari Blue Bird Group Bali dan Lombok yang divaksin. Sebanyak 1.090 orang diikut sertakan dalam beberapa tahap. Perusahaannya bekerja sama dengan pihak Kepolisian dan Dinas Kesehatan setempat.

Hal tersebut dilakukan untuk menggerakan kembali perekonomian perusahaan. Bagaimana pun, ada lebih dari 200.000 orang yang menggantungkan nasib pada kebijakannya.

Ke depannya, Noni berencana untuk terus memajukan aplikasi Blue Bird, sehingga dapat bersaing pada pasar yang cenderung berubah ke arah pelayanan online. Berbagai inovasi pun sedang digodok untuk dimatangkan agar dapat segera diaplikasikannya.

Di antaranya Noni berpikir untuk bekerja sama dengan berbagai perusahaan sebagai moda transportasi pegawai kantor. Armada bus yang dimilikinya juga akan dimanfaatkan sebagai sarana antar jemput atau dibuka untuk penyewaan oleh masyarakat umum.

Kini, Noni melihat pandemi dengan optimis. Selalu ada peluang meski badai sedang menghantam. Ia yakin dapat membawa bisnisnya lebih maju dengan berbagai kolaborasi dan kerja sama yang diterapkan. Ambisinya hanya satu, membawa perusahaan untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat serta membawa keuntungan bagi segenap karyawannya.Info/red